Menko PMK Sebut Gudang Bulog di Sibolga Bukan Dijarah: Saya Saksikan Sendiri
Pratikno menyampaikan warga berkumpul di depan Gudang Bulog untuk mengantre pembagian bantuan beras 5 kilogram.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno menjelaskan soal dugaan aksi penjarahan di Gudang Bulog, Sibolga, Sumatra Utara, yang terjadi pasca terjadi banjir besar. Pratikno menyebut bahwa yang terjadi adalah kerumunan warga yang mengantre menerima bantuan banjir.
Pratikno mengaku dirinya melihat sendiri di lokasi saat peristiwa itu terjadi. Dia menyampaikan warga berkumpul di depan Gudang Bulog untuk mengantre pembagian bantuan beras 5 kilogram.
"Yang kaitan Anda sebut tadi menjarah, saya kebetulan menyaksikan sendiri saat ada kerumuman di depan Gudang Bulog di Sibolga Pandan. Kemudian itu justru masyarakat berkumpul dibagi dengan beras 5 kilogram," jelas Pratikno dalam konferensi pers di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma Jakarta.
Dia menuturkan bahwa pemerintah berusaha meringankan beban masyarakat yang terdampak banjir dengan membagikan bantuan beras. Pratikno kembali menegaskan peristiwa yang terjari sebenarnya adalah pendistribusian bantuan, bukan penjarahan warga.
"Jadi karena masyarakat butuh ya waktu itu terus langsung satu orang dikasih 1. Artinya apa, yang sebenarnya terjadi saat itu di Sibolga pemberian bantuan," jelasnya.
Awal Distribusi Berjalan Baik
Pratikno menyampaikan awalnya pendistribusian bantuan berjalan dengan baik, meski berkerumun. Menurut dia, masyarakat pun langsung meninggalkan Gudang Bulog usai mendapatkan bantuan.
"Kemudian bisa berjalan dengan baik dan awalnya memang berkerumun, kemudian sudah bubar," ucap Pratikno.
Sebelumnya, Sebuah video yang merekam aksi penjarahan di Gudang Bulog Sarudik, Kota Sibolga, pada Sabtu sore, 29 November 2025 viral di media sosial. Dalam rekaman itu, warga terlihat menyerbu gudang dan membawa keluar beras serta minyak goreng.
Kejadian ini diduga buntut dari bencana banjir besar yang melanda Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) pada 24–25 November lalu.
Perum Bulog Kanwil Sumatera Utara (Sumut) buka suara pada Minggu (30/11). Melalui keterangan tertulis, pihaknya menyampaikan kronologi penjarahan.
Perum Bulog Kanwil Sumut mengatakan, banjir yang melanda wilayahnya bukan hanya merendam rumah dan merenggut korban jiwa, tetapi juga memutus jalur logistik.
Akses jalan tertutup longsor, distribusi bahan pangan lumpuh total selama lebih dari tiga hari. Ketika pasokan terhenti dan dapur-dapur tak lagi mengepul, rasa lapar pun mendorong warga bertindak nekat.
Situasi Darurat
Dalam situasi darurat ini, terjadi aksi penjarahan yang dimulai di sejumlah ritel modern di Kota Sibolga. Kondisi tersebut kemudian berlanjut ke Gudang Bulog Sarudik Sibolga.
Massa memaksa masuk dengan merobohkan pagar gerbang, merusak gembok gudang, dan mengambil beras serta minyak goreng yang tersimpan di dalam gudang. Aparat telah berupaya melakukan penghalauan namun massa tidak terkendali karena desakan kebutuhan pangan.
Sebetulnya, Pimpinan Cabang (Pinca) Bulog Sibolga telah berkoordinasi dengan Polres Sibolga dan Kodim Tapanuli Tengah untuk memastikan upaya pengamanan fasilitas gudang Bulog.
Personel dari Polsek dan Koramil sempat ditempatkan di area kompleks Gudang Sarudik. Fokus aparat saat itu lebih diprioritaskan pada penanganan korban dan penanggulangan pasca bencana.
Melihat eskalasi situasi kian mengkhawatirkan, Pimpinan Cabang Bulog Sibolga sempat meminta tambahan personel dari Kodim dan Polresta. Namun sebelum personel tambahan datang, secara tiba-tiba massa berkumpul di depan Gudang Bulog Sarudik Sibolga.