Menyingkap Fakta Tuberkulosis: Mengapa Indonesia Berjuang dan Cara Mengatasinya Menurut Dokter Spesialis Paru
TBC masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, Dr. Maria Dewi Caetline, spesialis paru dari RS EMC Cikarang dan Cibitung mengungkap sejumlah faktanya.
Indonesia masih berjuang melawan tuberkulosis (TBC), penyakit yang menempatkan negara ini sebagai peringkat kedua tertinggi di dunia setelah India. Meskipun telah dikenal selama berabad-abad, TBC tetap menjadi ancaman serius dengan angka kematian yang tinggi, mencerminkan tantangan dalam deteksi dini, pengobatan, dan edukasi masyarakat. Stigma bahwa TBC hanya menyerang komunitas berpenghasilan rendah kini terbantahkan, karena penyakit ini tidak memandang status sosial, ekonomi, atau gaya hidup, menjadikannya isu kesehatan yang relevan bagi semua kalangan.
Faktor risiko seperti merokok, vaping, dan lingkungan dengan ventilasi buruk semakin memperumit upaya pengendalian TBC di Indonesia. Penularan melalui droplet di udara membuat siapa saja berpotensi terinfeksi, terutama mereka dengan daya tahan tubuh lemah. Sayangnya, pengobatan yang memakan waktu hingga 6 bulan sering kali tidak diselesaikan, memicu munculnya TBC resisten obat yang lebih sulit diatasi. Untuk memberikan wawasan mendalam, Dr. Maria Dewi Caetline, spesialis paru dari RS EMC Cikarang dan Cibitung, berbagi keahliannya dalam sebuah episode Podcast Juncto Merdeka.
Apa benar TBC itu biasanya menjangkiti kelas ekonomi menengah ke bawah?
Kalau ini masih jadi masalah, dan ini banyak di sekitar kita. Memang dulu stigma orang kalau orang kena TB itu yang badannya kurus, yang ekonominya kurang mampu. Stigma itu terbentuk. Jadi dulu tuh sempat ada perubahan ini. Dulu kan kita bilang TBC digubah jadi TB. Jadi supaya tidak terkesan TBC.
Tapi memang sekarang kita udah balikin lagi TBC. Jadi kadang orang mikirnya TB, oh bukan TBC. Jadi malah menganggap remeh, jadi pengobatannya malah nggak serius. Akhirnya kita balikin lagi supaya ada tetap efek seriusnya untuk pengobatan ini.
Untuk apakah memang hanya menyerang orang-orang tersebut? Tidak sama sekali. Ini kan penyakit yang menyebar melalui udara, melalui droplet. Jadi ini sebenarnya bisa mengenai siapa saja. Saya juga risiko tinggi ya apalagi bertemu dengan pasien. Semua orang juga masih bisa, apalagi kita di Indonesia, kita nggak tau siapa yang bawa siapa. Jadi semuanya masih bisa terkena ini tanpa memandang status sosial, status ekonomi dan lain-lain.
Tapi mungkin memang kebanyakan banyak yang terkena itu memang teman-teman kita yang seperti itu karena salah satu faktor risikonya juga mungkin kan dengan kondisi gizi yang masih kurang. Jadi daya tahan tubuh drop. Kemudian lingkungan rumah yang berdempet-dempetan. Itu faktor risiko juga tuh nularin ya. Kemudian juga dengan kelembapannya rumah-rumah yang mungkin memang ventilasinya kurang. Jadi memang banyaknya kalau kita data memang lebih banyak seperti itu. Tapi tidak. Tidak harus. Dan orang-orang, pasien saya juga yang oke, yang misalnya educated gitu juga ada yang terkena juga. Jadi memang nggak harus orang-orang yang ekonominya kurang seperti itu.
Jadi emang nggak melulu orang ekonomi kurang akan terkena TBC gitu ya dok?
Enggak. Enggak banget. Karena pasien aku sekarang tuh bahkan generasi-generasi muda banyak sekali. Yang usia-usia makanya saya masih menjadi perhatian karena kan saya turun langsung ya. Saya ketemu pasien.
Mungkin kalau kita kan kalau nggak ketemu pasien, kita cuma dengar berita. Karena kalau saya bertemu langsung ya itu. Saya sering banget dapet ya hampir ya mostly yang masih muda. 19 tahun, 20 tahun gitu. Datang ke saya fotonya tuh udah lumayan rame gitu. Dan pasien tersebut ya baru-baru ini aja ngerasain gitu. Sebelum saya dia nggak tahu. Kemudian setelah memang didiagnosis, ya kan? Saya tanya, kira-kira kamu dapet dari mana? Kayak gitu kan? Dia juga nggak tahu dapetnya dari mana gitu. Dari keluarganya nggak ada.
