Modus Perekrutan WNI untuk Jadi Tentara Rusia

Pemerintah Indonesia telah melakukan langkah antisipasi setelah memperoleh informasi mengenai pola perekrutan tersebut.

Ady Anugrahadi
Oleh Ady Anugrahadi - Reporter
Modus Perekrutan WNI untuk Jadi Tentara Rusia
Tentara Ukraina menembakkan sistem artileri Pion ke posisi Rusia dekat Bakhmut, wilayah Donetsk, Ukraina, 16 Desember 2022. Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO dan sejumlah pengamat mengungkapkan perang bisa terjadi dalam beberapa bulan, tahun atau bahkan hingga waktu yang tak terbatas. (AP Photo/LIBKOS, File)

Warga negara Indonesia (WNI) diduga menjadi sasaran perekrutan untuk bergabung dengan militer Rusia melalui tawaran pekerjaan yang disebut sebagai lowongan satuan pengamanan (satpam) dan tenaga administrasi.

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengatakan informasi mengenai modus tersebut diperoleh dari otoritas intelijen Indonesia. Para calon pekerja disebut ditawarkan penghasilan besar sebelum akhirnya dikirim untuk menjadi tentara.

“Jadi kami mendapatkan informasi dari otoritas intelijen kita bahwa perekrutan tentara itu kemudian dilakukan oleh negara pihak ketiga, yang kemudian membuat seolah-olah itu adalah lowongan satuan pengamanan ataupun kemudian tenaga administrasi yang diiming-imingi oleh gaji yang besar,” kata Dasco usai menghadiri Rapat Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Menurut Dasco, WNI yang tertarik dengan tawaran tersebut awalnya mendaftar sebagaimana pelamar pekerjaan pada umumnya. Namun, mereka selanjutnya diarahkan untuk bergabung sebagai tentara Rusia.

“Nah, para WNI ini kemudian mendaftar, lalu kemudian dari situ akhirnya dikirim untuk menjadi tentara. Begitu informasi yang kami dapat,” ujarnya.

Pemerintah Indonesia telah melakukan langkah antisipasi setelah memperoleh informasi mengenai pola perekrutan tersebut.

Otoritas intelijen dan Kementerian Luar Negeri disebut telah berkoordinasi serta mengirimkan utusan ke negara-negara yang berkaitan dengan persoalan tersebut.

“Dan pada saat ini, otoritas intelijen dan Kementerian Luar Negeri sudah melakukan antisipasi, berkoordinasi, dan kemudian mengirimkan utusan kepada negara-negara tersebut,” kata Dasco.

 

Intelijen Ukraina Ungkap Delapan WNI

Informasi mengenai perekrutan WNI untuk kepentingan perang Rusia-Ukraina sebelumnya juga disampaikan Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (SZRU).

SZRU menyebut telah mengidentifikasi delapan WNI yang direkrut Rusia dan dikirim untuk terlibat dalam perang melawan Ukraina.

Dalam keterangannya, SZRU mengatakan Rusia terus memperluas perekrutan warga negara asing untuk memperkuat keterlibatan mereka dalam perang. Indonesia disebut menjadi salah satu negara yang kini menjadi sasaran perekrutan.

“Kremlin kini mencari orang-orang dari Indonesia untuk dikirim ke medan perang. Rusia terus secara sistematis melibatkan warga negara asing dalam perang melawan Ukraina,” demikian pernyataan SZRU.

Delapan WNI yang disebut dalam dokumen SZRU yakni:

  1. Erwanda, lahir 5 Agustus 1988.
  2. Muhammad Syaripudin, lahir 3 Agustus 1994.
  3. Putra Pratama Yuda, lahir 9 Agustus 1997.
  4. Hudri Fadli Ngangun, lahir 17 September 1978.
  5. M. Hadi Maulana, lahir 7 April 1987.
  6. Dwi Kencana Haryanto, lahir 14 Juli 1983.
  7. Wahyu Oktavian Iskandar, lahir 22 Oktober 1985.
  8. Helmi Hakim Nugraha, lahir 27 November 1983.
Rekomendasi