Kunjungan PM Thailand Perkuat Kerja Sama Ekonomi Indonesia Thailand, Target Perdagangan US$20 Miliar pada 2030

Kunjungan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul ke Indonesia memperkuat Kerja Sama Ekonomi Indonesia Thailand, menetapkan target perdagangan US$20 miliar pada 2030.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kunjungan PM Thailand Perkuat Kerja Sama Ekonomi Indonesia Thailand, Target Perdagangan US$20 Miliar pada 2030
Kunjungan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul ke Indonesia memperkuat Kerja Sama Ekonomi Indonesia Thailand, menetapkan target perdagangan US$20 miliar pada 2030. (AntaraNews)

Kunjungan resmi Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul ke Indonesia pada 3 Agustus 2026 menandai momen penting dalam hubungan bilateral kedua negara. Ini merupakan kunjungan resmi pertama PM Thailand ke Indonesia dalam 15 tahun terakhir, sekaligus kunjungan luar negeri perdana Anutin sejak menjabat sebagai perdana menteri ke-32 Thailand pada September 2025.

Pertemuan antara Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Anutin mengalihkan fokus hubungan bilateral Indonesia–Thailand menuju kerja sama yang lebih konkret. Salah satu hasil paling menonjol adalah penetapan target perdagangan bilateral sebesar US$20 miliar pada tahun 2030.

Target ambisius ini tertuang dalam Peta Jalan Kemitraan Strategis Indonesia–Thailand 2026–2030. Momentum ekonomi di balik kunjungan ini menunjukkan komitmen kuat kedua negara untuk memperdalam ikatan ekonomi dan strategis mereka di tengah lanskap global yang dinamis.

Target Perdagangan Bilateral US$20 Miliar pada 2030

Data perdagangan selama lima tahun terakhir menunjukkan bahwa target US$20 miliar pada 2030 sangat realistis dan sejalan dengan tren yang ada. Pada tahun 2021, perdagangan bilateral Indonesia–Thailand mencapai US$16,23 miliar, meningkat menjadi US$19,19 miliar pada tahun 2022. Angka tersebut kemudian sedikit menurun menjadi sekitar US$17,5 miliar pada tahun 2023 dan 2024. Namun, pada tahun 2025, perdagangan kembali tumbuh 1,35 persen secara tahunan menjadi US$17,67 miliar, menunjukkan pemulihan yang stabil.

Data dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) Indonesia menunjukkan bahwa total perdagangan bilateral mencapai US$9,80 miliar pada paruh pertama tahun 2026. Jika momentum ini terus berlanjut hingga akhir tahun, perdagangan Indonesia–Thailand pada tahun 2026 dapat mencapai hampir US$19,6 miliar.

Angka ini menempatkan kedua negara dalam jangkauan target US$20 miliar yang ditetapkan untuk tahun 2030. Peta jalan yang disepakati memberikan kerangka strategis yang kuat untuk mendukung pertumbuhan ini, memastikan Kerja Sama Ekonomi Indonesia Thailand terus berkembang.

Penekanan Defisit dan Peningkatan Ekspor Indonesia

Penguatan hubungan ini juga tercermin dalam perbaikan neraca perdagangan Indonesia. Data resmi dari Kemendag dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Indonesia secara konsisten mencatat defisit perdagangan dengan Thailand sejak tahun 2011. Defisit ini sebagian besar didorong oleh impor mesin dan produk otomotif dari Thailand. Defisit mencapai puncaknya pada rekor US$3,05 miliar pada tahun 2023. Namun, defisit tersebut menyempit secara signifikan menjadi US$2,02 miliar pada tahun 2024 dan turun lebih lanjut menjadi US$140,6 juta pada tahun 2025.

Penurunan defisit ini didorong oleh peningkatan ekspor Indonesia sebesar 13,73 persen secara tahunan. Ekspor Indonesia, yang dipimpin oleh minyak, batu bara, makanan laut, dan kertas, melampaui impor dari Thailand yang sebagian besar terdiri dari beras, mesin, dan suku cadang kendaraan. Untuk mempertahankan tren positif ini, Presiden Prabowo dan PM Anutin sepakat untuk memperkuat Komisi Perdagangan Bersama.