Jadi kan memang semua orang punya resiko ya. Kita nggak pernah tahu saat itu kumannya itu lagi di mana? Atau kita lagi kehirupnya dari dapetnya mana? Ya jadi itu bisa menyerang semua golongan sih. Jadi memang kita harus waspada sih apapun. Kayaknya saya kalau disuruh bahas ini saya harus semangat.
Apakah TBC ini memang salah satu faktor penularannya dari kontak fisik, dari kita mungkin ngobrol atau gimana dok?
Sebenarnya kalau kontak fisik nggak ya. Jadi dia kan memang adalah jadi TB itu kan memang infeksi paru yang disebabkan oleh bakteri. Namanya Mycobacterium tuberculosis. Dan kenapa sih TB ini udah dari 1800 ada loh penyakitnya. Tapi kenapa sampai 2025 ini masih? Karena kumannya ini bebel. Kalau kata anak jaman sebelumnya, bandel. Dan kumannya itu kecil, kecil banget. Sekitar 0,5 mikromili. Jadi kalau kita tahu penggaris kita jaman dulu tuh 1 mili itu seper seribunya.
Kecil banget kan, nggak bisa kelihatan. Selain dia kecil, kemudian dia juga bisa ngumpet tuh di bisa nggak kelihatan sama sistem kekebalan tubuh kita. Jadi kalau misalnya ada orang yang memang dia sudah terjangkit TB yang ada kumannya, kemudian dia bersin. Kalau bersin orang-orang kan hacim. Itu nyebar kemana-mana. Droplet-dropletnya.
Nah itu droplet-dropletnya yang kalau memang dia ada kuman TB-nya itu bisa di udara bertahan 4 jam. 4 jam. Jadi orang yang sudah terkena TB, misalnya dia bersin terus dia ngeluarin dropletnya itu ada kuman TB-nya bertahan 4 jam. Kemudian misalnya ngobrol sama kita nih. Atau kita di daerah itu terhiru. Kita terhiru, itu salah satu masuknya seperti itu. Dan benar-benar juga kalau dia bersin, biasanya kan partikelnya bisa nempel di meja-meja kayak gitu. Itu juga bisa bertahan sekitar 1-2 jam. Jadi kadang kalau misalnya kita lagi ngomong gini nih saya, misalnya gitu, terus ada orang lewat terus megang nih. Megang dan kita kadang lupa cuci tangan kan. Pegang dia ke muka. Itu juga bisa salah satu penularannya. Tapi memang paling jelas penularannya itu adalah secara droplet ya atau makanya efek yang paling penting itu etika batuk ya. Kita kalau batuk bersin tuh ya harus ditutup lah. Jadi mengurangi apa namanya, kemungkinan droplet-droplet tersebut ada di udara ini bebas.
Bisakah TBC ditularkan melalui benda yang digunakan bergantian semisal handuk atau alat makan?
Kalau misalnya alat makan sih saya rasa masih ya. Masih memungkinkan. Karena kan gimana pun liur ya di situ ya. Tapi kalau handuk atau kita salaman gitu ya. Tapi dipastikan kalau bersih gitu. Atau kita ini ya sebenarnya sih gak secara langsung seperti itu. Tapi kalau memang tempat makan untuk pasien-pasien yang masih aktif TB-nya masih pengobatan, masih positif itu kalau bisa memang kita pisahkan dulu ya. Karena gimana pun kan kita gak pernah tau ya. Kalau itu kan memang ke mulut ya di dalamnya tempat-tempat makan gitu. Tapi kalau bisa sih kita pisahkan dulu.
Kalau untuk keringat tidak ya. Yang penting dia gak yang muncrat, gak yang langsung itu apa namanya dia bersihin terus partikel di udara gitu. Cuman kita kan gak pernah tau nih udara sekitar kita tuh ada apa gitu ya. Makanya hati-hati banget kalau ada yang aja yang bersihin gitu.
Makanya sebenarnya etika batuk sama bersihin tuh penting banget. Salah satunya. Di tutup ya, di siku. Terus atau pakai tangan, tapi setelah itu cuci tangan. Atau pakai tisu, tapi setelah itu tisunya dibuang ke tempat campah. Kalau cuman dibuang disitu sama aja juga ya. Di tempat misalnya sembarangan gitu.
Bisakah kita mengenali batuk atau kondisi orang yang terkena TB?
Jadi gini memang sekarang dulu itu didefinisikan memang batuk berdahak. Batuk berdahak lebih dari 2 minggu. Jadi memang dia ada lebih lama. Jadi batuk kronis lebih dari 2 minggu. Cuman sekarang gak harus batuk berdahak. Jadi batuk kering pun kalau yang sudah terjadi selama 2 minggu itu perlu kita waspadai.
2 minggu tuh gak harus terus-terusan batuk ya. Jadi kadang ada muncul, hilang, timbul gitu. Tapi kok ada terus gitu ya sampe 2 minggu ini.Itu boleh kita curigain. Kemudian gak harus batuk yang kita rasa harus ngikil ya.
TB itu kan gak cuman di paru ya. TBC itu gak di paru. Dia ada juga di ekstra paru. Kalau yang batuk memang dia lebih spesifik kepada TB yang, TBC yang paru ya. Tapi secara umum, baik TBC paru maupun TBC ekstra paru yang khas itu pertama adalah pasien pasti lemes. Dia kayak apa namanya, kurang bernapsu untuk melakukan segala satu gitu ya. Kemudian dia demam.
Demamnya itu juga gak tinggi-tinggi banget. Jadi sumer-sumer kalau kata orang Jawa. Jadi sumernya itu dan biasanya itu khasnya itu sore hari lebih sering. Gak sampai meriang gitu. Jadi kayak gitu. Kemudian penurunan berat badan tanpa ada sebab yang jelas.
Dok saya makannya masih bagus gitu kan oke. Tapi kok berat badan makin turun terus ya. Kemudian juga ada keringet dingin malam hari. Keringet dingin malam hari tanpa beraktivitas ya. Kalau misalnya malam hari beraktivitas keringetan kan itu beda lagi ya. Jadi keringet dingin tanpa ada aktivitas pada malam hari. Jadi kadang kalau saya biasanya nanya pasien, Pak kalau bangun itu kadang padahal Pak Pak pakai AC, pakai kipas. Itu bajunya basah atau enggak? Jadi kadang kayak gitu.
Oke kemudian itu salah satu yang umumnya ya. Kemudian kalau kita masuk ke TBC paru biasanya itu dia batuk ya. Spesifiknya batuk. Batuk kemudian sama yang tadi juga sesak. Kadang timbul sesak. Beberapa ada nyeri, nyeri dada ya yang kalau jantung itu kan bedanya nyerinya biasanya kalau pas lagi kita serangan itu mostly di kiri atau dia enggak bisa menentukan. Rasanya enggak enak aja dadanya. Tapi kalau paru dia bisa kadang-kadang. Dia bisa kasih tahu oh di kanan, oh kadang di kiri. Seperti itu. Kata pasien sih nyeri ya. Kayak lebih nyeri aja.
Mungkin ada juga efek karena mungkin dia batuknya lama. Kadang kalau batuk kan dada kita jadi enggak enak ya. Otot kita jadi enak. Itu juga mungkin bisa. Tapi ada juga beberapa yang khas tuh kalau di fotonya ternyata oh lesinya ternyata memang banyak yang di sebelah kanan. Oh jarinya pasti nyeri di sebelah kanan kadang. Sama nyeri saat tarik nafas. Itu juga ada beberapa khasnya. Nyeri tarik nafas jadi ada beberapa pasien kalau dia kena TB di lapisannya. Jadi ada cairan di parunya. Itu biasanya spesifik seperti itu. Jadi pas tarik nafas tuh rasanya nyeri.
Itu kalau yang di TBC paru ya. Kalau nanti dia ekstra paru ya sesuai biasanya kalau tulang belakang itu biasanya dia rasa nyeri ya kan. Kemudian sampai ada efek susah untuk namanya juga tulang belakang kena syaraf juga ya. Susah untuk miksi buang air kecil sampai habis seperti itu. Terus kalau misalnya apa? Kelenjar ya pasti ada benjolan di kelenjarnya.
Kemudian TB apa lagi ya? TB tulang itu kan biasanya khas juga tulang yang mana. Kalau TB keotak juga biasanya kaku kuduk, biasanya kejang. Jadi ada gejala generalnya dan juga ada gejala yang khasnya. Jadi mungkin kadang ada pasien dia enggak ada batuk dia enggak ada batuk, dia bersih gitu kan. Tapi ternyata ada benjolan di kelenjarnya benjolannya.
