Negara OPEC sepakat kurangi produksi lagi, harga minyak dunia naik

Sabtu, 28 Oktober 2017 11:30 Reporter : Saugy Riyandi
Negara OPEC sepakat kurangi produksi lagi, harga minyak dunia naik Ekplorasi Minyak. shutterstock

Merdeka.com - Harga minyak dunia berakhir naik pada perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB). Penyebabnya, produsen-produsen minyak utama menyatakan dukungan mereka untuk memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember, menambahkan USD 1,26 menjadi menetap di USD 53,9 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Desember, naik USD 1,14 menjadi ditutup pada USD 60,44 per barel di London ICE Futures Exchange.

Dikutip Antara, Sabtu (28/10), Arab Saudi dan Rusia sama-sama menyatakan dukungan mereka untuk memperpanjang kesepakatan global untuk mengurangi pasokan minyak selama sembilan bulan lagi.

OPEC dan mitra non-OPEC telah berjanji untuk mengurangi produksi sekitar 1,8 juta barel per hari sampai akhir Maret 2018, untuk mengurangi kelebihan pasokan global. Mereka diperkirakan akan membahas perpanjangan kesepakatan tersebut dalam sebuah pertemuan di Wina pada 30 November.

Harga minyak juga mendapat dukungan, setelah Bank Dunia memproyeksikan harga-harga komoditas global akan terus meningkat pada 2018, mengingat permintaan terus bertambah dan pemotongan produksi yang disepakati di antara eksportir minyak.

Dalam laporan prospek Pasar-pasar Komoditas (Commodity Markets Outlook), Bank Dunia memperkirakan harga minyak mentah akan naik menjadi USD 56 per barel pada 2018, dari 53 dolar AS tahun ini.

Permintaan dan pengekangan minyak yang kuat di negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan produsen-produsen non-OPEC menaikkan harga minyak, meski terjadi peningkatan dalam produksi minyak serpih AS.

Harga-harga untuk komoditas energi yang meliputi minyak, gas alam, dan batu bara diperkirakan akan tumbuh 4 persen pada 2018 setelah melonjak 28 persen tahun ini. Sementara harga-harga logam diperkirakan akan stabil pada 2018 setelah melonjak 22 persen tahun ini.

"Harga-harga energi pulih karena permintaan yang stabil dan penurunan persediaan, namun banyak tergantung pada apakah produsen minyak berusaha untuk memperpanjang pemotongan produksi," kata John Baffes, penulis utama laporan Bank Dunia tersebut. [sau]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini