Pemerintah Genjot Akselerasi Kompetensi Dokter Spesialis Melalui Program Fellowship 1 Tahun
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggalakkan program akselerasi kompetensi dokter spesialis melalui fellowship satu tahun untuk mengejar ketertinggalan layanan kesehatan nasional dan memenuhi kebutuhan tenaga ahli.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan upaya pemerintah dalam mengakselerasi peningkatan kompetensi dokter spesialis. Program ini dijalankan melalui fellowship satu tahun untuk memangkas waktu tunggu pendidikan medis yang dinilai terlalu lama.
Kebijakan ini diambil guna mengejar ketertinggalan layanan kesehatan nasional dibandingkan negara tetangga. Selain itu, langkah ini juga bertujuan mempercepat ketersediaan tenaga ahli pada layanan berteknologi tinggi di Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan Budi saat meninjau Rumah Sakit Kemenkes Surabaya pada Kamis (22/1/2026). Program ini diharapkan mampu mencetak tenaga ahli lebih cepat tanpa mengabaikan kualitas layanan.
Terobosan Program Fellowship Satu Tahun
Program fellowship satu tahun ini menjadi terobosan signifikan dalam pendidikan kedokteran di Indonesia. Sebelumnya, seorang dokter membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mencapai kompetensi penuh sebagai ahli di bidangnya.
Sebagai contoh, untuk menjadi ahli pemasangan ring jantung, dokter harus menempuh pendidikan hingga sekitar 20 tahun. Dengan program ini, pemerintah menargetkan dapat mencetak sekitar 50 hingga 80 tenaga ahli dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Kemenkes menjalankan program fellowship ini bekerja sama dengan kolegium terkait. Kolaborasi ini penting untuk memastikan standar kompetensi tetap terjaga dan selaras dengan kebutuhan layanan kesehatan nasional yang terus berkembang.
Penguasaan Teknologi dan Penguatan Sarana Penunjang
Selain percepatan pendidikan, Kemenkes juga memprioritaskan pembekalan dokter muda dengan penguasaan teknologi kedokteran terkini. Hal ini bertujuan agar kemampuan tenaga medis dalam negeri setara dengan standar internasional.
Menteri Budi berharap dokter-dokter muda memiliki tingkat karya yang sama atau bahkan lebih tinggi kemampuannya. Eksposur terhadap teknologi baru menjadi kunci utama untuk mencapai tujuan tersebut.
Penguatan sarana penunjang di rumah sakit juga menjadi fokus pemerintah, termasuk penyediaan alat diagnosis kanker. Salah satunya adalah PET-SCAN yang kini telah tersedia di 16 kota di Indonesia.
Meskipun biaya layanan kesehatan di dalam negeri jauh lebih kompetitif, keterbatasan alat dan tenaga ahli masih menjadi kendala utama. Oleh karena itu, akselerasi kompetensi dokter spesialis sangat krusial.
Dukungan Lintas Sektoral Menuju Indonesia Emas 2045
Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investasi Khusus (BAPPISUS) RI, Aris Marsudiyanto, menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan ini. Pembangunan rumah sakit bertaraf internasional harus diiringi kualitas sumber daya manusia yang mumpuni.
“Ada alat, tidak ada orang, itu percuma,” ujar Aris, menegaskan pentingnya ketersediaan tenaga ahli. Pemerintah fokus mencetak SDM berkualitas, termasuk melalui peningkatan beasiswa LPDP untuk dokter yang belajar ke luar negeri.
Aris berharap upaya Kemenkes ini dapat mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Generasi emas harus diciptakan, terutama menghadapi bonus demografi pada tahun 2030-2035 di mana manusia produktif akan lebih banyak.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk hidup sehat dan menjadi pintar sebagai bagian dari persiapan menghadapi era tersebut. Akselerasi kompetensi dokter spesialis menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan visi tersebut.
Sumber: AntaraNews