Benarkah pengobatan TB yang lama membuatnya jadi sulit dihilangkan di Indonesia?
Betul banget. Nah makanya tadi saya bilang yang terjadi sebenarnya kasus di Indonesia ini meningkat apakah karena tadi ya tingkat kemiskinan ya. Kita bisa bilang ya tingkat ekonomi yang dibawa itu semakin tinggi dengan kondisi rumah dan kesehatan lingkungan dan segala macamnya.
Atau karena pengobatan enggak pernah tuntas karena lelah ya. Ya atau satu lagi tadi ya itu telah terdeteksi gitu kan. Ya makanya ada pemerintah punya program TB ya namanya TOSS. Temui Obati Sampai Sembuh itu adalah program pemerintah. Karena gimana pun kita ada target 2030 Indonesia bebas TB gitu.
Kemudian pada pasien yang sudah setelah kita diagnosis TB itu harus kita edukasi. Edukasi enggak cuma ke pasien tapi ke keluarga pasien juga. Jadi ke pasiennya harus minum obat. Kalau minum obatnya 6 bulan ya. 6 bulan itu kan lumayan ya untuk orang yang harus minum obat setiap hari. Jadi kita memang butuh juga motivasi keluarga, dukungan keluarga.
Jadi enggak cuma hanya pasiennya keluarga juga kita edukasi. Jadi supaya pasiennya itu tuntas minumnya. Jadi enggak, karena biasanya pasien TB itu sebulan dua bulan itu pasti udah langsung enakan. Dia udah ngerasa enakan. Sampai dia ngerasa ngapain sampai 6 bulan orang udah enakan 2 bulan. Nah tapi resikonya itu adalah kalau dia berhenti di tengah jalan hukumannya itu belum belum 100 persen mati.
Bisakah berhenti minum obat menjadikan TB lebih parah?
Bisa. Jadi akhirnya TB resisten obat. Jadi kenapa penobatan TB 6 bulan itu kan enggak mungkin sembarangan ya. Kita langsung tembak 6 bulan.
Jadi kenapa ada 6 bulan itu pertama adalah fase awal 1-2 bulan. Itu untuk apa? Dia untuk membunuh kuman TB. Kemudian 3-6 bulan ini kita bilang fase lanjutan obatnya lebih dikit daripada yang fase awal. Ini kenapa? Untuk bener-bener menetralisir kuman-kuman yang disitu.
Karena kumannya kecil banget ya. Jadi dia mungkin bisa ngumpet-ngumpet di mana-mana. Jadi makanya kenapa harus ada fase awal dan lanjutan. Dan kenapa jadinya at the end jadi lama banget 6 bulan. Seperti itu. Jadi memang kenapa salah satu faktor ya masih banyak kasusnya itu ya itu kadang-kadang memang tingkat kepatuhan.
Dok, TB ini bisa sembuh atau kalau sudah sembuh bakal terjangkit lagi atau mudah tertular atau seperti apa dok?
Oke. Jadi TB ini bisa sembuh. Bisa sembuh banget. Jadi nggak perlu susah. Jadi nggak perlu takut kalau kita dididik sosial media TBC. Ya memang kadang stigma orangnya tentang TBC. Tapi nggak. TB ini bisa disembuhkan. Obatnya juga sudah ada.
Kita juga udah tahu. Kumannya obatnya udah tahu gitu dan bisa disembuhkan. Jadi TB ini bisa disembuhkan. Minimal pengobatannya memang 6 bulan saat ini. Sekarang lagi. Sebenarnya ada bicara sedikit tapi mungkin udah pada tahu ya.
Karena sekarang lagi dikembangkan sebenarnya sama WHO itu kita lagi berusaha untuk mempersingkat jadi 4 bulan. Tapi memang masih dalam proses penelitian gitu. Jadi memang sekarang kita masih pake 6 bulan.
Bisakah pasien TBC tertular lagi?
Kalau kemungkinan terjangkit lagi itu masih tetap ada. Selalu ada resiko untuk reinfeksi lagi ya. Relapse kalau kata kita. Itu kalau pasiennya satu. Dia tidak menjaga daya tahan tubuhnya. Jadi dia imunitasnya turun gitu kan. Kemudian ya itu mungkin dia gak tahu kalau orang sekitarnya juga ternyata dia ada kuman TB nya disitu. Sebagus-bagusnya dia sudah minum obat selama 6 bulan.
