Sejarah Planetarium Jakarta yang Kembali Dibuka Usai 13 Tahun Tutup
Planetarium Jakarta, yang didirikan atas gagasan Soekarno, kini mengalami revitalisasi modern untuk edukasi masyarakat.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara resmi mengaktifkan kembali Planetarium Jakarta yang terletak di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Aktivasi ini menjadi tanda kembalinya fungsi Planetarium setelah lebih dari 13 tahun tidak beroperasi sejak tahun 2012.
Pembangunan Planetarium Jakarta sendiri dimulai pada awal tahun 1960-an. Gagasan ini muncul dari Presiden Soekarno, yang ingin meningkatkan pengetahuan masyarakat Indonesia tentang benda langit.
Planetarium dan Observatorium Jakarta (POJ) dibangun di atas lahan seluas 10 hektar di Cikini, Jakarta Pusat. Setelah rampung, planetarium dibuka untuk umum pada 1 Maret 1969.
Pendirian planetarium ini bertujuan untuk memperkenalkan berbagai fenomena luar angkasa kepada masyarakat. Soekarno berharap, dengan adanya planetarium, bangsa Indonesia dapat terbebas dari takhayul yang sering dikaitkan dengan fenomena langit. Selain itu, planetarium juga berfungsi sebagai sarana wisata pendidikan yang menarik.
Sejak dibuka, Planetarium Jakarta telah menjadi tempat yang penting bagi pendidikan astronomi di Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, planetarium ini mengalami berbagai tantangan, termasuk revitalisasi yang dimulai pada tahun 2019 untuk memperbarui fasilitas dan teknologi yang ada.
Gagasan dan Tujuan Pendirian
Pembangunan Planetarium Jakarta dimulai atas gagasan Presiden Soekarno pada tahun 1964. Soekarno ingin agar masyarakat Indonesia mengenal lebih jauh tentang benda-benda langit dan peristiwa luar angkasa. Dengan adanya planetarium, diharapkan masyarakat dapat berpikir lebih rasional dan tidak terjebak dalam takhayul.
Planetarium ini juga berfungsi untuk meningkatkan pengetahuan tentang tata surya dan galaksi. Selain itu, tujuan pendirian planetarium adalah untuk mengedukasi masyarakat agar tidak mengaitkan fenomena langit dengan malapetaka atau bencana.
Lokasi dan Lahan
Planetarium Jakarta terletak di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, di atas lahan seluas 10 hektar. Sebelumnya, lokasi ini merupakan Kebun Binatang Cikini yang didirikan pada tahun 1864. Kebun binatang ini kemudian dipindahkan ke Ragunan pada tahun 1964 untuk memberi ruang bagi pembangunan planetarium.
Proses Pembangunan dan Pendanaan
Pembangunan Planetarium Jakarta diatur dalam Surat Keputusan Presiden No. 155 tahun 1963. Proyek ini dimulai pada tahun 1964 dan mengalami beberapa kendala, termasuk terhentinya pembangunan akibat suasana politik yang tidak stabil. Namun, pada akhir tahun 1967, pembangunan dilanjutkan dengan dukungan dana dari Pemerintah Daerah DKI Jakarta.
Peresmian dan Pembukaan
Planetarium dan Observatorium Jakarta diresmikan pada 10 November 1968 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Pertunjukan pertama kali dibuka untuk umum pada 1 Maret 1969, yang kemudian dijadikan sebagai hari ulang tahun Planetarium Jakarta.
Modernisasi dan Revitalisasi
Sejak tahun 2019, Planetarium Jakarta telah masuk dalam rencana revitalisasi kawasan Taman Ismail Marzuki. Revitalisasi ini bertujuan untuk memperbarui fasilitas dan teknologi yang ada, termasuk penggantian proyektor dan penataan ulang ruang teater. Planetarium diharapkan menjadi kawasan observatorium luar angkasa yang lebih modern dan interaktif.
Dengan adanya revitalisasi ini, Planetarium Jakarta diharapkan dapat kembali menjadi pusat edukasi astronomi yang menarik bagi masyarakat, terutama generasi muda.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyatakan bahwa pengaktifan planetarium tersebut merupakan langkah dari Pemprov DKI Jakarta untuk menghidupkan kembali fasilitas edukasi publik yang pernah diinisiasi oleh Gubernur DKI Jakarta pada masa Ali Sadikin. "Saya bahagia sekali setelah 13 tahun lebih dari tahun 2012, Planetarium yang digagas oleh Bang Ali Sadikin pada waktu itu, Alhamdulillah hari ini bisa kita hidupkan kembali," ujar Pramono di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada Selasa (23/12).
Planetarium Jakarta kini hadir dengan konsep baru yang berbasis teknologi. Menurut Pramono, pengalaman yang ditawarkan saat ini jauh berbeda, termasuk pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang memungkinkan interaksi lebih baik dengan pengunjung.
"Menurut saya luar biasa. Dulu waktu kecil saya lihat tidak seperti ini, sekarang bagus sekali," tambah Pramono.
Untuk menarik minat generasi muda, Pemprov DKI Jakarta memutuskan untuk menggratiskan kunjungan ke Planetarium Jakarta bagi pelajar selama tiga bulan.