Ancaman Kontaminasi Dioksin dan Mikroplastik dari Pembakaran Sampah Plastik di Industri Tahu Berbahan Bakar Sampah
Pembakaran sampah plastik dalam industri tahu di Jawa Timur melepaskan dioksin dan mikroplastik berbahaya, mengancam kesehatan manusia dan lingkungan.
Industri tahu di Surabaya, yang memasok makanan pokok bagi jutaan orang, menghadapi sorotan karena penggunaan limbah plastik sebagai bahan bakar. Praktik ini menghasilkan dioksin dan mikroplastik, dua ancaman serius bagi kesehatan manusia dan lingkungan, yang mencemari udara, air, dan rantai makanan, termasuk produk tahu itu sendiri.
Temuan ini mencuat setelah Andrew Fraser, seorang pembuat video dokumenter di YouTube memposting videonya yang berjudul "Indonesia’s TOXIC TOFU Timebomb: Poisoning Millions Daily" pada 24 April lalu. Hingga sekarang, video tersebut telah ditonton sebanyak lebih dari 1,5 juta penonton.
Apa saja risiko kesehatan yang muncul?
Dioksin: Karsinogen Berbahaya dari Pembakaran Plastik
Dioksin adalah kelompok senyawa kimia beracun yang terbentuk saat plastik, khususnya yang mengandung klorin seperti PVC, dibakar. Zat ini sangat persisten di lingkungan dan dapat menyebabkan kanker, gangguan reproduksi, kerusakan sistem kekebalan tubuh, dan masalah hormonal. Menurut WHO, dioksin terakumulasi dalam rantai makanan, terutama pada produk hewani seperti telur dan daging.
Penelitian oleh IPEN dan organisasi lingkungan Indonesia seperti Nexus3 Foundation dan Ecoton pada 2019, yang dirangkum dalam laporan Plastic Waste Poisons Indonesia’s Food Chain (IPEN Report), menemukan kadar dioksin dalam telur ayam kampung di Tropodo, Surabaya, sebagai yang tertinggi kedua di dunia. Kadar ini hanya kalah dari daerah Bien Hoa, Vietnam, yang terkontaminasi Agent Orange. Satu telur dari Tropodo melebihi ambang batas harian aman Amerika Serikat hingga 25 kali dan standar European Food Safety Authority hingga 70 kali, menunjukkan tingkat polusi yang sangat serius.
dr. Dion Haryadi, PN1, CHC, AIFO-K di akun instagarmnya @dionharyadi menngomentari kasus yang diviralkan Andrew Fraser dan akun Instagram @bule_sampah ini memperingatkan, "Pembakaran sampah plastik ini bisa menghasilkan senyawa dioksin yang termasuk karsinogen kelas 1. Dioksin ini bisa masuk lewat saluran napas atau juga lewat makanan." Ia menekankan bahwa ibu hamil, janin, dan balita adalah kelompok paling rentan terhadap paparan kronis, yang dapat menyebabkan efek kesehatan jangka panjang seperti cacat lahir dan gangguan perkembangan.
Laporan Nexus3 Foundation dan Ecoton, Sampah Plastik Meracuni Rantai Makanan Indonesia, juga mencatat bahwa pembakaran plastik menghasilkan furan terbrominasi (PBDD/Fs) dan aditif beracun seperti SCCP, PBDEs, dan PFAS, yang diatur dalam Konvensi Stockholm. Zat-zat ini mencemari tanah dan air, meningkatkan risiko kontaminasi pada produk makanan lokal, termasuk tahu.
Meskipun belum ada penelitian langsung pada kadar dioksin dalam tahu, kontaminasi telur ayam menunjukkan risiko serius bagi konsumen. Dr. Haryadi menyoroti, "Ini pada telurnya ya, sedangkan kadar dioksin pada tahunya nggak dicek dulu," menekankan urgensi pemeriksaan lebih lanjut.