Ketika dia apalagi kalau dia udah lansia. Kan daya tahan tubuh menurun ya. Atau kena gula. Terus satu lagi yang paling berbahaya HIV AIDS. Jadi ini juga faktor resiko besar banget kena TB. Terus ternyata orang di sekitarnya masih gitu kan. Daya tahan tubuhnya juga rendah. Jadi bisa terkena lagi. Jadi bisa pengobatan lagi. Itu coba kita lihat dulu. TB nya masih yang sensitif obat atau yang resisten obat. Jadi beberapa pasiennya juga banyak yang udah bekas TB Relapse lagi. Itu juga bisa.
Kondisi paru anak-anak dan orang dewasa yang terpapar TB, sama nggak?
Hampir sama ya, tapi pada orang dewasa biasanya lebih jelas. Kalau anak-anak itu kan masih kurang, karena kronis, jadi gambarannya bisa kurang jelas. Tapi kita lihat klinisnya, misalnya batuk pilek nggak sembuh-sembuh lebih dari 2 minggu.
Kalau anak kecil belum bisa cek dahak, bagaimana cara mencurigai TB? Kalau anaknya masih bayi, wanita, kita lihat dari demam, keringat malam, dan berat badan nggak naik selama 3 bulan tanpa sebab jelas. Misalnya makannya lancar, aktivitas biasa, tapi tetap nggak naik berat badan, itu bisa jadi curiga TB. Kita juga lihat apakah ada kontak, misalnya dari neneknya, saudaranya, tetangganya. Tapi memang sulit sih cari tahu kontaknya dari siapa.
TBC ini kan bisa ditanggulangi dengan vaksin ya?
Saat ini lagi dikembangkan. Jadi kalau yang lagi dikembangkan kan vaksin dewasa. Kalau kita ada tuh vaksin anak BCG. BCG itu secara ini sebenarnya dia bisa meng-cover 70-80% kalau pada anak-anak ya.
Kalau misalnya sudah divaksin. Tapi ya dengan cerita lagi, walaupun sudah divaksin ya kita harus perhatikan juga kan gizinya. Kemudian kalau sudah divaksin ternyata memang berdekatan sama orang atau orang tuanya yang memang lagi aktif banget kena TB itu juga masih memungkinkan. Jadi memang kalau dibilang pencegahan TB itu yang paling baik adalah ya kita menghindari menghindari suatu lingkungan yang kita takuti memang penyebaran TB-nya kencang. Maksudnya apa? Tempat-tempat yang lembab. Tempat-tempat yang jarang terkena sinar matahari. Nah itu juga harus kita perhatiin. Jadi rumah kita kadang-kadang kan kita pakai AC terus-terusan nih di ruangan ini.
Kita gak tahu nih. Misalnya saya ada kuman TB, saya bersin gitu kan. Ini bisa 4 jam disini. Terbang, muter-muter. Atau kalau dia masukin ke AC nanti bisa kan di-recycle lagi kan bisa keluar masuk. Jadi kalau kita itu kalau bisa ya tetap ventilasi udara itu diperhatikan juga gitu. Kemudian kalau vaksin sih saat ini untuk dewasa masih pengembangan ya. Masih dalam persen pengembangan. Cuman kalau untuk anak-anak memang vaksin BCG. Tapi tidak menutup kemungkinan juga akan tetap terkena gitu kalau memang tidak diperhatikan dari sisi anaknya sebut lingkungannya juga.
TB dan rokok. Seberapa bersahabat nih mereka?
Saya bilang sahabat banget ya. Karena kenapa orang salah satu faktor risiko memang penyebabnya adalah infeksi bakteria. Maksudnya orang yang nggak merokok juga bisa kena. Tapi kenapa lebih berisiko orang merokok? Karena biasanya namanya kita merokok yang geruk udara terus asap rokok terus itu pasti akan menembulkan kelamaan-kelamaan daya tahan tubuh juga berkurang. Jadi itu kita itu diciptakan Tuhan itu sempurna.
Sebenarnya sempurna banget. Jadi ketika ada sesuatu nih dari masuk ke dalam hidung kita ke perawasan. Sebenarnya itu udah ada pertahanan-pertahanannya dari bulu hidung, dari silia-silia itu udah ada pertahanan kita sampai nanti ke bawah itu sebenarnya kita punya pertahanan. Tapi ketika merokok ngebul terus-terus ya dimanapun kan tubuh itu pertahanannya dia berusaha untuk gimana supaya asapnya ini nggak rumpuk terus gitu. Ya itu berarti menurunkan imunitas yang lain gitu. Pas ketika masuk lah kuman TBnya yang kita nggak tahu dapat dari mana jadi dia lebih gampang terkena seperti itu.
