Relawan Sigap Selamatkan Dua Warga Badui Digigit Ular Berbisa di Lebak
Dua Warga Badui Digigit Ular berbisa saat musim panen di ladang huma, relawan Sahabat Relawan Indonesia sigap merujuk ke rumah sakit untuk penanganan medis.
Dua warga Badui di Kabupaten Lebak dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami gigitan ular berbisa. Insiden ini terjadi di tengah aktivitas musim panen yang membuat warga harus berinteraksi lebih dekat dengan habitat ular di ladang. Relawan Sahabat Relawan Indonesia (SRI) bergerak cepat memberikan pertolongan pertama dan merujuk korban untuk penanganan medis lebih lanjut.
Korban gigitan ular tanah tersebut teridentifikasi sebagai Arsunah (25) dari Ciranji Pasir dan Rani (30) dari Gerendeng Desa Kanekes, Kabupaten Lebak. Keduanya kini sedang menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Adjidarmo Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Penanganan medis yang cepat dan tepat diharapkan dapat menyelamatkan jiwa para korban dari efek racun ular berbisa yang mematikan.
Insiden gigitan ular ini seringkali terjadi saat warga Badui aktif membersihkan ladang huma mereka. Populasi ular berbisa banyak bersembunyi di antara daun-daun kering atau tumpukan kayu bakar di area tersebut. Jika habitatnya terusik oleh aktivitas manusia, ular-ular ini dapat menyerang dan mengakibatkan gigitan berbahaya yang memerlukan penanganan medis segera.
Peran Vital Relawan Sahabat Relawan Indonesia (SRI)
Koordinator SRI, Muhammad Arif Kirdiat, menjelaskan bahwa timnya selalu siaga untuk membantu warga Badui yang menjadi korban gigitan ular. Relawan bekerja sama erat dengan puskesmas setempat guna memastikan penanganan awal yang optimal. Apabila kondisi korban memerlukan rujukan ke rumah sakit, relawan akan langsung mendampingi untuk memastikan mereka mendapatkan perawatan medis yang komprehensif.
SRI telah mencatat peningkatan signifikan dalam kasus gigitan ular berbisa di wilayah Badui. Sejak Januari hingga 25 April 2026, tercatat sudah 24 warga Badui yang menjadi korban gigitan ular berbisa. Berkat respons cepat relawan dan rujukan ke RSUD Adjidarmo Rangkasbitung serta RSUD Banten, hingga kini tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Kecepatan penanganan menjadi faktor krusial dalam menyelamatkan nyawa korban.
Sebelum dirujuk ke rumah sakit, para korban seringkali dibawa ke Klinik SRI yang tersebar di beberapa lokasi strategis. Klinik-klinik ini berada di Cijahe, Terminal Binong, dan Terminal Ciboleger, memudahkan akses bagi warga. Selain itu, SRI juga menyediakan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat Badui. Jika warga Badui tidak memiliki Jaminan Kesehatan Nasional Penerima Bantuan Iuran (JKN PBI), relawan akan membantu membuatkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari desa setempat agar mereka tetap bisa mendapatkan penanganan medis tanpa kendala biaya.
Peningkatan Kewaspadaan di Musim Panen
Musim panen merupakan periode yang sangat rawan bagi warga Badui terkait insiden gigitan ular. Selama membersihkan ladang huma, mereka lebih sering berhadapan langsung dengan habitat alami ular. Ular-ular berbisa cenderung bersembunyi di antara dedaunan kering dan tumpukan kayu, sehingga risiko gigitan meningkat drastis saat aktivitas pertanian. Oleh karena itu, kewaspadaan ekstra sangat diperlukan.
Kehadiran relawan SRI sangat diapresiasi oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah desa setempat. Sekretaris Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Medi, menyatakan bahwa pihaknya sangat terbantu dengan adanya relawan SRI. Bantuan ini mencakup layanan pengobatan dan kesehatan gratis yang sangat bermanfaat bagi warganya, terutama di daerah terpencil.
Edukasi mengenai pencegahan gigitan ular dan penanganan pertama yang benar terus diberikan kepada masyarakat. Kolaborasi yang kuat antara relawan, puskesmas, dan pemerintah desa diharapkan dapat terus menekan angka korban gigitan ular di wilayah Badui. Upaya ini penting untuk memastikan keselamatan dan kesehatan seluruh warga Badui yang beraktivitas di ladang mereka.
Sumber: AntaraNews