Pelesiran Gratis Tanpa Bikin Dompet Menipis

Layanan bus wisata gratis ini dikelola oleh Transjakarta, yang mana menjadi salah satu alternatif untuk berkeliling kota tanpa biaya.

Auria Setiarum Cahayani
Pelesiran Gratis Tanpa Bikin Dompet Menipis
Potret bus double decker sebagai model bus wisata gratis kota Jakarta.

Yani (58), membagikan cara sederhanya untuk mengambil jeda di tengah hiruk-pikuk rumah tangganya di Jakarta pada Rabu (23/9). Siang hari itu, Yani memutuskan untuk berkumpul hangat bersama teman-teman sebayanya untuk berkeliling Jakarta dengan memanfaatkan transportasi Bus Wisata Gratis. Perjalanan itu dimulai Yani dari kediamannya di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Yani ditemani oleh dua temannya, Arum dan Siti. Mereka mengambil tempat duduk di lantai dua atas. Wajah mereka berseri-seri, lengkung bibir merekah, sementara sorot mata juga ikut tersenyum bersamaan dengan tawa yang mekar.

"Ingin jalan-jalan biar enggak stres di rumah, tapi juga enggak bikin dompet menipis. Pas tahu ada bus wisata gratis ini, langsung janjian sama teman-teman," ujar Bu Yani penuh antusias saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (23/9).

Pelesiran Manis dan Gratis

Bagi Yani dan kedua temannya, bus wisata ini adalah solusi mereka untuk rehat dari urusan rumah tangga. Tanpa pusing mengeluarkan biaya tiket, mereka sudah bisa menikmati perjalanan keliling kota Jakarta dengan fasilitas yang nyaman dan aman.

“Selain tertarik karena gratis, saya juga ingin menikmati tatanan kota Jakarta yang mengalami perkembangan dari masa ke masa. Bagi kami, cara ini adalah refreshing gratis sekalian momen menghangatkan persahabatan,” ujar Yani.

Layanan bus wisata gratis ini dikelola oleh Transjakarta, yang mana menjadi salah satu alternatif untuk berkeliling kota tanpa biaya. Penumpang cukup memproses kartu uang elektronik yang terintegrasi tanpa dikenakan tarif sepeser pun. Rute yang dilintasi juga cukup memanjakan mata dengan seduhan bangunan-bangunan ikonik kota Jakarta.

Sepanjang perjalanan, pendingin udara yang sejuk tak kalah sejuk dengan hangatnya tawa dan canda Yani dan teman-temannya. Tatapan seolah tak lepas dari kaca lebar kiri dan kanan. Ponsel mereka juga juga turut hadir memotret momen kebersamaan. Kabin bus tenang seolah menjadi ruang tamu berjalan tempat mereka berbagi cerita.

Nyaman Tanpa Terburu-buru

Menurut penuturan kondektur yang bertugas, skema waktu tunggu (headway) untuk setiap armada bus wisata ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Hal ini diterapkan guna menjaga keseimbangan alur keberangkatan (in dan out) agar armada tidak menumpuk di satu titik lokasi.

Namun Yani dan teman-temannya sama sekali tidak merasa keberatan. Mereka justru menikmati setiap jeda pemberhentian untuk menjelajahi spot-spot ikonik yang tak jauh dari halte.

“Mau tunggu 30 menit juga enjoy-enjoy saja, kan niatnya memang menikmati dan refreshing. Jadi sesekali saya juga turun untuk menikmati suasana sekitar bus sembari menghabiskan waktu tunggu,” kata Yani.

 

Rekomendasi