Bukan Kaleng-kaleng, Power Bank ini Diklaim Bisa Tahan 13 Tahun
Elecom memperkenalkan power bank pertama di dunia dengan teknologi baterai sodium-ion. Tahan suhu ekstrem dan siklus pengisian hingga 5.000 kali.
Sebuah terobosan baru dalam dunia baterai dihadirkan oleh produsen perangkat keras asal Jepang, Elecom. Perusahaan ini resmi meluncurkan power bank pertama di dunia yang menggunakan teknologi baterai sodium-ion, menggantikan lithium-ion yang selama ini mendominasi pasar.
Produk bernama DE-C55L-9000 ini hadir dengan kapasitas 9.000 mAh dan dilengkapi dengan port USB Type-C 45W serta USB Type-A 18W. Sekilas tampilannya memang mirip dengan power bank pada umumnya, namun teknologi di baliknya menjadikannya berbeda.
Mengutip NewAtlas, Jumat (21/3), baterai sodium-ion menggunakan natrium yang lebih murah dan mudah didapat dibanding litium, serta tidak memerlukan logam langka seperti kobalt dan tembaga. Teknologi ini juga ramah lingkungan karena mengurangi ketergantungan terhadap pertambangan logam berat yang merusak alam.
Salah satu keunggulan utama power bank ini adalah ketahanannya dalam kondisi ekstrem. Elecom mengklaim perangkat ini mampu beroperasi di suhu ekstrem, mulai dari -34°C hingga 50°C, menjadikannya ideal bagi pekerja lapangan di lingkungan ekstrem.
Tak hanya itu, daya tahan baterainya luar biasa—mencapai 5.000 siklus pengisian, jauh lebih tinggi dibanding rata-rata baterai lithium-ion yang hanya 500 hingga 1.000 kali. Ini berarti, dalam pemakaian harian, power bank ini bisa bertahan hingga 13 tahun.
Dari sisi keamanan, baterai sodium-ion memiliki risiko kebakaran yang jauh lebih rendah dan dapat dikirim dalam kondisi nol volt tanpa bahaya. Selain itu, proses produksinya bisa menggunakan jalur manufaktur baterai litium yang sudah ada, sehingga lebih efisien secara industri.
Meski demikian, harga power bank ini sedikit lebih mahal dibanding merek populer lainnya. Dibanderol sekitar 9.980 yen (sekitar Rp1 juta), bobotnya juga lebih berat, yakni 350 gram. Hal ini disebabkan oleh kepadatan energi sodium-ion yang masih lebih rendah dibanding lithium-ion.
Namun dengan usia pakai yang lebih lama dan faktor keamanan tinggi, teknologi ini dinilai sebagai masa depan industri baterai, termasuk untuk perangkat seluler hingga kendaraan listrik.