Merawat Kepercayaan Dunia pada Manisnya Gula Kelapa Banyumas untuk Ekspor Global
Gula Kelapa Banyumas telah mendunia, namun menjaga kepercayaan pasar global membutuhkan lebih dari sekadar rasa manis. Kualitas, sertifikasi, dan kolaborasi menjadi kunci utama agar ekspor Gula Kelapa Banyumas terus berjaya.
Di balik manisnya gula kelapa asal Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang kini dinikmati konsumen di berbagai belahan dunia, tersimpan kerja keras ribuan penderes. Mereka setiap hari memanjat pohon kelapa demi meneteskan nira berkualitas tinggi, menjadi fondasi utama industri ini.
Kabupaten Banyumas telah lama menjadi jantung industri gula kelapa Indonesia, memasok sekitar 80 persen kebutuhan gula semut dunia dari wilayah Banyumas Raya. Dari kawasan ini, produk gula semut berhasil menembus pasar Asia, Eropa, Amerika Serikat, hingga Timur Tengah, menunjukkan potensi ekspor yang besar.
Namun, untuk mempertahankan posisi di pasar global, kepercayaan menjadi modal utama yang harus terus dijaga melalui kualitas produk, sertifikasi yang ketat, tata kelola yang baik, serta kolaborasi erat antar berbagai pihak terkait.
Menjaga Kualitas dan Sertifikasi sebagai Kunci Pasar Global
Dominasi Banyumas dalam pasokan gula semut dunia kembali ditegaskan melalui pelepasan ekspor gula kelapa kristal senilai 46.000 dolar Amerika Serikat. Ekspor ini diberangkatkan menuju Chicago, Amerika Serikat, dari pabrik PT Integral Mulia Cipta (IMC) di Desa Wiradadi, Kecamatan Sokaraja, yang mengolah hasil produksi petani lokal.
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menekankan bahwa mempertahankan pasar ekspor jauh lebih sulit dibandingkan membukanya. Ia mengenang pengalaman pahit ketika empat kontainer gula semut yang dikirim ke Jerman pada masa pandemi COVID-19 ditolak karena adanya campuran gula rafinasi. Persoalan ini bukan berasal dari penderes, melainkan diduga terjadi pada salah satu mata rantai perdagangan setelah produk dikumpulkan.
Peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bahwa satu kesalahan kecil dapat merusak kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, pembenahan koperasi, pengawasan rantai pasok yang ketat, serta penguatan sertifikasi organik menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi. Sertifikasi organik bahkan membawa manfaat ekonomi nyata, di mana anggota koperasi bersertifikat memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp5.000 per kilogram gula semut melalui skema CSR Premium dari pembeli di Eropa.
Tantangan Infrastruktur dan Regulasi untuk Keberlanjutan Ekspor
Meski demikian, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk mendukung ekspor Gula Kelapa Banyumas. Hingga kini, Banyumas belum memiliki laboratorium yang mampu menguji kemurnian gula semut sesuai standar internasional. Pengujian masih harus dilakukan di Eropa, yang memerlukan biaya lebih besar dan waktu lebih lama.
Bupati Sadewo mengusulkan pembangunan laboratorium berstandar internasional dengan investasi sekitar Rp8 miliar. Keberadaan laboratorium ini tidak hanya akan mempercepat proses ekspor, tetapi juga memperkuat kepercayaan pasar dan berpotensi menjadi sumber pendapatan asli daerah melalui layanan pengujian. Selain itu, keberlanjutan produksi juga menjadi perhatian, mengingat mayoritas penderes masih memanjat pohon kelapa tinggi dengan risiko kecelakaan kerja yang tinggi.
Pemerintah Kabupaten Banyumas mulai mendorong penanaman kelapa genjah yang lebih pendek, lebih aman dipanen, dan tetap produktif, dengan bantuan 10.000 bibit dari Kementan sebagai langkah awal regenerasi kebun kelapa. Dari sisi perdagangan, Kemendag juga menegaskan pentingnya kelengkapan dokumen seperti Surat Keterangan Asal (SKA). SKA membuktikan asal produk Indonesia, memungkinkan eksportir memperoleh tarif preferensi sesuai perjanjian dagang dengan negara tujuan, sehingga harga produk menjadi lebih kompetitif.
Kemudahan layanan SKA diperkuat dengan peresmian tujuh Instansi Penerbit Surat Keterangan Asal (IPSKA) baru, termasuk di Kabupaten Banyumas, menjadikan total 103 IPSKA di Indonesia. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, menyatakan bahwa kehadiran IPSKA mendekatkan layanan kepada eksportir dan UMKM, mendukung peningkatan ekspor gula kelapa, kayu lapis, dan minyak atsiri dari Banyumas. Tingkat pemanfaatan SKA oleh eksportir Indonesia telah mencapai 75,6 persen, dan sistem penerbitan SKA akan terus didigitalisasi untuk efisiensi.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Ekosistem Ekspor Terintegrasi
Penguatan ekspor Gula Kelapa Banyumas bukan hanya soal perdagangan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat. Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, meluncurkan Pilot Project Ekosistem Pemberdayaan Masyarakat Terintegrasi Berbasis Kawasan Ekspor di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Proyek ini menjadi model kolaborasi lintas sektor yang diharapkan mampu menghubungkan petani, koperasi, pelaku usaha, perguruan tinggi, lembaga riset, perbankan, hingga pemerintah dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Salah satu kebutuhan paling mendesak yang diidentifikasi adalah laboratorium pengujian organik lokal agar proses sertifikasi tidak lagi bergantung pada negara tujuan ekspor. Muhaimin Iskandar menegaskan, "Kita akan berusaha menghadirkan laboratorium khusus untuk mengontrol kualitas gula organik yang menjadi syarat ekspor di beberapa negara. Pemerintah akan terus hadir mencari jalan keluar agar siklus ekonomi dan ekosistem ekspor bekerja lebih produktif."
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Desa, Desa Tertinggal, dan Desa Tertentu Kemenko Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Haris, menjelaskan bahwa Cilongok dipilih sebagai lokasi percontohan karena memiliki potensi besar dengan sekitar 105.000 pohon kelapa dan produksi 12.000 ton gula kelapa setiap tahun. Potensi ini harus diperkuat melalui koperasi, ekonomi sirkular, pendampingan usaha, serta kolaborasi lintas kementerian dan perguruan tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dukungan juga datang dari Anggota Komisi VII DPR RI, Siti Mukaromah, yang menilai 28.000 hingga 29.000 penderes di Banyumas merupakan kekuatan besar. Gula kelapa atau brown sugar dinilai strategis sebagai alternatif pengganti gula rafinasi, mendukung ketahanan pangan nasional dan kemandirian ekonomi. Pengembangannya dapat dipadukan dengan potensi pertanian, UMKM, dan pariwisata berbasis ekosistem melalui program 1001 Sentra Pemberdayaan untuk Ketahanan Pangan yang dikembangkan Kemenko Pemberdayaan Masyarakat.
Rangkaian berbagai kebijakan ini menunjukkan bahwa menjaga kepercayaan pasar internasional pada Gula Kelapa Banyumas membutuhkan ekosistem yang utuh. Mulai dari penderes, koperasi, sertifikasi organik, laboratorium pengujian, layanan perdagangan, hingga dukungan pemerintah dan dunia usaha. Selama kepercayaan dunia terus dirawat, manisnya Gula Kelapa Banyumas akan tetap menjadi sumber kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
Sumber: AntaraNews