Kasus Kebakaran Jakarta Tembus 1.216 hingga Agustus 2026, Ini Sebaran Wilayahnya

Sepanjang Jan–Ags 2026, 1.216 kebakaran terjadi di Jakarta. Agustus tertinggi, Jakarta Barat terbanyak. Bayu merinci sebaran dan penyebabnya.

Winda Nelfira
Oleh Winda Nelfira - Reporter
Kasus Kebakaran Jakarta Tembus 1.216 hingga Agustus 2026, Ini Sebaran Wilayahnya
Kebakaran Rumah di Kebayoran Lama

Kasus kebakaran di Jakarta meningkat pada pertengahan tahun. Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta mencatat total 1.216 kejadian sepanjang Januari hingga Agustus 2026, dengan Agustus menjadi bulan dengan kejadian terbanyak.

Dua bulan terakhir menyumbang hampir 4 dari 10 kejadian: 457 kebakaran terjadi pada Juli–Agustus atau sekitar 37,6 persen dari total delapan bulan. Jakarta Barat tercatat sebagai wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 368 kejadian atau 30,26 persen.

"Untuk kejadian kebakaran berdasarkan wilayah, Jakarta Barat sebanyak 368 kejadian, Jakarta Timur 299 kejadian, Jakarta Selatan 252 kejadian, Jakarta Utara 163 kejadian, dan Jakarta Pusat 134 kejadian," kata Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta Bayu Meghantara dalam keterangannya, Rabu (23/9/2026).

Gulkarmat mencatat tren kenaikan pada pertengahan hingga akhir periode pencatatan. Setelah 141 kejadian pada Juni, jumlahnya melonjak menjadi 217 pada Juli dan kembali naik menjadi 240 pada Agustus—tertinggi sepanjang 2026 untuk sementara.

"Kalau berdasarkan kejadian per bulan, Januari ada 129 kejadian, Februari 93, Maret 126, April 132, Mei 138, Juni 141, Juli 217, dan Agustus 240 kejadian," kata Bayu.

Kebakaran Paling Banyak Menimpa Perumahan

Dari sisi objek, bangunan perumahan menjadi yang paling sering terdampak dengan 358 kasus atau 29,44 persen. Berikutnya bangunan umum dan perdagangan, instalasi listrik luar gedung, serta sampah tercatat dominan pada jenis kejadian di periode ini.

"Kalau berdasarkan objek yang terbakar, bangunan perumahan 358 kejadian, bangunan umum dan perdagangan 230, instalasi listrik luar gedung 194, sampah 174, kendaraan 76, tumbuhan 62, lainnya 62, lapak 35, dan bangunan industri 25 kejadian," jelas Bayu.

Adapun dugaan penyebab, faktor listrik mendominasi dengan 649 kejadian atau 53,37 persen dari total insiden. Di bawahnya terdapat aktivitas membakar sampah dan kebocoran/instalasi gas, disusul kategori lainnya.

"Untuk dugaan penyebab, listrik sebanyak 649 kejadian, membakar sampah 171, gas 103, lainnya 100, kelalaian manusia 88, penyalaan sendiri 48, rokok 46, dan penyalaan kembali 11 kejadian," ujar Bayu.
Rekomendasi