Pemerataan Akses atau Kecepatan Internet, Mana yang Jadi Fokus Pemerintahan Baru?
Pemerataan dan kecepatan internet masuk dalam visi Indonesia Digital 2045.
Direktur Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal mengatakan, pemerintah harus bisa menjalankan dua agenda besar di sektor telekomunikasi secara pararel. Pasalnya dua program tersebut begitu dibutuhkan bagi masyarakat dan industri. Kedua agenda itu ialah pemerataan akses dan kecepatan internet terutama akselerasi 5G.
“Menurut saya dua-duanya perlu dilakukan. Saat ini pemerintah sudah punya program BAKTI, misalkan pemerataan 4G terutamanya. Tapi kita masih lihat kebutuhan untuk 5G itu juga ada,” ungkap Ronni di Jakarta, Rabu (23/10).
Hal itu, lanjut dia, sejalan dengan visi Indonesia Digital 2045. Di mana infrastruktur digital menjadi fondasi penting untuk mencapai cita-cita tersebut.
“Jadi sekali lagi kita lihat dari visi Indonesia Digital 2045. Digital infrastructure adalah fondasi. Digital infrastruktur menjadi enabler untuk aplikasi-aplikasi use cases yang memanfaatkan nanti gen AI, cloud computing, blockchain, dan lain-lain,” ujar dia.
Maka itu, mendorong akselerasi jaringan 5G menjadi hal yang utama. Sebab, banyak sekali contoh penerapan 5G yang bisa dimanfaatkan. Namun sayangnya, tidak bisa dilakukan lantaran belum maksimalnya penggelaran 5G di Indonesia.
“Jadi saya tetap merasa bahwa percepatan 5G itu perlu, karena untuk memperkuat infrastruktur digital Indonesia. Teknologi-teknologi baru itu akan bisa berfungsi maksimal ketika teknologi 5G itu diimplementasikan maksimal,” jelasnya.
Hal senada juga dikatakan Direktur Eksekutif ICT Insitute, Heru Sutadi. Kata dia, pemerataan dan kecepatan internet jangan dipisah-pisahkan. Keduanya adalah kesatuan yang harus dikerjakan bersama-sama.
“Masalah pemerataan dan kecepatan itu ya memang harus dilakukan secara paralel gitu ya. Kalau pemerataan itu kan memang masih ada 20 persen dari wilayah 3T (Terluar, Tertinggal, Terdepan-red) yang belum mendapatkan internet dengan bagus gitu ya, bahkan juga masih blank spot. Sementara kecepatan rata-rata internet kita kan juga masih rendah, masih 25 Mbps,” terang Heru.
Walaupun harus diakui untuk peningkatan kecepatan rata-rata internet membutuhkan waktu. Ini tidak lepas dari keberadaan perubahan teknologi maupun penambahan teknologi gitu ya.
“Kita tidak hanya bicara teknologi 5G, tapi juga kita bisa multi teknologi gitu ya. Jadi mungkin untuk aksesnya yang seluler bisa 5G, bisa juga kita menggunakan kabel serat optik, fiber to the home. Termasuk memanfaatkan layanan satelit, jadi memang bisa dilakukan dengan multi teknologi. Karena memang masing-masing teknologi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya,” jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyebut pihaknya akan memfokuskan pada kerja-kerja merealisasikan aspirasi masyarakat yang ia tampung selama menjadi Komisi I DPR RI, seperti keamanan digital dan judi online.
“Karena saya perempuan, saya juga akan menambahkan bagaimana internet ramah anak dan pembenahan ruang digital. Kemudian dalam waktu dekat, saya bersama dengan Wakil Menteri akan ke daearh 3T terutama timur Indonesia. Kita akan memerika koneksi internet di sana. Internet harus cepat dan merata. Sebagaimana diketahui, 98 persen koneksi internet merata tapi belum cepat,” jelas dia.