Sisi Gelap Ilmuwan Legendaris yang Tak Banyak Orang Tahu, Jenius tapi Kejam dan Licik
Ilmuwan ini memang terkenal jenius, namun ia adalah orang yang kejam.
Tak semua ilmuwan besar adalah sosok panutan. Di balik penemuan revolusioner dan penghargaan prestisius, tersembunyi kisah kelam penuh intrik, tipu daya, bahkan kekejaman.
Artikel yang dikutip dari PopularScience, Selasa (22/7) ini mengungkap sisi gelap lima tokoh ilmuwan terkenal yang, meski berkontribusi besar pada ilmu pengetahuan, menyisakan jejak kontroversial yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi hingga hari ini.
1. Thomas Edison: Penyiksa Hewan Demi Ego
Di tahun 1884, Nikola Tesla yang baru pindah ke New York bertemu Edison—ikon listrik arus searah (DC). Tesla meyakini bahwa listrik arus bolak-balik (AC) lebih unggul dan mengusulkan pengembangan motor berbasis AC. Alih-alih mendukung, Edison menertawakan ide itu dan menjanjikan $50.000 jika Tesla bisa memperbaiki generator DC miliknya.
Tesla berhasil. Tapi saat menagih janji, Edison hanya menjawab, "Kalau kau sudah jadi orang Amerika sejati, kau akan paham lelucon orang Amerika." Tesla mundur, dan perang pun dimulai.
Ketika George Westinghouse membeli paten AC dari Tesla, Edison melancarkan kampanye hitam kejam untuk menjatuhkan teknologi saingan. Ia bahkan menyelenggarakan eksekusi hewan secara publik—anjing, kucing, sapi, hingga gajah—menggunakan arus AC, hanya untuk membuktikan AC berbahaya.
Puncaknya, Edison turut mendorong penggunaan arus AC dalam kursi listrik eksekusi pertama di New York tahun 1890. Hasilnya? Proses penyiksaan selama 8 menit yang brutal dan gagal membunuh dalam sekali sambaran. Meski begitu, publik akhirnya tetap memilih AC karena efisiensi jarak distribusinya. Edison pun akhirnya mengakui kekalahan menjelang akhir hidupnya.
2. Richard Owen: Ilmuwan Tukang Sikut
Paleontolog asal Inggris ini dikenal sebagai orang yang menciptakan istilah “dinosaurus.” Namun, julukan lain juga melekat padanya: “arogan, pendendam, dan rakus pujian.” Rivalitasnya dengan Gideon Mantell, sesama peneliti fosil, berubah jadi drama ilmiah yang pahit.
Owen kerap menjiplak karya Mantell tanpa memberi kredit. Ketika Mantell menyanggah kesalahan ilmiah Owen di Royal Society, Owen membalas dengan serangan pribadi. Bahkan saat Mantell dinominasikan untuk penghargaan ilmiah, Owen mencoba menggagalkannya.
Korban lain kesombongannya adalah Charles Darwin dan Thomas Huxley. Owen secara anonim menulis kritik tajam terhadap teori evolusi Darwin dan berusaha menyabotase reputasi keduanya.
3. William Shockley: Si Penjiplak dan Rasis
Shockley adalah salah satu “bapak transistor” dan penerima Nobel Fisika 1956. Namun rekan kerjanya menyebut dia sebagai penumpang gelap. Dua koleganya, John Bardeen dan Walter Brattain, sebenarnya yang menciptakan transistor pertama pada 1947. Tapi Shockley marah namanya tak masuk paten, dan memaksa Bell Labs menyertakannya. Padahal, menurut laporan media, ia tak pernah menyentuh alat tersebut sama sekali.
Setelah mendapat ketenaran, ia malah menjadi diktator di perusahaan semikonduktor miliknya. Ia memecat dan merendahkan pegawai dengan seenaknya, hingga delapan orang mundur dan mendirikan Intel.
Lebih parah, di masa tuanya, ia gencar menyuarakan ide rasis dan eugenik. Ia percaya ada ras yang secara genetis lebih unggul. Akibat pandangan ekstremnya, Shockley dijauhi komunitas ilmiah dan meninggal dalam keterasingan pada 1989.
4 & 5. Isaac Newton vs Gottfried Leibniz: Perang Kalkulus
Keduanya dikenal sebagai penemu kalkulus. Tapi di balik persamaan itu tersimpan permusuhan berdarah dingin.
Newton lebih dulu meneliti kalkulus, namun tidak mempublikasikannya segera. Sementara Leibniz, yang sempat mengakses karya Newton lewat perantara, kemudian menerbitkan versinya di tahun 1684 tanpa menyebut kontribusi Newton.
Perselisihan pun pecah. Para pendukung Newton menuduh Leibniz menjiplak. Newton, sebagai presiden Royal Society, bahkan menulis laporan yang memojokkan Leibniz—tanpa menyebut dirinya sebagai penulis.
Leibniz sempat mencoba membela diri, tapi tak banyak yang berpihak padanya. Newton kemudian menyebarluaskan laporan dalam berbagai bahasa, memastikan dunia tahu bahwa dialah penemu sejati kalkulus.
Meski hari ini ilmuwan sepakat keduanya punya kontribusi penting, perseteruan mereka mencerminkan betapa persaingan intelektual bisa berubah jadi dendam pribadi yang berlarut-larut.
Kisah-kisah di atas mengingatkan kita bahwa jenius tak selalu berarti berhati mulia. Sebagian dari ilmuwan terbesar dalam sejarah juga pernah memanipulasi, menyiksa, dan menjatuhkan rekan sendiri demi pengakuan.
Prestasi mereka mungkin tetap dikenang, tapi sisi kelamnya tak bisa begitu saja dihapus dari sejarah. Karena pada akhirnya, kebaikan karakter tetaplah pencapaian tertinggi—bahkan lebih penting dari penemuan terbesar sekalipun.