Pasar domestik menunggu keputusan Bank Indonesia terkait suku bunganya. Keputusan BI mempertahankan akan menurunkan BI Rate bakal mempengaruhi laju pergerakan nilai tukar rupiah.
Untuk perdagangan hari ini, Kamis (3/4), nilai tukar rupiah diproyeksi masih cenderung melemah di level Rp 9.735 hingga Rp 9.755 per USD.
"Selain itu, pasar juga masih menunggu pengganti Menteri Keuangan Agus Martowardojo yang telah terpilih menjadi Gubernur Bank Indonesia untuk periode jabatan 2013-2018," ujar analis pasar uang Rahadyo Anggoro Widagdo kepada merdeka.com, Kamis (3/4).
Sementara itu, pelaku pasar masih menunggu keputusan tiga bank sentral, yaitu BOJ (Bank Sentral Jepang), BOE (Bank sentral Inggris) dan ECB (Bank Sentral Eropa) terkait penentuan suku bunga acuannya.
"BOJ hampir dipastikan akan melonggarkan kebijakannya, hal ini karena Gubernurnya Haruhiko Kuroda berjanji bakal melakukan kebijakan agesif untuk mencapai target inflasi 2 persen dan mengentaskan deflasi. BOE untuk bulan ini, mungkin masih mempertahankan kebijakannya. Tapi pertanyaannya, seberapa lama BOE mempertahankan suku bunganya," papar Rahadyo.
Sedangkan ECB, kata dia, juga dihadapkan pada masalah krisis ekonomi. ECB kemungkinan akan berupaya menenangkan pasar yang sedang resah dengan efek domino Siprus dan kondisi yang mulai krisis di Slovenia. "ECB kemungkinan akan mempertahankan rate, tetapi dengan tetap memberi jaminan kesiapan bertindak, melakukan apapun untuk menyelamatkan euro," imbuh Rahadyo.
Pada perdagangan kemarin, Rabu (3/4) rupiah dibuka di level Rp 9.725-9.743 dan akhirnya ditutup melemah ke level Rp 9.749-9.752.
"Saat ini rupiah cenderung melemah bahkan BI telah melakukan intervensi ke market untuk menahan pelemahan rupiah. Kondisi ini masih dipengaruhi oleh data inflasi Maret 2013. Bahkan Gubernur BI mendatang, Agus Martowardojo juga mengingatkan bahwa inflasi bulan Maret sudah menimbulkan kekhawatiran dan regulator perlu menerapkan kebijakan fiskal dan moneter yang tepat untuk mengendalikan inflasi ini," jelas Rahadyo.
Sentimen regional tidak terlalu banyak mempengaruhi pergerakan pasar valas khususnya USD dan rupiah karena pasar masih menunggu langkah ECB yang berupaya menenangkan pasar yang sedang resah soal memburuknya krisis, dan memastikan keamanan sistem perbankan pasca gejolak finansial Siprus.