Diterpa Cuaca Tak Menentu, Pohon Rambutan Alami Stres dan Gagal Berbuah
Ternyata, fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Penyebab utamanya adalah anomali cuaca ekstrem.
Jika Anda menyadari suasana akhir tahun 2025 ini terasa berbeda karena absennya warna merah menyala dari pedagang rambutan di pinggir jalan, Anda tidak sendirian. Buah yang biasanya membanjiri pasar pada bulan November hingga Desember ini mendadak langka.
Ternyata, fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Penyebab utamanya adalah anomali cuaca ekstrem yang membuat pohon-pohon rambutan mengalami stres fisiologis sehingga gagal memproduksi buah.
Hal tersebut terungkap dalam sebuah analisis yang diunggah oleh akun TikTok @jenewainspirasi. Akun tersebut menyoroti bahwa perubahan pola hujan telah mengacaukan siklus alami tanaman.
Gara-Gara 'Kemarau Basah'
Faktor pemicu utamanya adalah fenomena "kemarau basah", yakni musim kemarau yang tetap diwarnai intensitas hujan tinggi. Padahal, pohon rambutan secara alami membutuhkan periode kering (kemarau) selama 1 hingga 2 bulan. Periode kering ini penting untuk memberikan "stres yang baik" pada pohon guna merangsang proses pembungaan.
"Namun frekuensi hujan yang tinggi membuat pohon terus tumbuh daun (vegetatif) dan gagal memunculkan bunga," tulis akun @jenewainspirasi, dikutip Jumat (12/12).
Akibat pasokan air yang berlebihan, energi pohon habis digunakan untuk memproduksi daun baru, bukan untuk pembuahan.
Bunga Rontok Dihajar Hujan
Bagi sebagian kecil pohon yang berhasil berbunga, tantangan berikutnya datang dari cuaca ekstrem di akhir tahun. Hujan lebat disertai angin kencang membuat bunga-bunga rambutan rontok atau membusuk sebelum sempat menjadi pentil buah.
Selain itu, kondisi udara yang terlalu lembap juga menyulitkan serangga penyerbuk untuk terbang, sehingga proses penyerbukan alami menjadi tidak maksimal.
Panen Anjlok hingga 80 Persen
Dampak nyata dari cuaca tak menentu ini dirasakan langsung oleh para petani di sentra produksi seperti Subang, Binjai, dan Bogor. Laporan lapangan mencatat penurunan hasil panen yang sangat drastis, mencapai 80 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Buah yang muncul pun banyak yang kecil dan rasanya kurang manis karena kelebihan air. Inilah yang membuat rambutan terasa 'hilang' di mana-mana," jelas akun tersebut.
Kelangkaan pasokan ini tak pelak membuat harga rambutan di pasaran melonjak tajam, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa perubahan iklim kini telah mengganggu ketersediaan pangan lokal.
Reporter magang : Muhammad Naufal Syafrie