Jadi kalau rokok itu sama TB memang mereka bersahabat. Jadi memang faktor risiko yang lumayan besar juga pada orang-orang perokok itu bisa terkena tibi seperti itu.
Misalnya kalau kita perokok pasif nah peluangnya itu ada juga nggak atau lebih kayak penyakit paru yang lain ya?
Perokok pasif juga peluangnya sama sama perokok aktif. Makanya kalau ada sampai ada omongan yang ini kan kalau aktif sama pasif sama aja kenapa kita nggak jadi aktif aja yang orang bilang gitu ya. Jadi memang sebenarnya benar juga memang pasif itu juga sama resikonya dengan yang aktif. Karena gimana pun kan itu asap tetap kita hidup ya. Apalagi kita berdekatan sama orang yang lagi merokok saat itu. Jadi tetap faktor resikonya juga besar apalagi terus menerus terus menerus terus menerus kalau kita aja kalau kita nggak biasa ngerokok tapi kita deket orang rokok pasti rasanya kayak langsung batuk terus kayak kayak amp gitu ya kayak nggak kuat gitu.
Gimana kalau terus menerus ya itu pasti kan daerah tubuh kita juga turun. Ada banyak juga pasien saya ini jadi agak menanyakan dikit ya maksudnya pasien saya kalau waktu saya ketemu curiga ke arah cancer lung, kanker paru itu justru ibu-ibu yang perokok pasif dari suami jadi memang ya itulah kita memang kalau bisa sih rokok kita hentikan rokok.
Tapi TBC ini bisa kemudian ujungnya terparahnya kanker paru nggak ya?
Bisa jadi ada memang ini udah lebih agak dalem ya bahasannya cuman ada yang memungkinkan jadi pasien-pasien TB bisa untuk berkembang tadinya menjadi kanker atau kadang-kadang itu barengan jadi dia ada kankernya ada juga TB nya itu juga bisa seperti itu. Tapi serta merta TB menjadi kanker sih memang tidak tapi bisa menjadi apalagi kalau TB nya itu sudah parah yang telat diobatin gitu ya kemudian dengan lifestyle nya juga yang tidak baik gitu, udah kena TB masih merokok kenceng ya itu masih bisa 5-10 tahun yang kemungkinan terkena sebuah keganasan paru itu masih memungkinkan. Tapi nggak sama-sama semua pasien tumor, eh TB harus tumor ya nggak.
Kalau misalnya ada infeksi di paru, itu sama kayak luka. Yang harusnya mulus, jadi ada bekas infeksi. Walaupun udah diobatin, ya itu pasti nggak mulus lagi. Jadi ada benjolan, ada bopeng-bopeng di parunya. Yang tadinya bisa dibersihkan pakai silia, kalau ada luka-luka yang mendalam, jadi nggak bisa dibersihkan. Itu yang memperberat pada pasien-pasien bekas TB.
Sekarang juga tren vape. Banyak yang bilang lebih baik daripada rokok. Tapi kemarin aku baca bahwa vape itu resmi menjadi salah satu pemicu penyakit popcorn lung. Popcorn lung itu nggak bisa disembuhkan. Paru itu kayak pohon bercabang, sampai ujungnya itu alveolus, kayak balon-balon kecil. Partikel di vape itu sangat kecil, bisa langsung masuk ke alveolus. Kalau partikelnya kecil, pertahanan tubuh di saluran napas atas nggak bisa melawan. Lama-lama terjadi inflamasi. Bentuk alveolus yang tadinya seperti anggur jadi nggak beraturan seperti popcorn. Kalau di fotoronsen atau CT scan, gambaran popcorn lung itu khas banget.
Dok, aroma vape itu enak dan manis, beda dengan rokok yang asapnya mengganggu. Apakah vape juga sama berbahayanya seperti rokok?
Itulah memang ya mungkin daya tariknya sama pemanisnya tapi kalau vape itu kan ternyata dia itu suatu liquid yang dipanaskan dengan mesin ya. kemudian zat-zat wangi-wangian tersebut itu kan juga udah dipanaskan dan kita hirup jadi partikel-partikel molekul zat-zat kimiawi yang akan masuk juga, jadi tetap berbahaya. tidak ada yang lebih baik, ya lebih baik tidak dilakukan.
