Penetrasi di Bawah 2%, Indonesia Re Pacu Kolaborasi Industri

Manfaatkan potensi pasar yang masih luas, Indonesia Re perkuat kerja sama dengan para mitra untuk ciptakan pertumbuhan industri yang sehat.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Penetrasi di Bawah 2%, Indonesia Re Pacu Kolaborasi Industri
Ilustrasi premi asuransi jiwa. (depositphotos.com/OlyPhotoStories)

Pasar asuransi nasional masih menyimpan potensi pertumbuhan yang sangat besar. Ditopang jumlah penduduk yang masif dan bonus demografi, industri asuransi dan reasuransi Indonesia punya ruang luas untuk memperbesar kontribusinya terhadap perekonomian nasional. 

Peluang ini menjadi sorotan utama PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re saat berdiskusi bersama 25 perusahaan ceding dan AON di Sumba, Nusa Tenggara Timur beberapa waktu lalu. Forum ini menjadi ruang strategis untuk merespons lanskap industri yang terus berubah.

Direktur Teknik Indonesia Re, Delil Khairat, menegaskan pentingnya membangun komunikasi yang lebih terbuka dan kolaboratif antarperusahaan di tengah dinamika pasar.

"Kami melihat dinamika industri saat ini sebagai ruang untuk terus berbenah dan mencari peluang pertumbuhan bersama. Tantangan yang ada justru mendorong kami untuk semakin memperkuat kolaborasi, meningkatkan kualitas pengelolaan risiko melalui pemanfaatan data dan teknologi, serta menghadirkan solusi reasuransi yang semakin relevan dan berkelanjutan bagi kebutuhan industri,” ujar Delil. 

Potensi pasar yang belum tergarap optimal menjadi alasan utama mengapa industri ini perlu berbenah. Angka penetrasi yang tergolong rendah justru dipandang sebagai sinyal positif untuk ekspansi bisnis secara sehat.

"Dalam beberapa tahun terakhir, penetrasi asuransi masih berada di bawah 2 persen. Artinya, ruang untuk bertumbuh masih sangat luas. Bagi kami, ini bukan hanya sebuah tantangan, tetapi juga peluang. Dengan memperkuat kapasitas, kualitas data, dan kolaborasi antara perusahaan asuransi dan reasuransi, kami optimistis industri dapat bergerak menuju pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan," tambah Delil.

Arah Strategi Menjelang Treaty Renewal 2027

 

Menghadapi upcoming Treaty Renewal 2027, Indonesia Re tetap konsisten mempertahankan arah kebijakan underwritingyang telah berjalan dalam tiga tahun terakhir. Fokus utamanya mencakup struktur treaty, pricing, akumulasi risiko, serta kerapian administrasi treaty yang diselaraskan dengan kondisi pasar dan kinerja tiap ceding company. 

Langkah disiplin ini dinilai krusial karena bisnis Treaty maupun Facultative sangat bergantung pada kemitraan jangka panjang (long-term relationship).

"Ke depan, kami tidak hanya melihat bagaimana mempertahankan bisnis yang sudah berjalan, tetapi juga bagaimana memastikan setiap portofolio dapat memberikan kontribusi yang optimal. Pendekatan yang lebih selektif, berbasis data dan analytics, akan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas portofolio sekaligus membuka ruang pertumbuhan baru," jelas Delil.

Langkah strategis berbasis data ini diharapkan mampu memperkuat fondasi kerja sama Indonesia Re dengan para ceding companies, sekaligus menghasilkan solusi reasuransi yang relevan bagi kebutuhan industri ke depan.

Rekomendasi