Banyak Santap Hidangan Bersantan saat Lebaran? Waspadai Ciri-ciri Darah Tinggi Naik
Berikut ciri-ciri darah tinggi naik yang perlu diwaspadai.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup umum ditemui di masyarakat. Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi ketika tekanan darah dalam pembuluh arteri meningkat secara kronis melebihi batas normal.
Tekanan darah normal pada orang dewasa adalah di bawah 120/80 mmHg. Seseorang dinyatakan mengalami hipertensi jika tekanan darahnya berada pada angka 130/80 mmHg atau lebih tinggi secara konsisten.
Hipertensi sering disebut sebagai “silent killer” karena biasanya tidak menimbulkan gejala yang jelas hingga sudah mencapai tahap lanjut. Namun sayangnya, banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka mengalami hipertensi karena gejalanya yang sering kali tidak terlihat.
Padahal jika dibiarkan, hipertensi dapat memicu berbagai komplikasi serius. Oleh karena itu, penting untuk mengenali ciri-ciri orang darah tinggi agar bisa segera ditangani dengan tepat.
Apa saja ciri-ciri darah tinggi naik yang perlu diwaspadai? Melansir dari berbagai sumber, Selasa (1/4), simak ulasan informasinya berikut ini.
Penyebab Hipertensi
Penyebab hipertensi dapat dibagi menjadi dua kategori utama:
1. Hipertensi Primer (Esensial)
Ini adalah jenis hipertensi yang paling umum, mencakup sekitar 90-95% kasus. Penyebabnya tidak diketahui secara pasti, namun beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi primer antara lain:
- Faktor genetik dan riwayat keluarga
- Usia (risiko meningkat seiring bertambahnya usia)
- Jenis kelamin (pria lebih berisiko di usia muda, wanita lebih berisiko setelah menopause)
- Obesitas atau kelebihan berat badan
- Gaya hidup tidak sehat (kurang aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang)
- Konsumsi garam berlebihan
- Kebiasaan merokok
- Konsumsi alkohol berlebihan
- Stres yang berkepanjangan
2. Hipertensi Sekunder
Jenis hipertensi ini disebabkan oleh kondisi medis lain atau efek samping obat-obatan tertentu. Beberapa penyebab hipertensi sekunder meliputi:
- Penyakit ginjal kronis
- Gangguan kelenjar adrenal (seperti sindrom Cushing atau feokromositoma)
- Gangguan tiroid
- Penyempitan arteri ginjal (stenosis arteri renalis)
- Obat-obatan tertentu (seperti pil KB, obat flu, dekongestan, steroid)
- Konsumsi obat-obatan terlarang
- Gangguan pernapasan saat tidur (sleep apnea)
- Kehamilan (preeklampsia)
Gejala dan Ciri-Ciri Darah Tinggi
Meskipun hipertensi sering tidak menimbulkan gejala yang jelas, ada beberapa tanda dan ciri yang perlu diwaspadai sebagai indikasi kemungkinan seseorang mengalami tekanan darah tinggi:
- Sakit kepala: Terutama di bagian belakang kepala atau tengkuk, sering terjadi di pagi hari
- Pusing atau vertigo: Sensasi berputar atau kehilangan keseimbangan
- Penglihatan kabur: Gangguan penglihatan akibat pembuluh darah di mata yang terpengaruh
- Telinga berdenging (tinnitus): Suara berdengung atau berdesing di telinga
- Mimisan: Pendarahan dari hidung yang terjadi secara spontan
- Sesak napas: Kesulitan bernapas terutama saat beraktivitas
- Nyeri dada: Rasa tidak nyaman atau tekanan di dada
- Detak jantung tidak teratur: Jantung berdebar-debar atau ritme yang tidak normal
- Kelelahan: Merasa lemah dan mudah lelah meski tidak melakukan aktivitas berat
- Keringat berlebih: Berkeringat lebih banyak dari biasanya tanpa sebab yang jelas
- Wajah kemerahan: Terutama di area pipi dan leher
- Gelisah: Perasaan cemas atau tidak tenang yang tidak biasa
- Sulit tidur: Insomnia atau kualitas tidur yang menurun
Penting untuk diingat bahwa gejala-gejala di atas tidak selalu berarti seseorang mengalami hipertensi. Gejala tersebut bisa juga disebabkan oleh kondisi lain. Namun jika Anda mengalami beberapa gejala tersebut secara konsisten, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter untuk evaluasi lebih lanjut.
