Tafsir Mimpi Meninggal Menurut Islam, Apakah Pertanda Buruk?
Simak tafsir mimpi meninggal menurut Islam berdasarkan penjelasan ulama berikut ini.
Secara alamiah tubuh membutuhkan waktu beristirahat dengan cara tertidur. Saat tidur, biasanya kita akan terbawa dalam situasi yang disebut fase bermimpi.
Isi dari mimpi umumnya dipengaruhi dari isi otak dan pikiran kita, namun terkadang juga menceritakan sesuatu yang ingin atau tidak ingin kita harapkan.
Salah satunya adalah melihat diri sendiri meninggal dunia. Tak heran jika kita bermimpi seperti itu maka akan membuat kita berpikir buruk dan khawatir akan hidup kita.
Namun pada dasarnya berbagai jenis mimpi itu memiliki arti tersendiri dan sejak dahulu telah dibahas secara rinci oleh para ulama yang mendalami dalam bidang tafsir mimpi.
Islam pun tidak memperkenan kita mencoba mencari tahu atau menerka-nerka sendiri apa makna mimpi tersebut. Namun kita bisa mencari tahunya lewat ulama dan ilmu agama.
Ketika seseorang bermimpi dirinya meninggal, ada enam perincian tafsir mimpi yang bisa dijelaskan, sebagaimana dirangkum dalam kitab at-Ta’bir fi ar-Ru’ya karya Abi Sa’id Nasr bin Ya’qub ad-Dinawari.
Berbagai macam tafsir mimpi tersebut diuraikan dari pendapat para ulama penafsir mimpi berdasarkan kaidah dan dasar dalam ilmu tafsir mimpi yang berlaku.
Lantas apa saja enam tafsir mimpi meninggal dunia menurut Islam? Melansir dari NU Online, Kamis (3/10) simak informasi berikut ini.
Buruk Menjalankan Agama Sampai Pengingat Taubat
Pertama, kondisi seseorang bermimpi dirinya meninggal dan ia menyaksikan tanda-tanda kematiannya seperti sakit, menangis, atau orang-orang bersedih.
Mimpi tersebut dapat ditafsirkan bahwa ia sedang dalam kondisi buruk dalam menjalankan ajaran agamanya. Tafsir mimpi ini dirujuk dari ayat:
أَوَ مَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ
Artinya: Apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan? (QS al-An’am: 122).
Para ulama tafsir Al-Qur’an mengartikan “orang yang sudah mati” dalam ayat di atas sebagai orang musyrik yang memiliki ajaran agama yang tidak benar.
Berdasarkan arti ayat di atas, saat seseorang mengalami mimpi dirinya mati dan disertai tanda-tanda kematiannya, maka hal tersebut berarti dirinya dalam keadaan tidak baik dalam menjalankan ajaran agamanya.
Kedua, apabila bermimpi dirinya meninggal, tapi tidak disertai tanda-tanda kematian sebelumnya. Hal itu menunjukkan arti bahwa dirinya akan memiliki umur yang panjang.
Ketiga, kondisi seseorang bermimpi dirinya telah meninggal lalu hidup kembali (mati suri). Mimpi tersebut menunjukkan bahwa ia telah melakukan dosa namun ia langsung bertaubat atas dosa tersebut. Tafsir mimpi ini berdasarkan ayat:
رَبَّنَآ أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا
Artinya: Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami (QS Ghafir: 11).
Pada ayat di atas kematian seseorang yang berkaitan dengan hidup kembali yang dialami oleh dirinya, berkaitan erat dengan pertobatan atau pengakuan terhadap dosa, maka mimpi mati lalu hidup kembali diarahkan pada makna sebagaimana ayat di atas.
Tanda Dzalim Sampai Diberi Kelancaran Hidup
Keempat, jika seseorang hanya bermimpi dirinya dalam keadaan sekarat. Maka mimpi tersebut menunjukkan kalau dirinya sedang menzalimi dirinya sendiri atau menzalimi orang lain. Tafsir ini berdasarkan ayat:
وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِى غَمَرَاتِ الْمَوْتِ
Artinya: Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut (QS Al-An’am: 93).
Pada ayat di atas, antara sifat zalim dan sekarat dihubung-hubungkan menjadi satu ayat, maka berdasarkan hal ini, para ulama tafsir mimpi mengartikan bahwa saat seseorang bermimpi ia dalam kondisi sekarat maka itu menunjukkan kalau dia sedang berbuat zalim.
Kelima, jika seseorang bermimpi dirinya meninggal dan ia mengetahui adanya orang-orang yang berkumpul di sekitarnya, atau melihat orang-orang menyiapkan alat mandi, kafan, keranda, dan lainnya.
Mimpi itu memiliki arti bahwa ia dalam keadaan buruk dalam menjalankan ajaran agamanya, namun ia berada dalam kondisi baik dalam hal duniawinya.
Keenam, jika seseorang bermimpi dirinya meninggal di atas tanah dalam keadaan tidak berpakaian apa pun (telanjang). Mimpi itu menunjukkan bahwa ia akan menjadi orang fakir miskin.
Jika ia meninggal di atas karpet atau permadani maka itu menunjukkan bahwa ia akan diberi kelapangan dalam urusan dunia.
Jika ia meninggal di atas dipan atau ranjang (arab: sarir) maka itu menunjukkan ia akan diberi kenaikan pangkat atau derajat yang luhur (Abi Sa’id Nasr bin Ya’qub ad-Dinawari, at-Ta’bir fi ar-Ru’ya, juz 2, hal. 520-521).