Warga Pining Gayo Lues Haru Terima Bantuan Khitanan Massal Gratis Pascabencana
Warga Kecamatan Pining, Gayo Lues, Aceh, merasa sangat terbantu dengan adanya program khitanan massal gratis setelah wilayah mereka dilanda bencana, meringankan beban biaya dan aksesibilitas.
Warga Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, merasakan kelegaan dan keharuan mendalam atas terselenggaranya khitanan massal gratis. Program ini merupakan hasil kolaborasi berbagai unsur relawan dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) setempat. Bantuan ini sangat berarti bagi masyarakat yang tengah berjuang memulihkan diri pascabencana alam.
Akses jalan menuju Kecamatan Pining masih belum sepenuhnya pulih setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda pada akhir November 2025. Kondisi ini membuat mobilitas warga menjadi sangat terbatas dan sulit untuk mengakses layanan kesehatan di luar wilayah mereka. Oleh karena itu, kehadiran tim medis langsung di lokasi menjadi angin segar bagi banyak keluarga.
Selain masalah akses, biaya khitanan yang relatif mahal juga menjadi kendala besar bagi warga yang mata pencariannya belum kembali stabil. Program khitanan gratis ini tidak hanya meringankan beban finansial, tetapi juga memastikan anak-anak di Pining tetap mendapatkan layanan kesehatan esensial di tengah keterbatasan.
Dampak Bencana dan Kebutuhan Mendesak
Bencana banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025 telah meninggalkan dampak signifikan bagi masyarakat Pining. Infrastruktur, termasuk akses jalan, mengalami kerusakan parah sehingga menyulitkan warga untuk bepergian. Kasmawati (29), seorang warga Desa Pertik, mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan ini karena ia tidak perlu bersusah payah membawa anaknya keluar desa untuk berkhitan.
Kasmawati juga menyoroti tingginya biaya khitanan di luar program ini, yang bisa mencapai Rp800 ribu jika memanggil dokter ke rumah. Kondisi ini diperparah dengan mata pencarian warga yang belum pulih, karena sawah dan kebun mereka ikut terbawa arus bencana. Harga jual hasil bumi yang turun dan harga barang kebutuhan pokok yang mahal semakin menambah beban ekonomi keluarga.
Kondisi ekonomi yang sulit pascabencana membuat banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, termasuk layanan kesehatan yang tidak terduga. Bantuan khitanan massal gratis ini menjadi solusi nyata yang sangat dinantikan oleh warga Pining. Program ini menunjukkan kepedulian terhadap kondisi riil masyarakat di daerah terpencil.
Inisiatif Relawan dan IDI Aceh
Ketua IDI Wilayah Aceh, dr. Muntadhar, menjelaskan bahwa layanan khitanan gratis ini merupakan respons atas permintaan langsung dari warga setempat. Aspirasi tersebut disampaikan melalui para relawan yang aktif membantu proses pemulihan di Kecamatan Pining pascabencana. IDI menyatakan kesiapannya untuk membantu masyarakat, terutama di daerah yang sulit dijangkau.
Menurut dr. Muntadhar, banyak warga Pining kesulitan untuk keluar dari daerah mereka, sehingga tim medis memutuskan untuk mendekat dan memberikan layanan langsung. Pendekatan ini memastikan bahwa bantuan dapat menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Inisiatif ini mencerminkan komitmen IDI dan relawan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang merata.
Selain khitanan, program ini juga mencakup pemeriksaan kesehatan umum dan pemeriksaan gigi gratis bagi seluruh masyarakat Kecamatan Pining. Layanan kesehatan terpadu ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi kesehatan warga. Kolaborasi ini menunjukkan sinergi positif antara organisasi profesi kesehatan dan komunitas relawan.
Partisipasi Warga dan Tradisi Lokal
Khitanan massal ini berhasil diikuti oleh 43 anak laki-laki yang berasal dari delapan desa di Kecamatan Pining. Desa-desa tersebut meliputi Desa Pertik, Pintu Rime, Pining, Gajah, Kampung Uring, Pasir Putih, Ekan, dan Pepelah. Partisipasi yang tinggi menunjukkan antusiasme dan kebutuhan besar masyarakat terhadap program ini.
Para peserta khitanan tampil dengan mengenakan pakaian tradisional khas Gayo Lues, lengkap dengan rambut yang kompak dipangkas habis. Ini merupakan bagian dari tradisi turun-temurun di daerah tersebut yang masih dijaga. Tradisi ini menambah nuansa budaya dalam kegiatan sosial yang diselenggarakan.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pemberian layanan kesehatan, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga dan relawan. Semangat gotong royong dan kepedulian sosial terpancar jelas dalam pelaksanaan khitanan massal ini. Keberhasilan acara ini menjadi bukti bahwa kolaborasi dapat membawa dampak positif yang besar bagi masyarakat.
Sumber: AntaraNews