Pada kasus hipertensi yang sudah parah atau krisis hipertensi, gejala yang muncul bisa lebih berat seperti:
- Sakit kepala yang sangat parah dan tiba-tiba
- Kebingungan atau perubahan kesadaran
- Penglihatan ganda atau kehilangan penglihatan
- Mual dan muntah
- Kejang
- Nyeri dada yang hebat
- Sesak napas yang parah
Jika mengalami gejala-gejala tersebut, segera cari bantuan medis karena bisa mengindikasikan kondisi darurat yang mengancam jiwa.
Pengobatan Hipertensi
Pengobatan hipertensi bertujuan untuk menurunkan tekanan darah ke tingkat yang aman dan mencegah komplikasi. Pendekatan pengobatan biasanya melibatkan kombinasi perubahan gaya hidup dan pengobatan medis. Berikut adalah beberapa metode pengobatan hipertensi:
1. Perubahan Gaya Hidup
Modifikasi gaya hidup merupakan langkah pertama dan penting dalam penanganan hipertensi. Beberapa perubahan yang disarankan meliputi:
- Mengurangi asupan garam (tidak lebih dari 5 gram per hari)
- Mengadopsi pola makan sehat seperti DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) yang kaya akan buah, sayuran, dan produk susu rendah lemak
- Meningkatkan aktivitas fisik (minimal 30 menit olahraga sedang 5 kali seminggu)
- Menurunkan berat badan jika kelebihan
- Berhenti merokok
- Membatasi konsumsi alkohol
- Mengelola stres dengan teknik relaksasi atau meditasi
2. Pengobatan Farmakologis
Jika perubahan gaya hidup tidak cukup untuk mengontrol tekanan darah, dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan. Beberapa jenis obat yang umum digunakan untuk mengobati hipertensi antara lain:
- Diuretik: Membantu ginjal mengeluarkan kelebihan air dan garam
- ACE inhibitor: Mengurangi produksi hormon yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah
- ARB (Angiotensin Receptor Blocker): Mencegah penyempitan pembuluh darah
- Calcium Channel Blocker: Melemaskan otot pembuluh darah
- Beta-blocker: Memperlambat detak jantung dan mengurangi output jantung
- Alpha-blocker: Melemaskan otot di sekitar pembuluh darah kecil
Pemilihan obat akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, termasuk usia, tingkat keparahan hipertensi, dan ada tidaknya penyakit penyerta.
3. Pengobatan Hipertensi Resisten
Dalam beberapa kasus, tekanan darah mungkin tetap tinggi meskipun sudah menggunakan tiga jenis obat berbeda. Kondisi ini disebut hipertensi resisten. Penanganannya mungkin melibatkan:
- Evaluasi ulang penyebab hipertensi
- Penyesuaian dosis atau kombinasi obat
- Penambahan obat spesifik lainnya
- Pertimbangan prosedur invasif seperti denervasi ginjal atau stimulasi baroreseptor
4. Pengobatan Hipertensi Sekunder
Jika hipertensi disebabkan oleh kondisi medis lain (hipertensi sekunder), pengobatan akan difokuskan pada mengatasi penyebab utamanya di samping mengontrol tekanan darah.
5. Pemantauan dan Evaluasi Berkala
Pengobatan hipertensi memerlukan pemantauan dan evaluasi rutin. Pasien perlu melakukan pemeriksaan tekanan darah secara teratur dan berkonsultasi dengan dokter untuk menilai efektivitas pengobatan dan melakukan penyesuaian jika diperlukan.