Komisi ini bertugas memperluas akses pasar dan mengurangi hambatan perdagangan antara kedua negara Asia Tenggara. Langkah ini krusial untuk memastikan keberlanjutan penguatan Kerja Sama Ekonomi Indonesia Thailand.

Perluasan Kerja Sama di Berbagai Sektor

Kemitraan yang diperkuat juga diiringi dengan inisiatif untuk mengembangkan sumber daya manusia. Indonesia dan Thailand menandatangani nota kesepahaman (MoU) tentang pendidikan, yang ditandatangani oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia Abdul Mu’ti dan Menteri Pendidikan Thailand Prasert Jantararuangtong. Kerja sama ini berfokus pada berbagi pengetahuan dan pertukaran pelajar sebagai investasi jangka panjang untuk pertumbuhan ekonomi masa depan.

Di bidang konektivitas, kunjungan Anutin menghasilkan kemajuan konkret dengan pembukaan rute penerbangan langsung baru antara Jakarta dan Bangkok, serta antara Denpasar dan Phuket. Presiden Prabowo menyambut baik rute-rute baru ini, menyatakan bahwa mereka akan membantu memperkuat hubungan antar masyarakat.

Anutin menambahkan bahwa rute tersebut akan menargetkan pariwisata kesehatan, acara MICE (Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions), dan pariwisata kapal pesiar. Segmen pasar bernilai tinggi ini diharapkan memberikan kontribusi signifikan dibandingkan pariwisata massal konvensional. Konektivitas yang diperluas juga didukung oleh sektor swasta melalui penandatanganan MoU pariwisata antara maskapai penerbangan Indonesia TransNusa dan Otoritas Pariwisata Thailand.

Dengan populasi gabungan hampir 350 juta orang, Indonesia dan Thailand memiliki potensi signifikan untuk memperluas investasi lintas batas. Hal ini didukung oleh pasar konsumen yang besar dan kelas menengah yang terus berkembang. Kedua negara ini berbagi ikatan ekonomi yang mendalam sebagai anggota pendiri ASEAN, dengan hubungan diplomatik sejak 7 Maret 1950.

Kemitraan mereka, yang ditingkatkan menjadi Kemitraan Strategis pada tahun 2025, kini diwujudkan melalui peta jalan 2026–2030 yang menargetkan area prioritas seperti ketahanan pangan, transisi energi, ekonomi digital, dan industri halal. Pendekatan komprehensif ini menempatkan Kerja Sama Ekonomi Indonesia Thailand berdampingan dengan hubungan keamanan dan sosial budaya.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kemitraan yang diperkuat antara kedua negara mengirimkan sinyal positif untuk stabilitas regional. Presiden Prabowo menggarisbawahi pentingnya kunjungan ini dalam membentuk peran strategis kedua anggota pendiri ASEAN, sementara Anutin menyoroti tanggung jawab bersama mereka sebagai pilar utama kemajuan regional.

Selain sektor ekonomi, Indonesia dan Thailand juga sepakat untuk memperkuat kerja sama keamanan, khususnya dalam memerangi kejahatan transnasional dan melindungi korban penipuan daring di wilayah perbatasan. Presiden Prabowo secara khusus menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Thailand atas fasilitasi repatriasi hampir 1.000 warga negara Indonesia dari pusat penipuan.

Dengan Komisi Perdagangan Bersama, peta jalan lima tahun, dan rute konektivitas yang diperluas, fondasi kemitraan Indonesia–Thailand kini berada pada pijakan yang lebih kokoh. Jika kedua negara dapat mempertahankan kinerja perdagangan yang kuat yang tercatat pada paruh pertama tahun 2026, target US$20 miliar untuk tahun 2030 tidak lagi hanya sekadar angka di atas kertas, tetapi tujuan yang realistis dan terukur.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi