Anak Korban Kekerasan Rentan Alami Penyakit Degeneratif: Ini Penjelasan Dokter Anak

Dokter ungkap kekerasan anak bisa sebabkan gangguan hati, saraf, bahkan memperpendek usia. Ini fakta mengkhawatirkan.

adinda nur shyavira
Oleh adinda nur shyavira - Reporter
Anak Korban Kekerasan Rentan Alami Penyakit Degeneratif: Ini Penjelasan Dokter Anak
Anak Korban Kekerasan Rentan Alami Penyakit Degeneratif: Ini Penjelasan Dokter Anak (Merdeka.com)

Kekerasan terhadap anak tidak hanya menyisakan luka secara fisik dan psikis, tetapi juga berdampak serius pada kesehatan jangka panjang. Anak yang mengalami kekerasan berisiko lebih tinggi terkena penyakit kronis seperti darah tinggi, diabetes, hingga gangguan hati.

Kasus kekerasan terhadap anak yang terus berulang, termasuk yang baru-baru ini terjadi di Jakarta, menunjukkan bahwa perlindungan terhadap anak masih menjadi pekerjaan besar yang belum tuntas.

Pertanyaan yang menggantung di udara: Mengapa perlindungan terhadap anak begitu rapuh? Mengapa suara tangis dan luka batin anak-anak ini masih terabaikan? Di tengah upaya pembangunan dan peningkatan kesejahteraan, kasus-kasus ini menjadi alarm keras bagi negara untuk mengevaluasi kembali sistem perlindungan anak yang ada.

Dampak Kekerasan Anak terhadap Kesehatan: Lebih dari Luka yang Terlihat

Dokter anak dari RS Mahidol University, Thailand, Chatchai Imarom, menyoroti fakta mengejutkan dalam sebuah webinar nasional yang digelar bersama Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University. Menurutnya, kekerasan terhadap anak memiliki konsekuensi yang jauh melampaui luka fisik yang tampak.

“Anak korban kekerasan akan berpotensi memiliki berbagai penyakit degeneratif seperti penyakit darah tinggi, diabetes mellitus, hingga gangguan hati. Bahkan, pengalaman kekerasan dapat merusak perkembangan otak dan saraf yang dapat memperpendek usia seseorang,” ujar dokter yang akrab disapa Baz dalam keterangan resmi IPB yang dipublikasikan pada Rabu, 4 Juni 2025.

Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa trauma kronis di masa kanak-kanak memicu stres berkepanjangan yang memengaruhi sistem saraf pusat dan hormonal. Ketika anak-anak terus-menerus berada dalam kondisi terancam, tubuh mereka memproduksi hormon stres seperti kortisol secara berlebihan. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh melemah, tekanan darah meningkat, dan metabolisme terganggu. Inilah cikal bakal penyakit-penyakit kronis yang akan membayangi mereka hingga dewasa.

Tidak hanya itu, gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD) juga kerap menyertai korban kekerasan anak. Kombinasi antara kondisi fisik dan mental yang terpuruk ini membuat kualitas hidup mereka menurun drastis, sekaligus mempersingkat harapan hidup secara signifikan.

Perlindungan Anak: Tanggung Jawab Bersama Dunia

Menurut Prof Arya Hadi Darmawan, Kepala Lembaga Riset Internasional Pembangunan Sosial Ekonomi dan Kawasan IPB University, isu perlindungan anak bukan hanya menjadi persoalan nasional, melainkan sudah menjadi tanggung jawab global. Dalam keterangan yang sama, ia menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2024 saja, terdapat 25.559 kasus kekerasan terhadap anak yang dilaporkan melalui SIMFONI PPA (Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak) milik Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).

“Selain itu, masih rendahnya pencapaian Indeks Perlindungan Anak menjadi tantangan kita bersama,” tegas Prof Arya.

Fenomena kekerasan dalam rumah tangga yang melibatkan anak sebagai korban utama menunjukkan adanya krisis multidimensi. Bukan hanya tentang lemahnya hukum atau sistem perlindungan sosial, tetapi juga mencerminkan keretakan nilai-nilai dalam keluarga dan masyarakat. Dalam kasus-kasus kekerasan terbaru di Jakarta, pelaku adalah ayah kandung korban, yang seharusnya menjadi orang pertama yang melindungi dan mencintai.

Kerja sama lintas negara dan lembaga menjadi sangat penting untuk menangani persoalan ini secara menyeluruh. “Kerja sama internasional seperti antara Indonesia dan Thailand sangat penting untuk memperkuat kebijakan perlindungan anak yang berbasis riset dan kolaborasi,” tambah Prof Arya.

Ilustrasi Kekerasan Anak
Ilustrasi Kekerasan Anak Freepik/@freepik

Ketika Rumah Tidak Lagi Aman: Tragedi yang Terjadi di Sekitar Kita

Lima anak kehilangan nyawa di tangan ayah kandung mereka dalam dua minggu terakhir. Kedua peristiwa memilukan ini sama-sama terjadi di kawasan padat penduduk di Jakarta. Tragedi tersebut menggambarkan bagaimana kekerasan bisa terjadi di lingkungan yang paling dekat dan dipercaya oleh anak-anak. Ironi pahit ini menyadarkan kita bahwa rumah tidak selalu menjadi tempat berlindung yang aman.

Kasus semacam ini seringkali tidak datang secara tiba-tiba. Ada pola kekerasan, tekanan ekonomi, stres berkepanjangan, atau gangguan psikologis yang tidak tertangani pada orang tua. Sayangnya, sistem sosial kita belum mampu mendeteksi dan mencegah potensi bahaya ini lebih awal. Ketika akhirnya kasus mencuat ke publik, semuanya sudah terlambat.

Lebih menyedihkan lagi, banyak anak korban kekerasan yang selamat justru harus menjalani hidup dalam ketakutan, kecemasan, dan kerusakan mental jangka panjang. Mereka tumbuh dewasa dalam bayang-bayang trauma dan kehilangan, yang pada akhirnya dapat menular secara generasional jika tidak ditangani secara serius.

Jalan Menuju Pemulihan: Membangun Sistem yang Lebih Tangguh

Dibutuhkan intervensi sistemik dan kolaboratif untuk memutus rantai kekerasan terhadap anak. Peran orang tua, sekolah, tenaga kesehatan, dan aparat hukum harus bersinergi dalam satu sistem perlindungan yang holistik. Edukasi tentang pengasuhan positif dan pengendalian emosi sangat penting untuk mencegah kekerasan dalam rumah tangga.

Selain itu, pelaporan kasus kekerasan harus difasilitasi dengan sistem yang mudah diakses, aman, dan responsif. Anak-anak harus tahu ke mana mereka bisa meminta pertolongan, dan masyarakat perlu didorong untuk tidak lagi membungkam suara-suara kecil yang meminta bantuan.

Pemerintah dan lembaga riset seperti IPB University, melalui Pusat Kajian Gender dan Anak, telah membuka pintu untuk kerja sama riset dan aksi nyata. Namun, semua langkah ini akan sia-sia tanpa partisipasi aktif masyarakat. Kita semua memiliki peran penting dalam membangun lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang bagi anak-anak.

Ilustrasi Pedofilia
Ilustrasi Pedofilia Freepik/@freepik

Kekerasan terhadap anak adalah masalah serius yang harus dihentikan bersama. Dampaknya tidak hanya terasa saat ini, tetapi juga bisa membahayakan kesehatan dan masa depan anak-anak. Diperlukan kerja sama dari semua pihak—orang tua, masyarakat, pemerintah, dan lembaga riset—untuk membangun sistem perlindungan yang lebih kuat. Anak-anak berhak tumbuh dengan aman, sehat, dan bahagia, karena merekalah masa depan bangsa.

Rekomendasi