Astra Agro Targetkan 100% Ketertelusuran Rantai Pasok Sawit hingga 2024: Ini Inovasi Digitalnya
PT Astra Agro Lestari Tbk berkomitmen penuh pada **ketertelusuran rantai pasok sawit** hingga ke petani melalui inovasi digital. Penasaran bagaimana mereka mewujudkannya?
PT Astra Agro Lestari Tbk (Astra Agro) menegaskan komitmennya dalam menjaga transparansi dan ketertelusuran seluruh rantai pasokan sawit. Langkah ini mencakup hingga ke tingkat perkebunan, baik yang dikelola oleh petani swadaya maupun petani asosiasi. Perusahaan bertekad memastikan setiap sumber pasokan berasal dari praktik yang bertanggung jawab.
Komitmen ini sejalan dengan kebijakan keberlanjutan perusahaan yang berfokus pada peningkatan hasil produksi, efisiensi, dan inovasi. Astra Agro Lestari berupaya menciptakan ekosistem agribisnis yang inklusif dan berkelanjutan. Mereka ingin menunjukkan bahwa profitabilitas dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab lingkungan.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Astra Agro mengimplementasikan transformasi digital secara menyeluruh dalam operasionalnya. Berbagai teknologi canggih diterapkan untuk memantau dan mengelola perkebunan sawit secara terintegrasi. Hal ini dilakukan demi mencapai target 100 persen ketertelusuran TBS hingga akhir tahun 2024.
Inovasi Digital untuk Ketertelusuran Rantai Pasok Sawit
Upaya Astra Agro dalam menjaga ketertelusuran rantai pasok sawit diwujudkan melalui adopsi teknologi digital yang komprehensif. Transformasi digital ini bertujuan untuk mengintensifkan lahan sekaligus memperkuat praktik perkebunan yang berkelanjutan.
Salah satu inovasi utama adalah Plantation Information Management System (PIMS), sebuah sistem manajemen kebun berbasis data digital yang dikembangkan secara internal. PIMS mendukung pengelolaan operasional perkebunan sawit secara terintegrasi, akurat, dan realtime. Sistem ini mencakup seluruh kegiatan, mulai dari perkebunan, transportasi hasil panen, hingga pabrik pengolahan minyak sawit mentah (CPO).
Selain PIMS, perusahaan juga mengembangkan sistem terintegrasi lainnya seperti Astra Agro Mandiri Data Analytics (AMANDA) dan Digital Integrated Data Application (DINDA). Kedua sistem ini memungkinkan analisis produktivitas harian serta deteksi dini terhadap anomali operasional di kebun. Untuk memperkuat pemantauan lapangan, Astra Agro memanfaatkan drone monitoring dan digital field mapping berbasis citra satelit. Teknologi ini digunakan untuk memantau kondisi tanaman, mendeteksi area rawan, serta menjadwalkan pemeliharaan tanaman secara lebih presisi dan efisien.
Tidak hanya untuk penggunaan internal, perseroan mengembangkan aplikasi SISKA 2.0. Aplikasi ini merupakan sistem pelacakan berbasis aplikasi yang memungkinkan penelusuran tandan buah segar (TBS) hingga ke sumbernya. SISKA 2.0 dirancang untuk mempermudah transaksi TBS dari pihak ketiga, sekaligus meningkatkan transparansi dan efisiensi dalam rantai pasok sawit.
Memperkuat Komitmen Keberlanjutan dan Rantai Pasok yang Bertanggung Jawab
Presiden Direktur Astra Agro, Djap Tet Fa, menekankan bahwa fokus perusahaan tidak hanya pada peningkatan hasil produksi, tetapi juga pada efisiensi, inovasi, dan keberlanjutan jangka panjang. “Oleh karena itu kami berkomitmen menjaga kesinambungan dan efisiensi operasional di seluruh lini sekaligus menjaga ekosistem lingkungan di sekitarnya melalui sistem yang transparan dan memiliki ketertelusuran,” ujarnya.
Komitmen ini juga ditegaskan oleh Direktur Astra Agro Lestari, Bandung Sahari. Ia menyatakan bahwa digitalisasi pada sektor perkebunan memperkuat ekosistem agribisnis yang inklusif. Menurutnya, cakupan keberlanjutan kini semakin luas dengan tuntutan yang semakin beragam, termasuk dalam aspek rantai pasokan. Oleh karena itu, penting bagi Astra Agro untuk terus menunjukkan komitmen dengan memastikan bahwa seluruh sumber pasokannya berasal dari sumber yang bertanggung jawab.
Langkah-langkah yang diambil untuk memastikan hal tersebut meliputi penilaian risiko, penelusuran sumber pasokan, pemantauan, serta pemberian dukungan kepada para pemasok. Perusahaan bertekad menjaga transparansi dan ketertelusuran seluruh rantai pasokan hingga ke tingkat perkebunan, baik yang dikelola oleh petani swadaya maupun petani asosiasi, sesuai dengan Kebijakan Keberlanjutan.
Hingga akhir tahun 2024, Astra Agro konsisten menargetkan pencapaian 100 persen ketertelusuran TBS yang diperoleh dari semua kategori pemasok yang memasok ke pabrik milik sendiri. “Kami berharap pendekatan kolaboratif ini diharapkan mampu menciptakan rantai pasok sawit yang tangguh, transparan, dan bertanggung jawab,” tambah Bandung Sahari. Komitmen ini menunjukkan dedikasi Astra Agro terhadap praktik bisnis yang etis dan berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews