Saat Hutan Terbakar, ke Mana Orangutan Harus Pergi?

Hutan bukan cuma sekadar kumpulan pepohonan untuk orangutan. Hutan menjadi tempat orangutan mencari makan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, berlindung, dan membesarkan anak.

Muhamad Agil Aliansyah
Oleh Muhamad Agil Aliansyah - Reporter
Saat Hutan Terbakar, ke Mana Orangutan Harus Pergi?
<p>Orangutan Kalimantan di Taman Nasional Betung Kerihun. (Dok: KLHK)</p>

Hutan bukan cuma sekadar kumpulan pepohonan untuk orangutan. Hutan menjadi tempat orangutan mencari makan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, berlindung, dan membesarkan anak.

Ketika api mulai membakar hutan, yang hilang bukan hanya pepohonan, tetapi juga rumah dan sumber kehidupan mereka. Ancaman itu kembali membayangi orangutan di Kalimantan Barat ketika musim kemarau meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Di tengah ancaman tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat menempatkan keselamatan orangutan dan habitatnya sebagai salah satu prioritas.

Petugas tidak hanya berjibaku memadamkan api. Mereka juga bersiap jika sewaktu-waktu harus menyelamatkan orangutan yang terjebak atau terancam kebakaran.

Kepala Subbagian Tata Usaha BKSDA Kalimantan Barat Imam Setyo Hartanto mengatakan, langkah penyelamatan hingga translokasi telah disiapkan bagi orangutan yang terdampak maupun berada dalam kondisi terancam.

"Upaya perlindungan dan pelestarian orangutan beserta habitatnya menjadi salah satu prioritas BKSDA Kalimantan Barat. Untuk memastikan keselamatan satwa dilindungi dari dampak puncak musim kemarau dan potensi gangguan habitat, petugas di lapangan terus melakukan pemadaman di area kebakaran hutan dan lahan," kata Imam di Pontianak, Selasa (1/9), demikian dikutip dari Antara.

Ketika Rumah Orangutan Terbakar

Kebakaran hutan membawa persoalan berlapis bagi orangutan. Api dapat menghancurkan pepohonan yang menjadi tempat berlindung sekaligus menghilangkan tumbuhan yang menjadi sumber pakan. Ruang jelajah satwa pun semakin menyempit.

Dalam kondisi habitat yang rusak, orangutan dapat terdorong keluar dari kawasan hutan untuk mencari makanan dan tempat yang lebih aman. Di titik inilah persoalan lain bisa muncul.

Orangutan yang keluar dari habitatnya berpotensi bertemu manusia. Perjumpaan tersebut dapat berkembang menjadi konflik, terutama ketika satwa memasuki kebun atau wilayah permukiman untuk mencari makanan.

Bagi orangutan, keluar dari hutan bukan sekadar perjalanan mencari tempat baru. Itu bisa menjadi perjalanan karena rumah mereka tidak lagi aman.

Pernah Diselamatkan dari Kawasan Kebakaran

Ancaman tersebut bukan sekadar kemungkinan. BKSDA Kalimantan Barat sebelumnya telah melakukan penyelamatan orangutan dari kawasan yang terdampak kebakaran di Kabupaten Ketapang.

Penyelamatan menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko kematian maupun konflik ketika habitat satwa mengalami gangguan. Namun, menyelamatkan satu individu tidak menyelesaikan persoalan yang lebih besar.

Selama hutan terus terdegradasi dan terfragmentasi, ruang hidup orangutan akan semakin terdesak. Karena itu, perlindungan satwa harus berjalan beriringan dengan perlindungan rumahnya.

Kalimantan Barat, Rumah bagi Dua Subspesies

Kalimantan Barat memiliki posisi penting dalam upaya menjaga keberlangsungan orangutan. Wilayah ini menjadi habitat bagi dua subspesies orangutan, yakni Pongo pygmaeus wurmbii dan Pongo pygmaeus pygmaeus.