Nggak ada yang lebih baik. Dua-duanya nggak baik ya... Secara pengobatan juga sama-sama bisa menyebabkan penyakit kanker dan segala macam. Rata-rata kalau saya dapat pasien... pasti bilangnya nggak, cuman nge-vape jadi mereka pikir vape itu tidak sama dengan merokok pernah pasien pneumotoraks parunya bocor disebabkan karena pemakaian vapenya.
Apa dampak medis yang pernah dokter temukan pada pengguna vape?
Salah satunya TB, kemudian pneumotoraks. yang paling saya pernah dapat sih pneumotoraks, sama efusi pleura... ada cairan di paru-parunya... saya sedot sekitar 1 liter... bisa bayangkan bagaimana kita membawa 1 liter di paru-paru kita. Itu cairan salah satunya bisa akibat infeksinya juga salah satunya faktoresinya memang masih merokok, ya infeksi parunya kemudian ada cairan juga atau mungkin dia ke arah keganasan gitu, tapi karena dia usianya muda, cairan paru juga bisa dibayangkan karena gagal ginjal ataupun gagal jantung, tapi karena usia muda kan itu terlewatkan dia nggak ada masalah jantung, dia nggak ada masalah ginjal, jadi kita cari tahu.
Mitos atau Fakta
Mitos atau Fakta: Apakah semua batuk disebabkan oleh infeksi dan memerlukan antibiotik?
Tidak semua batuk disebabkan oleh infeksi—beberapa diakibatkan oleh iritasi, alergi, atau tersedak makanan. Bahkan jika disebabkan oleh infeksi, tidak semua batuk memerlukan antibiotik. Infeksi virus, misalnya, tidak merespons antibiotik, dan banyak batuk sembuh dengan istirahat atau hidrasi. Untuk TBC, antibiotik khusus diperlukan, tetapi hanya setelah diagnosis dikonfirmasi, sering kali melalui tes dahak atau rontgen dada.
Mitos atau Fakta: apakah semua batuk disebabkan oleh infeksi?
Mitos dong. Nggak semua batuk disebabkan oleh infeksi, contoh ya kita kalau lagi seret aja kurang minum kadang jadinya batuk kan, pasti tenggorokan kering, itu bisa jadi batuk, jadi tidak semua batuk disebabkan oleh infeksi, no kita harus perhatikan juga, batuk keselak juga nggak ada infeksi kan, keselak makanan batuk, karena biasanya kalau kita ada salah makan sesuatu yang hampir mau keselak gitu nanti setelahnya kan masih ada batuk-batuknya jadi nggak semua batuk disebabkan oleh infeksi, banyak faktornya, nggak harus semua infeksi.
Mitos atau Fakta: apakah semua batuk butuh antibiotik?
Mitos dong, nggak semua makanya ditaruh tahu dulu batuknya kenapa, sesimpel tadi oh batuk nih, tenggorokannya kering, saya bisa tanya dulu eh atau pas lagi itu, coba minum dulu siapa tahu karena tenggorokannya kering nanti batuknya bisa berhenti atau batuk karena infeksi yang lain seperti virus kan nggak perlu antibiotik jadi nggak harus batuk itu diobati dengan antibiotik, kita lihat dulu ini kira-kiranya batuknya karena apa karena kadang kalau kita keluar kita kehidup udara, kadang kan bisa refleks batuk sesuatu yang nggak menyenangkan pokoknya itu salah satu refleks tubuh refleks tubuh kayak ada sesuatu yang masuk tiba-tiba, ini nggak sesuai sama badan kita, jadi refleksnya untuk batuk, jadi nggak harus semuanya batuk sehari dua hari langsung kasih antibiotik kita harus kasih tahu dulu
Mitos atau Fakta: Orang yang terkena covid lebih beresiko tinggi terkena TBC?
Berikut adalah teks yang telah dirapikan dan ditulis ulang secara verbatim dalam bahasa Indonesia yang lebih terstruktur, dengan tetap mempertahankan isi asli:
Oke, soal COVID, ya, saat ini kasusnya memang sedang naik lagi. Ini adalah fakta. Dulu, pada masa awal pandemi, ada koinfeksi antara COVID-19 dan TBC, atau TBC dan COVID-19. Jadi, pasien COVID-19 bisa terkena TBC, dan pasien TBC juga lebih mudah terinfeksi COVID-19. Memang ada koinfeksi antara keduanya. Kenapa? Karena semuanya berawal dari sistem pertahanan tubuh, yaitu imunitas. Pada pasien COVID-19, imunitas mereka cenderung lebih lemah. Gampangnya begini, tentara-tentara imun kita fokus menangani virus COVID-19, sehingga lupa bahwa mungkin ada kuman TBC yang masih ada di tubuh.
