Usai Identifikasi ABK, Basarnas Jelaskan Arah Pencarian 5 Jurnalis

Basarnas tak membuka kembali operasi SAR khusus usai identifikasi ABK Surakman. Pencarian dialihkan ke operasi kesiapsiagaan. Ini penjelasannya.

Rifqy Alief Abiyya
Oleh Rifqy Alief Abiyya - Reporter
Usai Identifikasi ABK, Basarnas Jelaskan Arah Pencarian 5 Jurnalis
Kepala Basarnas Mohammad Syafii saat jumpa pers pencarian korban tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 di Perairan Masalembo Laut jawa. (Liputan6.com/ Dok Ist)

Basarnas memastikan tidak membuka kembali operasi SAR khusus untuk mencari lima jurnalis dan kru kapal Arupadhatu 1 setelah salah satu ABK, Surakman, teridentifikasi. Pencarian tidak dihentikan, melainkan dialihkan ke pola operasi kesiapsiagaan yang berlangsung secara rutin.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menjelaskan, pola ini tidak lagi menghimpun seluruh kekuatan seperti pada operasi khusus sebelumnya. Penugasan diarahkan per sektor sesuai wilayah masing-masing.

Dalam skema kesiapsiagaan, Basarnas tetap menyebarkan informasi terkait keberadaan korban kepada nelayan, warga, serta kapal yang beraktivitas di perairan. Pemantauan juga dilakukan melalui stasiun radio pelayaran sebagai bagian dari kegiatan rutin.

"Jadi bukan operasi tidak dilaksanakan. Jadi operasi tidak dibuka secara khusus lagi, artinya menghadirkan seluruh kekuatan untuk melaksanakan operasi, itu enggak. Tapi operasi dialihkan ke operasi kesiapsiagaan atau operasi rutin yang diarahkan kepada wilayah-wilayah tertentu sesuai sektornya masing-masing," kata Syafii saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (23/9/2026).

"Jadi tidak sampai operasi khusus kita buka kembali dengan menghadirkan seluruh potensi, jadi tidak begitu," tuturnya.

Temuan Jenazah dan Evaluasi Basarnas

Menanggapi penemuan jenazah pria yang kemudian teridentifikasi sebagai Surakman, Syafii menegaskan hal itu bukan temuan baru. Jenazah yang dimaksud bahkan sempat dimakamkan sebelum proses identifikasi dilakukan.

Meski demikian, hasil temuan tersebut tetap menjadi bahan evaluasi untuk menakar kemungkinan dibukanya kembali operasi khusus. Menurut Syafii, operasi dapat dilaksanakan lagi jika ada peluang ditemukannya korban atau informasi signifikan dari unsur terkait.

Ia menambahkan, bila korban terbawa arus dalam jangka waktu tertentu, kajian ulang terhadap kemungkinan lokasi penemuan diperlukan dengan mempertimbangkan dinamika perairan.

Pertimbangan itu harus ditopang sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Salah satunya adalah masukan dari DVI Mabes Polri terkait kondisi struktur tubuh setelah berada di laut dalam durasi tertentu, yang dapat membantu memetakan potensi lokasi penemuan.

"Sehingga kalau kita kembangkan dalam operasi gabungan lagi juga artinya kalau dari hematnya Basarnas mungkin tidak efektif," jelas dia.

"Karena itu sebenarnya operasi tidak dihentikan kemarin, ini operasi dialihkan ke kesiapsiagaan," sambungnya.

Rekomendasi