Ekonom Dorong Penguatan Kemandirian Ekonomi Indonesia di Tengah Pergeseran Global
Ekonom senior menyerukan pemerintah Indonesia menata ulang hubungan ekonomi dengan AS untuk memperkuat Kemandirian Ekonomi Indonesia di tengah lanskap geoekonomi multipolar, demi kepentingan nasional jangka panjang.
Ekonom Senior Pusat Kajian Keuangan, Ekonomi, dan Pembangunan Universitas Binawan, Farouk Abdullah Alwyni, mendorong pemerintah Indonesia untuk menata ulang hubungan ekonominya dengan Amerika Serikat. Langkah ini dinilai krusial guna memperkuat kemandirian strategi nasional di tengah sistem multipolar global yang terus berkembang.
Pernyataan ini disampaikan Farouk dalam keterangan tertulis di Jakarta pada Sabtu, 25 April. Ia menekankan bahwa momentum saat ini harus dimanfaatkan Indonesia untuk memantapkan posisinya sebagai negara berdaulat.
Indonesia diharapkan mampu menentukan arah kebijakan ekonominya sendiri tanpa ketergantungan berlebihan pada satu kekuatan ekonomi. Farouk menyoroti perubahan lanskap geoekonomi global sebagai pemicu utama rekomendasi ini.
Pergeseran Lanskap Geoekonomi Global dan Konsep "The World Minus One"
Farouk Abdullah Alwyni menjelaskan bahwa lanskap geoekonomi global saat ini menunjukkan tren peningkatan dorongan dari sejumlah pemimpin dunia untuk mengurangi ketergantungan terhadap Amerika Serikat. Fenomena ini menciptakan dinamika baru dalam hubungan internasional.
Kemandirian strategis ini mulai disuarakan secara nyata oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, yang bahkan menyiapkan skenario "the world minus one". Konsep ini menggambarkan upaya negara-negara untuk mandiri dari pengaruh dominan AS.
Langkah serupa juga terlihat di kawasan regional, seperti saat Menteri Perdagangan Malaysia Tengku Zafrul Aziz membatalkan sejumlah kesepakatan tarif dengan AS. Pembatalan ini menyusul putusan Mahkamam Agung negara tersebut yang menggugurkan kebijakan era Donald Trump.
Dinamika global juga memperlihatkan kecenderungan negara-negara Eropa dan Kanada untuk mengambil jarak strategis. Mereka memperluas kebijakan luar negeri secara independen, menandakan era baru dalam diplomasi global.
Diversifikasi Mitra Strategis Indonesia
Presiden RI Prabowo Subianto secara faktual telah merespons pandangan mengenai pergeseran geoekonomi ini melalui rangkaian kunjungan diplomatik. Sepanjang April 2026, Presiden Prabowo mengunjungi Jepang, Korea Selatan, Rusia, dan Prancis.
Kunjungan-kunjungan ini bertujuan untuk mendiversifikasi mitra strategis Indonesia di berbagai sektor. Farouk menilai pemerintah Indonesia perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap hubungan perdagangan dengan AS.
Ia menyarankan pengurangan ketergantungan struktural terhadap kebijakan ekonomi AS yang dinilai fluktuatif dan unilateral. Sebagai bentuk implementasi nyata penguatan kemitraan alternatif, Presiden Prabowo telah mengunjungi Moskow.
Kunjungan ke Moskow tersebut membahas kerja sama energi serta memperkuat posisi Indonesia dalam kerja sama Selatan-Selatan. Diplomasi ini dianggap strategis mengingat posisi Indonesia yang terus berupaya menjaga prinsip politik luar negeri bebas aktif tanpa terjebak rivalitas kekuatan besar.
Menjaga Kedaulatan Nasional dan Kepentingan Jangka Panjang
Farouk Abdullah Alwyni menegaskan bahwa langkah peninjauan kembali kesepakatan tarif dan pengkajian ulang kerja sama strategis bukan merupakan bentuk konfrontasi terhadap Amerika Serikat. Upaya ini harus dipandang sebagai refleksi.
Tujuan utamanya adalah untuk menjaga kedaulatan nasional dan memastikan posisi Indonesia sebagai negara mandiri. Indonesia berorientasi pada kepentingan jangka panjang dalam setiap kebijakan ekonominya.
Pembentukan poros kerja sama baru kini juga mulai terlihat di antara kekuatan non-Barat, terutama antara China, Rusia, dan Iran. Kerja sama ini mencakup sektor ekonomi, politik, hingga militer.
Perkembangan ini semakin memperkuat urgensi bagi Indonesia untuk memperkuat Kemandirian Ekonomi Indonesia. Dengan demikian, negara dapat menghadapi tantangan global dengan strategi yang lebih kokoh dan adaptif.
Sumber: AntaraNews