Meskipun sekarang banyak orang sudah pakai masker, kita tidak pernah tahu kapan kita menghirup udara yang mengandung kuman. Jadi, sisa tentara imun yang seharusnya melawan kuman TBC menjadi berkurang, sehingga TBC bisa lebih aktif. Kita semua sebenarnya bisa saja memiliki kuman TBC di dalam tubuh, tapi selama daya tahan tubuh kita masih bagus, kuman itu tidak aktif. Namun, ketika kita terkena COVID-19, di mana daya tahan tubuh kita lebih fokus melawan virus, kuman TBC yang tadinya “ngumpet” bisa menjadi aktif. Gampangnya, kuman TBC seolah berkata, “Kayaknya aku bisa menghancurkan sekarang!” Akhirnya, kuman TBC menjadi lebih aktif karena sistem imun kita kalah. Jadi, memang fakta bahwa orang yang terkena COVID-19 lebih berisiko terkena TBC, dan sebaliknya, pasien TBC juga lebih mudah terinfeksi COVID-19 karena daya tahan tubuh yang lemah.
Pernapasan juga menjadi masalah utama, ya, karena baik COVID-19 maupun TBC menyerang sistem pernapasan. Seperti kata orang, kalau mata adalah jendela hati, maka paru-paru adalah jendela kesehatan. Semua masuk melalui pernapasan, kan? Kita bernapas setiap detik, dan kita tidak bisa memilih udara mana yang mengandung kuman atau tidak. Kita tidak bisa bilang, “Saya tidak mau bernapas di sini, saya mau bernapas di sana.” Itu tidak mungkin. Jadi, memang sistem pernapasan sangat penting.
Mitos atau Fakta: TB ini faktor keturunan
Mitos dong tb bukan karena keturunan dia bukan penyakit yang diturunkan. Tapi kalau mereka sekeluarga ya peluang kenanya jadi ada tapi ditularkan jadi penyakit yang ditularkan bukan diturunkan. Kalau diturunkan kan berarti kita udah ngomongin tentang genetik gitu kan yang pasti banget nih berarti dia bisa kena dari dia lahir bisa kena gak ini bukan pasien diturunkan ada banyak juga kok pasien-pasien saya misalnya suaminya kena istrinya gak kena anak-anaknya juga gak kena jadi itu bergantung dari tahan tubuh juga. Cuman ya memang bisa juga terkena jadi ini bukan penyakit turunan ini adalah penyakit yang ditularkan.
Cuman satu lagi nih baru ingat jadi kan saya juga ada praktik suatu Kabupaten ya Bekasi ya jadi banyak banget stigma orang bilang kalau kalau kena pasien tb itu diguna-guna itu masih loh 2025 masih loh orang berpikir seperti itu. TB itu kena diguna-guna jadi buat teman-teman ya jadi itu salah stigma yang sangat salah ya memang kesannya kok gak sembuh-sembuh ini penyakit kita ya tapi ya karena itu ditularkan dan memang ya memang kita lagi berusaha untuk gimana menurunkan tb tapi itu salah banget kalau dibilang ini adalah penyakit diguna-guna.
Mitos atau Fakta: Kalau tidur di lantai itu juga menyebabkan paru-paru basah?
Mitos itu mitos banget ya, sebenarnya gak harus karena, intinya itu intinya adalah daya tahan tubuh dan kita tertulat dan kita kehirup bakteri tuberculosis. Kalau orang bilang tidur di lantai bikin paru-paru basah tangan kering itu kan salah satu ini TB kan namanya ciri khasnya kan yang keringet dingin malam hari, keringetan berlebihan kadang-kadang jadi gak ada hubungannya sih, aduh juga kemarin pertanyaannya jadi ini mitos ya.
Apa Benar kalau kipas menghadap ke badan buat paru-paru basah?
Nah itu itu juga saya bilang mitos tapi saya balikin lagi gini, tapi gini dulu pak bapak pastiin dulu kalau memang kipas yang bapak pakai itu bersih. Kipas muter tuh kadang udah sampai bedebuan, bapak masih pakai pas bapak tidur tuh lagi ngangap-ngangap, kita gak pernah tau ya pas debunya masuk kena gitu, jadi jangan disalahkan kipasnya pastikan dulu kalau kipasnya bersih kan ada mitos tuh, kalau ngadep langsung ke badan gak boleh, ngadepnya ke tembok.