Pengalaman Unik Yono Bakri, Arif Brata, dan Reinold Lawalata Syuting Web Series Gak Konek
Tiga komedian Yono Bakri, Arif Brata, dan Reinold Lawalata berbagi cerita seru di balik layar **Web Series Gak Konek**, proyek debut penyutradaraan Marthino Lio yang disebut "liburan berbayar".
Aktor kenamaan Marthino Lio baru-baru ini membuat gebrakan signifikan dengan menjalani debut penyutradaraan melalui sebuah web series bertajuk "Gak Konek". Serial ini tidak hanya menjadi ajang eksplorasi bakat barunya di balik layar, tetapi juga panggung bagi talenta-talenta Stand Up Comedian Indonesia.
Tiga aktor utama yang menjadi sorotan dalam proyek ini adalah Yono Bakri, Arif Brata, dan Reinold Lawalata, yang dikenal luas di dunia hiburan. Bagi ketiganya, proses syuting "Gak Konek" yang sebagian besar dilakukan pada bulan Agustus lalu terasa jauh dari beban pekerjaan biasa.
Mereka bahkan menyebut pengalaman ini sebagai "liburan berbayar" karena pengambilan lokasi syuting dilakukan di sejumlah destinasi wisata ikonik Provinsi DKI Jakarta. Dari keindahan alami Kepulauan Seribu hingga denyut urban kawasan Blok M, serial ini sekaligus mempromosikan pesona ibu kota.
Kepercayaan pada Visi Marthino Lio
Keputusan Reinold Lawalata untuk bergabung dalam proyek "Gak Konek" menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap visi penyutradaraan Marthino Lio. Reinold mengaku langsung menyanggupi tawaran tersebut, bahkan sebelum menerima skrip cerita yang lengkap. "Belum dikirim skripnya, saya udah bilang, aku mau Bang," ujar Reinold, menggambarkan antusiasmenya.
Senada dengan Reinold, Arif Brata menyampaikan penghormatannya pada sosok Lio di balik layar. Arif melihat Marthino Lio sebagai pribadi yang sangat berbakat di dunia perfilman Indonesia dan memiliki pengaruh besar. Ia menambahkan bahwa cerita yang diusung Lio sangat segar, memperkenalkan Jakarta dengan cara yang unik, dan deretan pemeran yang merupakan teman-teman sejawat semakin memantapkan keputusannya untuk terlibat.
Marthino Lio sendiri menjelaskan bahwa ide menyutradarai "Gak Konek" berawal dari ketidaksengajaan. Ia awalnya hanya diminta rumah produksi untuk merekomendasikan sutradara lain, namun karena jadwal para sineas yang disodorkan tidak cocok, Lio melontarkan ide spontan untuk menggarapnya sendiri. Keterlibatan penuh Lio, sebagai aktor pendukung sekaligus pengarah produksi, memberikan suasana kerja yang dinamis dan kolaboratif.
Proses kreatif web series ini juga didukung oleh naskah yang ditulis oleh Ari Kriting, yang turut berperan penting dalam memberikan masukan untuk pemilihan aktor. Proses syuting serial ini berlangsung sangat cepat, hanya dalam lima hari, berkat kerja keras Director of Photography Umar Setyadi dan asisten sutradara (Astrada) Imaniar Octaviani yang membantu memecah pekerjaan secara efisien. Web series "Gak Konek" sendiri akan ditayangkan dalam tiga episode, masing-masing berdurasi 20 hingga 25 menit.
Petualangan dan Nostalgia di Ibu Kota
Lokasi-lokasi syuting "Gak Konek" dipilih secara strategis dari opsi yang diberikan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta, Andhika Permata, selaku produser eksekutif, beserta stafnya. Alur ceritanya sengaja dirancang secara prosedural, membawa penonton menjelajahi tempat yang berbeda suasana di Jakarta, mulai dari Kepulauan Seribu yang tenang hingga keramaian Blok M.
Dari sekian banyak lokasi, Pulau Seribu dinilai paling berkesan bagi ketiga aktor. Baik Arif, Reinold, maupun Yono, semuanya mengaku baru pertama kali mengunjungi Pulau Seribu. "Yang paling berkesan menurut saya sih Pulau Seribu ya. Ya, karena pertama kali," kata Yono Bakri, yang berasal dari Kalimantan Timur, menunjukkan pengalaman baru yang didapatnya.