Di Kabupaten Kapuas Hulu, Pongo pygmaeus pygmaeus, yang dikenal masyarakat Dayak setempat sebagai "Mayas", hidup di sejumlah kawasan penting.

Habitatnya antara lain berada di Taman Nasional Danau Sentarum, Taman Nasional Betung Kerihun, Koridor Labian-Leboyan, hingga bentang alam yang terhubung dengan Batang Ai-Lanjak Entimau di Sarawak, Malaysia. Namun, jumlahnya tidak besar.

Berdasarkan dokumen Population and Habitat Viability Analysis (PHVA) Orangutan 2016, populasi Pongo pygmaeus pygmaeus diperkirakan hanya sekitar 4.520 individu. Sekitar 2.470 individu di antaranya dilaporkan berada di Kabupaten Kapuas Hulu. Angka tersebut menunjukkan betapa pentingnya setiap kawasan yang masih menjadi rumah bagi orangutan.

Mengapa Orangutan Begitu Penting?

Bagi manusia, keberadaan orangutan mungkin terlihat sebagai persoalan konservasi satwa semata. Namun bagi ekosistem hutan, perannya jauh lebih besar.

Akademisi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura, Riyandi, menjelaskan orangutan merupakan salah satu spesies payung (umbrella species).

Sebagai spesies yang membutuhkan wilayah jelajah dan habitat luas, perlindungan terhadap orangutan secara tidak langsung berarti menjaga banyak bagian dari ekosistem yang menjadi tempat hidupnya.

Dengan kata lain, ketika habitat orangutan terlindungi, berbagai tumbuhan dan satwa lain yang hidup di dalam ekosistem yang sama ikut mendapatkan perlindungan.

 

Menjaga Hutan, Menjaga Jalan Pulang

Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Koridor Labian-Leboyan. Kawasan ini berfungsi sebagai jalur penghubung habitat orangutan antara Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum.

Koridor seperti ini penting karena habitat satwa liar tidak selalu berdiri sebagai kawasan hutan yang utuh. Fragmentasi dapat membuat populasi terpisah dan membatasi pergerakan satwa untuk mencari makanan maupun pasangan.

Ketika kebakaran terjadi di kawasan yang telah terfragmentasi, tekanan terhadap orangutan menjadi semakin besar. Hutan yang terbakar berarti berkurangnya sumber pakan. Habitat yang terputus berarti semakin sedikit pilihan bagi satwa untuk berpindah.

Menyelamatkan Orangutan Tidak Bisa Sendirian

BKSDA Kalimantan Barat menyadari bahwa perlindungan orangutan tidak dapat dilakukan pemerintah seorang diri. Masyarakat adat dan komunitas lokal, akademisi, dunia usaha hingga organisasi masyarakat sipil memiliki peran penting.

Masyarakat yang tinggal di sekitar habitat orangutan menjadi bagian terdekat dari upaya perlindungan. Mereka dapat membantu menjaga kawasan sekaligus menjadi mata dan telinga ketika satwa mulai keluar dari habitatnya.

Karena itu, peningkatan kapasitas masyarakat lokal dan masyarakat adat menjadi bagian penting dari konservasi jangka panjang.

Sebelum Api Menjadi Terlambat

Ketika api sudah membesar, pilihan bagi satwa liar semakin sedikit. Orangutan mungkin harus berpindah, mencari sumber makanan yang tersisa, atau keluar dari kawasan hutan yang selama ini menjadi rumahnya. Karena itu, memadamkan kebakaran bukan hanya soal menghentikan api. Ada kehidupan yang harus diselamatkan di balik pepohonan yang terbakar.

Ada sumber makanan yang harus dipertahankan. Ada koridor yang harus tetap terbuka. Dan ada habitat yang harus dijaga agar orangutan tidak perlu meninggalkan rumahnya.

Di Kalimantan Barat, menjaga orangutan pada akhirnya berarti menjaga hutan tetap hidup. Sebab selama hutannya masih ada, orangutan masih memiliki tempat untuk pulang.

 

Rekomendasi