Nilai Pasar IoT RI Diproyeksi Rp673 Triliun, Tumbuh 14,7 Persen per Tahun
ASIOTI memperkirakan 678 juta perangkat IoT beredar di Indonesia pada 2025 dengan nilai pasar Rp673 triliun. Industri tumbuh 14,7 persen per tahun.
Perkembangan Internet of Things (IoT) di Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan, baik di sektor konsumen maupun korporasi. Asosiasi IoT Indonesia (ASIOTI) memperkirakan jumlah perangkat IoT yang beredar di Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 678 juta unit.
Nilai pasar IoT nasional diproyeksikan menyentuh US$40 miliar atau sekitar Rp673 triliun. Industri ini juga diprediksi tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) 14,7 persen, dengan potensi jumlah perangkat menembus 800 juta unit dalam beberapa tahun mendatang.
Ketua ASIOTI periode 2022–2025, Teguh Prasetya, menyampaikan bahwa asosiasi sejak awal berkomitmen mendorong kedaulatan digital melalui penyusunan standar SNI IoT, penguatan regulasi, serta perumusan praktik terbaik pemanfaatan IoT.
“Pengembangan solusi IoT nasional menjadi kebutuhan mendesak seiring masifnya pertumbuhan perangkat di Indonesia,” ujarnya dalam Musyawarah Nasional (Munas) III ASIOTI di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Penguatan SDM dan Infrastruktur Jaringan
Teguh menjelaskan, ASIOTI telah berkontribusi dalam pengembangan sumber daya manusia dengan menghasilkan 11.800 engineer IoT bersertifikasi yang diakui secara regional.
Namun, ia mengakui tantangan utama dalam pengembangan IoT terletak pada pemerataan jaringan yang belum sepenuhnya menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
Selain jaringan berlisensi, pengembangan juga memanfaatkan frekuensi unlicensed seperti 433 MHz dan 920 MHz.
Dalam Munas III ASIOTI 2026 yang didukung oleh Telkom Indonesia, Telkomsel, dan Tower Bersama Group, asosiasi juga meluncurkan white paper bertajuk Tren Teknologi dan Bisnis TIK Indonesia 2026. Dokumen tersebut memuat proyeksi permintaan serta strategi bisnis IoT di tahun mendatang.
Tantangan Ketergantungan Impor Komponen
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Reza menyatakan bahwa digitalisasi menjadi arena persaingan global antarnegara. Nilai ekonomi digital Indonesia disebut telah mencapai US$130 miliar, terbesar di Asia Tenggara.
Ia menilai adopsi IoT menjadi faktor penting dalam memperkuat daya saing industri nasional. Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan sebagai pasar konsumtif, terutama karena ketergantungan terhadap impor microcontroller dan mikroprosesor sebagai komponen utama perangkat IoT.