Mikroplastik: Polutan Kecil dengan Dampak Besar
Mikroplastik, partikel plastik berukuran kurang dari 5 mm, dihasilkan dari pembakaran plastik dan penguraian limbah plastik lainnya. Partikel ini dapat terhirup atau tertelan, membawa risiko kesehatan seperti gangguan pernapasan, kanker, dan kerusakan organ karena kemampuannya menembus jaringan tubuh. Penelitian global, seperti yang diterbitkan di Journal of Hazardous Materials (2021), menunjukkan mikroplastik di paru-paru manusia, menegaskan potensi bahayanya (Journal of Hazardous Materials).
Penelitian Ecoton pada 2023, yang dilaporkan dalam Your Trash is Drowning Us (ECOTON Report), menemukan tingkat mikroplastik di udara Jawa Timur sangat tinggi, dengan daerah industri mencatat 225,33 partikel per dua jam. Di Tropodo, air, udara, dan tahu terkontaminasi, dengan 56 partikel mikroplastik per 5 gram ditemukan dalam tahu. Eka Chlara Budiarti dari Ecoton menyatakan bahwa pembakaran plastik di tungku terbuka, seperti yang dilakukan di industri tahu, adalah sumber utama polusi ini.
Penelitian lain oleh Ecoton pada 2021 di Sungai Brantas, Jawa Timur, menemukan 636 partikel mikroplastik per 100 liter air, menunjukkan kontaminasi luas di ekosistem lokal. Mikroplastik ini juga ditemukan dalam feses manusia di Jawa Timur, dengan konsumsi tahunan diperkirakan mencapai 248 gram per orang, menurut Prigi Arisandi dari Ecoton.
Permasalahan Ekonomi yang Berujung Panjang
Pemerintah Jawa Timur pernah mendorong penggantian bahan bakar plastik dengan kayu atau pelet kayu pada 2019, namun upaya ini tidak berkelanjutan karena kurangnya regulasi tegas dan dukungan finansial. Menurut warga, tindakan pemerintah lebih banyak berupa imbauan daripada solusi konkret. Laporan Aliansi Zero Waste menunjukkan praktik ini kembali marak, memperparah polusi. Walau begitu, masalah ini ternyata juga cukup rumit karena adanya alasan ekonomi yang mendasari.
Para produsen tahu menyadari dampak negatif dari penggunaan plastik, tetapi mereka terjebak dalam dilema ekonomi. Plastik adalah bahan bakar yang murah dan tersedia secara konsisten, sedangkan alternatif seperti kayu atau sekam kelapa sering kali sulit didapat atau harganya melonjak pada waktu tertentu, seperti selama Ramadan. Seorang pemilik pabrik menjelaskan, "Plastik datang setiap hari, sedangkan kayu atau sekam kelapa tidak bisa datang secara teratur."
Selain itu, tidak ada permintaan dari konsumen untuk tahu yang diproduksi dengan cara lebih bersih, sehingga tidak ada insentif ekonomi untuk berubah. Seorang warga mengatakan, "Jika mereka mengganti bahan bakar dengan yang lain, harga tahu akan menjadi lebih mahal, dan orang-orang lebih memilih membeli yang murah," mencerminkan prioritas ekonomi di atas kesehatan.
Dr. Dion juga menjelaskan bahwa menyerukan pemeriksaan kadar dioksin pada tahu dan butuh keterlibatan dari pemerintah untuk mengatasinya. Ecoton dan Nexus3 Foundation telah mengadvokasi larangan impor limbah plastik dan pengembangan standar mikroplastik untuk mengurangi dampak polusi.
Praktik pembakaran sampah plastik dalam industri tahu merupakan ancaman serius bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Pencemaran dioksin dan mikroplastik yang dihasilkan memiliki dampak kesehatan yang signifikan dan memerlukan tindakan segera untuk mengurangi atau menghilangkan praktik tersebut. Pemerintah dan pihak terkait perlu mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi masalah ini dan melindungi kesehatan masyarakat serta lingkungan.