Namun, momen unik terjadi saat syuting di kawasan Blok M. "Aku Blok M sih. Hal yang baru, Rumah Hantu," ujar Reinold yang berasal dari Maluku. Cerita unik juga datang dari Arif Brata asal Sulawesi Selatan, yang mengenang Blok M sebagai lokasi berkesan karena ia berbelanja kaset tape di sana. "Aku beli kaset tape Peter Pan sama Sheila On 7, bukan yang diska kompak (CD). Akhirnya belanja di situ. Itu unik sih, yang paling berkesan," kenangnya, menyoroti perpaduan antara lokasi wisata modern dan toko bernuansa nostalgia.
Reinold Lawalata sendiri berharap serial web "Gak Konek" ini dapat memberikan dampak positif, terutama bagi daerah asalnya. Ia berharap pemerintah provinsi di daerahnya terinspirasi untuk mengeksplorasi dan mengekspor tempat-tempat wisata yang ada, melihat potensi promosi wisata melalui media seperti ini.
"Soft Power" dari Indonesia Timur
Sebagai aktor yang mewakili Timur, ketiganya kompak melihat adanya tren positif terhadap budaya dan talenta dari wilayah mereka, yang layak disebut sebagai "soft power" Indonesia. Mereka menyadari bahwa di Jakarta, semua keanekaragaman budaya dan talenta ditampung menjadi satu kesatuan yang harmonis.
Reinold Lawalata menyatakan bahwa Timur memang punya ciri khas tersendiri, namun ia tidak memungkiri bahwa Jakarta adalah tempat semua seniman berkarya. "Semua beranekaragam budaya, suku, ada di Jakarta. Jadi, menurut saya Jakarta sangat welcome dengan para seniman-seniman di luar sana," jelas Reinold, menggambarkan keterbukaan ibu kota.
Kebanggaan juga diungkapkan Yono Bakri. Ia menceritakan bagaimana dahulu, di daerahnya, pikiran tentang Jakarta hanya sebatas Monas. Namun kini, ia dan rekan-rekan seniman lainnya bisa berkarya dan "mengharumkan" nama daerah. "Siapa yang sangka ya muka-muka kayak gini bisa berkarya di Jakarta," kata Yono, menunjukkan rasa syukurnya.
Ketiganya setuju bahwa Timur saat ini adalah "soft power" Indonesia, ditandai dengan banyaknya musisi dan talenta yang muncul dan mendominasi, terutama di platform digital. "Apalagi sekarang TikTok itu dirajain oleh musik-musik Timur. Dan setuju banget kalau di Timur banyak potensi yang bisa membuat harum nama Indonesia," kata Yono, yang bahkan memprediksi bahwa musik-musik Timur berpotensi besar untuk go internasional.
Profesionalisme di Tengah Tantangan Syuting
Di balik suasana komedi petualangan yang menyenangkan, para aktor juga menghadapi tantangan profesionalisme yang tidak mudah. Salah satu adegan mereka diambil gambarnya pada bulan Agustus, tepatnya di dalam bus dan MRT, bertepatan dengan masa berkabung yang mendalam di tingkat nasional.
"Itu pertama kali kami lagi syuting, situasi hati sangat berduka karena ada peristiwa ojol yang dilindas waktu demo kan, tapi kami mencoba profesional juga, komedi juga. Jadi itu sih sangat berkesan," kata Yono, menggambarkan momen sulit tersebut. Situasi ini menuntut mereka untuk tetap fokus pada peran meskipun hati sedang berduka.
Marthino Lio juga mengonfirmasi bahwa syuting di bulan Agustus, saat terjadi aksi demonstrasi 17+8, menjadi salah satu tantangan tersendiri dalam menjalani debutnya sebagai sutradara. "Untungnya itu dua hari terakhir, dua hari terakhir kita syuting di bulan Agustus," kata Lio, bersyukur bahwa momen krusial tersebut terjadi di akhir jadwal.
Marthino Lio dan para kru mencoba mengatasi tantangan itu dengan ketenangan dan fokus penuh menjalani seluruh jadwal secara profesional, hingga syuting pun selesai tepat waktu. Produser Eksekutif Andhika Permata mengatakan produksi "Gak Konek" merupakan kelanjutan dari komitmen Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta dalam mendorong minat wisatawan domestik untuk mengunjungi destinasi lokal. Adapun serial web "Gak Konek" dijadwalkan tayang di dua platform Over-The-Top, RCTI+ pada 10 November dan Catchplay+ pada 20 November.
Sumber: AntaraNews