Industri pariwisata Indonesia mencatat kinerja positif sepanjang Semester I 2026 di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pemerintah menilai tren ini menjadi penopang penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Staf Khusus Kementerian Pariwisata Apni Jaya Putra menyebut capaian enam bulan pertama tahun ini memperkuat optimisme terhadap pemulihan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pariwisata Indonesia tetap tumbuh solid di tengah berbagai tantangan global. Ini menjadi bukti bahwa pariwisata mampu menjadi salah satu penggerak utama ekonomi nasional,” kata Apni dalam keterangannya, Senin (10/8/2026).
BPS mencatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada Semester I 2026 mencapai 7,45 juta kunjungan.
Berdasarkan data BPS, jumlah kunjungan wisman pada Semester I 2026 tumbuh 5,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 630,41 juta perjalanan, atau meningkat 2,71 persen secara tahunan.
Tak hanya volume kunjungan, rata-rata belanja wisman juga naik. Pada Semester I 2026, pengeluaran rata-rata mencapai US$ 1.313 per kunjungan, atau tumbuh 6,36 persen dibandingkan Semester I 2025.
Menurut Apni, kombinasi kenaikan kunjungan dan belanja wisatawan memberi dorongan langsung ke berbagai lini usaha, mulai dari perhotelan, transportasi, kuliner hingga subsektor ekonomi kreatif.
Advertisement
Efek Berganda Pariwisata ke UMKM dan Daerah
Apni menilai meningkatnya pengeluaran wisatawan memperkuat efek berganda (multiplier effect) yang dirasakan masyarakat, terutama pelaku UMKM dan industri pariwisata di daerah.
“Semakin besar pengeluaran wisatawan, semakin besar pula multiplier effect yang dirasakan masyarakat, terutama pelaku UMKM dan industri pariwisata di daerah,” ujarnya.
Peningkatan aktivitas wisata tercermin pada geliat usaha pendukung, seperti restoran, transportasi lokal, pusat oleh-oleh, serta layanan lain yang terkait dengan perjalanan.
Tren positif juga terlihat dari tingkat hunian kamar hotel. Pada Semester I 2026, okupansi hotel mencapai 48,2 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 45,72 persen.
“Peningkatan okupansi hotel menunjukkan aktivitas pariwisata terus bergerak. Ini menjadi indikator bahwa kepercayaan masyarakat untuk melakukan perjalanan semakin membaik,” katanya.
Advertisement
Okupansi Hotel Naik dan Sumbangan ke Pertumbuhan
Kontribusi pariwisata turut tercermin pada kinerja ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Semester I 2026 tercatat sebesar 5,29 persen.
Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, pertumbuhan ekonomi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara yang ditopang sektor pariwisata mencapai 6,1 persen.
“Capaian ini menunjukkan bahwa pariwisata bukan hanya menjadi sektor pendukung, tetapi telah menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, kami optimistis tren positif ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun,” tutur Apni.
Ia mendorong sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat agar pariwisata semakin kompetitif serta menarik lebih banyak wisatawan.
“Momentum positif ini harus terus dijaga. Dengan kolaborasi yang kuat, pariwisata Indonesia akan semakin berdaya saing dan menjadi salah satu pilar utama menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.