Mengapa Umur Baterai HP Kini Lebih Pendek? Simak Penjelasannya
Dulunya, baterai ponsel dapat bertahan seharian penuh, tetapi kini menjelang siang sudah "menjerit" meminta pengisian ulang.
Planned obsolescence atau yang dikenal dengan istilah "usang terencana" bukanlah konsep yang asing bagi konsumen di zaman sekarang.
Kita semua menyadari adanya fenomena ini, dan tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa produk, terutama perangkat elektronik seperti ponsel, memiliki masa pakai yang terbatas.
Meskipun sebuah HP dapat bertahan bertahun-tahun berkat kualitas konstruksinya yang baik, ada faktor lain yang menyebabkan perangkat tersebut menjadi usang.
Setiap tahunnya, berbagai produsen ponsel merilis model baru dengan klaim bahwa produk mereka memiliki kamera yang lebih tajam, prosesor yang lebih cepat, dan tampilan yang lebih menarik.
Mengutip dari Gizchina pada Rabu (20/8), strategi marketing yang telah dirancang sedemikian rupa membuat HP kesayangan kita yang berusia dua tahun seolah-olah sudah ketinggalan zaman.
Ini jelas bukan kebetulan, melainkan hasil dari tarian yang "dikoreografi" dengan cermat oleh fenomena planned obsolescence.
Seiring waktu, beberapa ponsel memang berhenti berfungsi karena kerusakan pada komponen tertentu. Namun, banyak masalah yang umum terjadi sebenarnya masih bisa diperbaiki. Jarang sekali kita melihat ponsel yang benar-benar mati total akibat kerusakan pada prosesornya.
Sayangnya, beberapa komponen dirancang untuk mengalami penurunan performa. Contohnya, baterai HP yang dulunya mampu bertahan seharian, pada akhirnya akan "menjerit" meminta pengisian ulang sebelum siang hari.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun perangkat mungkin masih berfungsi, pengalaman pengguna dapat terganggu oleh penurunan kualitas yang disengaja.
Baterai menjadi penyebab utama masalah
Di sisi lain, pembaruan "penting" yang telah kamu unduh malah membuat aplikasi berjalan lebih lambat dan layar menjadi kurang responsif. Jika ingin memperbaikinya, silakan coba sendiri.
Para produsen sangat suka menggunakan lem untuk menyatukan komponen, sehingga suku cadang orisinal menjadi mahal dan sulit ditemukan.
Mengganti baterai yang seharusnya sederhana terasa sekompleks melakukan operasi bedah. Penyebab utama dari planned obsolescence saat ini adalah baterai itu sendiri.
Sel lithium-ion memang akan mengalami penurunan kualitas setelah beberapa tahun. Namun, seharusnya hal ini tidak berarti bahwa pengguna harus mengganti seluruh perangkat.
Dengan hanya mengganti baterai, ponsel dapat berfungsi kembali dengan baik. Pada awal era ponsel pintar, proses penggantian baterai jauh lebih mudah. Pengguna hanya perlu membuka penutup belakang untuk mengganti baterai saat diperlukan.
Saat ini, semua produsen ponsel "mengubur" baterai di bawah lapisan kaca dan lem. Kadang-kadang, biaya untuk mencari baterai orisinal dan teknisi yang dapat melakukan perbaikan sebanding dengan harga ponsel baru.
Akhirnya, konsumen hanya bisa mengangkat bahu dan membeli ponsel baru. Hal ini sesuai dengan keinginan para raksasa teknologi yang ingin menjual lebih banyak perangkat.
Perangkat lunak yang "berbalik menyerang" pengguna
Jika baterai tidak "menyerang", maka perangkat lunak yang akan melakukannya. Dulu, pembaruan software sering kali memberikan peningkatan performa pada ponsel, tetapi kini banyak pengguna yang merasakan bahwa pembaruan justru membuat HP menjadi lambat.
Waktu yang dibutuhkan aplikasi untuk memuat menjadi lebih lama, antarmuka pengguna sering tersendat, dan pengalaman menggunakan perangkat yang sebelumnya mulus kini terasa tidak responsif.
Salah satu contoh yang paling terkenal adalah pengakuan dari Apple mengenai keputusan mereka untuk memperlambat iPhone lama "untuk melindungi kesehatan baterai."
Bagi banyak orang, alasan tersebut terdengar seperti paksaan untuk membeli model terbaru. Terkadang, pembaruan memang dapat memperburuk kinerja perangkat, tetapi ada juga situasi di mana tidak adanya pembaruan justru membuat perangkat menjadi kurang menarik.
Produsen Android telah berusaha memperbaiki masalah ini, namun dukungan berkelanjutan sering kali hanya tersedia untuk model flagship premium.
Ketika perangkat kamu tidak lagi mendapatkan pembaruan, maka perangkat tersebut mulai terasa kurang menarik. Beberapa aplikasi dan layanan mungkin berhenti memberikan pembaruan, yang membuat pengalaman pengguna semakin menurun.
Hal ini merupakan bagian dari praktik planned obsolescence, di mana HP menjadi tidak aman karena tidak lagi mendapatkan pembaruan patch keamanan.
Dengan kata lain, perangkat yang tidak diperbarui secara berkala akan rentan terhadap ancaman keamanan, sehingga meningkatkan risiko bagi penggunanya.
Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan pembaruan perangkat lunak agar perangkat tetap berfungsi dengan baik dan aman digunakan.
Kerusakan lingkungan
Siklus ini tidak hanya menguras keuangan, tetapi juga menambah beban tempat pembuangan sampah. Setiap tahun, jutaan ponsel yang dibuang berakhir sebagai limbah elektronik.
Di dalam perangkat tersebut terkandung logam berharga seperti kobalt dan lithium, yang ditambang dalam kondisi yang sangat merugikan dan sulit untuk didaur ulang, sehingga dapat merusak lingkungan.
Planned obsolescence bukan hanya menjadi masalah bagi konsumen, tetapi juga merupakan bencana bagi keberlanjutan.
Namun, ada kabar baik karena sekelompok orang telah mulai melawan keadaan ini. Gerakan 'Right to Repair' mendorong perusahaan untuk menyediakan alat, suku cadang, dan manual yang diperlukan agar konsumen dapat memperpanjang umur perangkat mereka.
Bahkan, Uni Eropa telah menetapkan peraturan yang mewajibkan baterai ponsel untuk dapat diganti (lepas pasang) pada tahun 2027.
Meskipun ada beberapa keuntungan dari baterai yang tidak dapat dilepas, seperti memungkinkan perusahaan untuk memasang baterai yang lebih besar dan tidak terikat pada batasan desain, hal ini membuat ponsel menjadi lebih sulit untuk diperbaiki.
Konsumen memiliki peran penting dalam perekonomian
Tentu saja, bukan hanya perusahaan yang harus disalahkan dalam hal ini. Pemasaran berkembang seiring dengan keinginan konsumen akan inovasi dan mendukung planned obsolescence.
Misalnya, peningkatan chip yang sedikit lebih cepat, kamera yang lebih berkualitas, dan pilihan warna baru sering kali cukup untuk menarik perhatian banyak orang. Ponsel kini dianggap bukan sekadar alat yang tahan lama, tetapi lebih sebagai aksesori mode yang harus dimiliki.
Untuk memutus siklus ini, kita perlu menolak godaan setiap kali ada peluncuran ponsel baru dan mulai menuntut perangkat yang lebih awet. Sayangnya, fenomena mengganti perangkat ini sangat mempengaruhi banyak penggemar teknologi, dan ponsel pintar pun tidak luput dari hal ini.