Penjelasan Ilmiah Pakar IPB soal Penyebab Cuaca Panas Terik Belakangan Ini
Belakangan ini, cuaca yang panas disebabkan oleh atmosfer yang menyerap radiasi dari medan elektromagnetik.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SS, MSi, menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan fenomena udara panas yang terjadi belakangan ini. Ia menyatakan bahwa fenomena ini terkait dengan proses penyerapan radiasi medan elektromagnetik oleh atmosfer, yang berdampak langsung pada perubahan suhu udara, khususnya di lapisan troposfer bagian bawah.
Menurutnya, "Atmosfer berfungsi sebagai medium yang menerima radiasi dari dua sumber utama, yakni matahari dan bumi. Radiasi dari matahari disebut radiasi gelombang pendek, sementara radiasi dari bumi disebut radiasi gelombang panjang. Keduanya memiliki spektrum absorpsi berbeda," seperti yang dikutip dari laman ipb.ac.id pada Selasa (28/10).
Ia juga menambahkan bahwa radiasi matahari lebih banyak diserap di lapisan stratosfer hingga termosfer, terutama pada spektrum ultraviolet (UV), sementara radiasi gelombang panjang dari permukaan bumi lebih dominan diserap di lapisan troposfer pada spektrum inframerah (IR).
Lebih lanjut, Sonni mengungkapkan bahwa besarnya energi radiasi yang diserap atmosfer sangat bergantung pada kerapatan partikel pengabsorpsi dan intensitas radiasi yang diterima.
"Semakin tinggi konsentrasi partikel pengabsorpsi, semakin besar energi yang terserap, sehingga suhu udara pun meningkat," ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa ada dua faktor utama yang menyebabkan pemanasan udara di lapisan bawah atmosfer. Pertama, peningkatan konsentrasi gas-gas pengabsorpsi radiasi gelombang panjang seperti uap air, karbon dioksida (CO), serta partikel aerosol dari polutan dan debu. Proses ini dikenal sebagai efek rumah kaca, yang menyebabkan panas dari bumi terperangkap di atmosfer.
Dampak Alih Fungsi Lahan
Selanjutnya, perubahan penggunaan lahan yang mengakibatkan lahan hijau beralih fungsi menjadi area terbangun berkontribusi pada peningkatan kapasitas panas permukaan bumi.
Permukaan yang memiliki kapasitas panas rendah, seperti beton dan aspal, cenderung lebih cepat dalam menyerap serta memancarkan panas dibandingkan dengan tanah atau vegetasi.
"Hal ini membuat suhu permukaan meningkat dan memperkuat pemanasan udara di lapisan bawah," tegasnya. Selain itu, posisi astronomis bumi juga berperan dalam variasi radiasi yang diterima. Di bulan Oktober, posisi matahari berada hampir tepat di atas Pulau Jawa dan Bali, sehingga kedua daerah ini menerima radiasi matahari dengan intensitas yang lebih tinggi.
"Fenomena ini merupakan proses fisis yang wajar terjadi setiap tahun. Namun, peningkatan suhu akan terasa lebih ekstrem ketika dipengaruhi oleh perubahan penggunaan lahan dan meningkatnya polutan di atmosfer," ucapnya.
Cuaca Panas Bisa Menyebabkan Heatstroke
Salah satu efek kesehatan yang muncul akibat cuaca panas adalah heatstroke. Menurut informasi yang dipublikasikan oleh laman Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan (Keslan Kemenkes), heatstroke merupakan kondisi yang dicirikan dengan suhu tubuh yang meningkat melebihi 40 derajat celsius dan gangguan pada sistem saraf.
Peningkatan suhu tubuh merupakan salah satu gejala utama dari heatstroke. Jika tidak ditangani dengan segera, suhu tubuh yang tinggi dapat berakibat fatal, menyebabkan kerusakan pada jaringan serta organ tubuh secara bersamaan.
Namun, menurut Zicky Yombana Babeheer, seorang neurolog di RS Mayapada Kuningan, cuaca panas yang terjadi belakangan ini tidak berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya stroke, baik yang disebabkan oleh sumbatan (iskemik) maupun yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak (hemoragik).
"Sebenarnya, cuaca panas enggak berhubungan langsung dengan stroke, ya. Ini masalah panas dingin juga termasuk mitos dalam stroke," ungkap Zicky dalam wawancaranya dengan Health Liputan6.com di Jakarta pada Rabu, 22 Oktober 2025.
Zicky menjelaskan bahwa heatstroke tidak memiliki hubungan langsung dengan stroke iskemik atau hemoragik. "Kalau heatstroke itu enggak ada hubungannya dengan stroke yang kita maksud (iskemik dan hemoragik)," ungkap Zicky.
Ia menambahkan bahwa heatstroke merupakan kondisi yang mirip dengan stroke yang disebabkan oleh suhu lingkungan yang terlalu tinggi. "Heatstroke itu serangan seperti stroke, jadi dia collapse karena terlalu panas. Bisa karena dehidrasi satu, yang kedua bisa karena saking panasnya, pembuluh darahnya melebar," jelas Zicky.
Menurutnya, jika pembuluh darah melebar, maka luas penampang pembuluh darah akan berbanding terbalik dengan tekanan darah.
"Kalau luas penampangnya melebar, maka tekanannya menjadi rendah, otomatis suplai darah ke otak berkurang akhirnya jadi collapse," tuturnya.
Dengan demikian, Zicky menekankan pentingnya menjaga suhu tubuh agar tidak mengalami kondisi berbahaya seperti heatstroke, yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada sistem saraf.