Prabowo Tawarkan Lahan Konservasi Gajah, Pakar UGM 'Warning' Tantangan Terbesarnya
Presiden Prabowo Subianto menyerahkan 90.000 hektare lahan untuk kawasan perlindungan gajah. Kawasan perlindungan gajah ini akan dibangun di Aceh.
Presiden Prabowo Subianto menyerahkan 90.000 hektare lahan untuk kawasan perlindungan gajah. Kawasan perlindungan gajah ini akan dibangun di Aceh.
Terkait rencana Prabowo membuat kawasan perlindungan gajah di Aceh, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM Prof Wisnu Nurcahyo angkat bicara. Wisnu mengapresiasi langkah Prabowo untuk membuat kawasan perlindungan gajah di Aceh.
Wisnu menyebut penyerahan lahan seluas 20.000 hektare saja sudah merupakan langkah luar biasa untuk konservasi gajah. Meski demikian, Wisnu mengingatkan ada hal penting yang jangan sampai dilupakan dalam pembuatan kawasan perlindungan gajah ini.
Wisnu menyebut bahwa efektivitas konservasi tetap bergantung pada kepastian status lahan dan kesesuaian habitat adalah hal penting yang jangan sampai dilupakan dalam pembangunan kawasan perlindungan gajah.
"Kalau ingin dibuat seperti taman nasional akan lebih bagus. Tapi tantangan terbesarnya memang status lahan yang sering tumpang tindih dengan kebun sawit, tambang, dan pemukiman masyarakat," kata Wisnu, Selasa (22/7/2025).
Wisnu menilai konservasi yang ideal harus dilakukan di habitat asli gajah yang masih menyediakan pakan dan air alami, bukan di areal bekas perkebunan atau dekat pemukiman. Selain itu Wisnu juga menekankan pentingnya melibatkan masyarakat lokal dan LSM dalam proses konservasi, selain dukungan dari organisasi seperti WWF.
"Pemerintah sudah punya Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah, tinggal implementasinya. Itu butuh kolaborasi dan pendanaan dari pemerintah, CSR perusahaan, hingga lembaga donor internasional," urai Wisnu.
Wisnu menyoroti terbatasnya anggaran pemerintah untuk konservasi gajah. Ia menyebut banyak anak gajah mati karena virus EEHV, dan gajah dewasa menjadi korban perburuan liar atau jerat.
"Anggaran untuk patroli dan perawatan medis sangat minim. Padahal ini krusial untuk menyelamatkan populasi yang tersisa," tegas Wisnu.
Wisnu berharap agar konservasi gajah menjadi tanggung jawab bersama. Menurutnya, UGM siap berperan melalui riset, edukasi, dan kolaborasi lapangan. Sebab, konservasi tidak cukup dari pemerintah saja, tapi butuh gerakan kolektif semua pihak.
"Dengan langkah berani, kolaborasi nyata, dan dukungan ilmu pengetahuan, konservasi gajah bukan hanya mungkin, tapi perlu menjadi komitmen bersama demi masa depan yang lebih lestari," tutup Wisnu.