Mengapa Kucing Menutup Kotorannya dengan Pasir? Bukan Soal Baunya, tapi ini Penjelasan Menurut Sains
Bukan soal bau saja mengapa kucing menutup kotorannya dengan pasir. Ada semacam 'ritual' untuk 'menghormati leluhur'.
Bagi pemilik kucing, pemandangan hewan peliharaan mereka menimbun kotoran dengan pasir di litter box adalah hal biasa. Tapi di balik kebiasaan itu, ada penjelasan ilmiah yang menarik. Apa itu? Yang jelas, semuanya bermuara pada naluri bertahan hidup serta dinamika sosial kucing yang diwariskan dari nenek moyangnya di alam liar.
Perilaku menutup kotoran atau feses dengan pasir sebenarnya adalah mekanisme alami untuk menyembunyikan bau. Di alam, bau kotoran bisa menjadi tanda bahaya karena dapat menarik perhatian predator.
Dengan mengubur kotorannya, kucing liar seperti Felis lybica (nenek moyang kucing domestik) menghindari risiko dilacak oleh musuh. Hal ini adalah bentuk kamuflase bau, sebuah adaptasi evolusioner yang membantu mereka bertahan hidup di lingkungan berbahaya. Di sisi lain, itulah mengapa ketika kotoran ditutup pasir baunya akan menghilang.
Namun, motifnya tidak berhenti di sana. Perilaku ini juga memiliki makna sosial. Menurut para ahli perilaku hewan, kucing yang menutup kotorannya bisa jadi sedang menunjukkan sikap tunduk dalam hierarki sosial.
Dalam kelompok kucing liar atau komunitas yang lebih besar, individu yang dominan kadang justru sengaja meninggalkan kotorannya terbuka sebagai bentuk penandaan wilayah atau klaim dominasi. Sementara kucing yang merasa lebih rendah akan menutup kotorannya untuk menghindari konflik.
Kebiasaan ini juga memperlihatkan naluri kebersihan kucing. Mereka adalah hewan yang sangat menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan tempat tinggalnya. Dengan menutup kotoran, mereka menghindari kontaminasi dan mencegah penyebaran parasit atau penyakit di sekitar sarangnya.
Menariknya, perilaku ini bukanlah sesuatu yang harus diajarkan manusia. Anak kucing yang belum pernah melihat kucing dewasa pun tetap menimbun kotorannya secara naluriah ketika disediakan pasir atau tanah. Artinya, kecenderungan ini telah tertanam secara genetik selama ribuan tahun evolusi.
Sains juga mencatat bahwa bahan penutup seperti pasir membantu menyerap bau kotoran karena mampu menyekap senyawa volatil seperti amonia, hidrogen sulfida, dan metana. Itu sebabnya, kotoran yang tertutup pasir tidak terlalu bau dibanding yang dibiarkan terbuka.
Dalam konteks rumah tangga, perilaku ini memberi keuntungan tersendiri. Kucing tidak hanya menjaga kebersihan dirinya, tapi juga menciptakan lingkungan yang lebih higienis bagi manusia yang tinggal bersamanya. Tak heran jika kucing sering disebut sebagai hewan peliharaan paling bersih.
Jadi, bila saat melihat kucing menimbun kotorannya dengan pasir, ketahuilah bahwa ia sedang mengaktifkan seperangkat naluri kompleks yang diwariskan dari kehidupan liar.
Dari menyembunyikan jejak bau, menghormati hierarki sosial, hingga menjaga kebersihan, semuanya adalah bagian dari “protokol” alami yang menjadikan kucing makhluk unik dan mengagumkan.