Kenyamanan Lebaran Tanpa Petasan: Bondowoso Jadi Contoh Sukses
Lebaran sering diwarnai petasan, namun tradisi ini membawa risiko. Bondowoso menunjukkan bagaimana **kenyamanan Lebaran tanpa petasan** dapat terwujud, menciptakan suasana damai dan aman bagi masyarakat.
Hari Raya Idul Fitri di Indonesia, yang juga dikenal sebagai Lebaran, seringkali diwarnai dengan berbagai tradisi lokal, termasuk kebiasaan menyalakan petasan atau kembang api. Meskipun asal-usulnya diduga merupakan asimilasi dari budaya masyarakat Tionghoa, praktik ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan.
Namun, munculnya persaingan di tengah semaraknya Lebaran membuat masyarakat sering berlomba menyalakan petasan dan kembang api dengan daya ledak tinggi serta suara yang lebih keras. Kebiasaan ini tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman karena memekakkan telinga, tetapi juga seringkali membawa korban jiwa.
Korban meninggal tidak hanya menimpa masyarakat pengguna, tetapi juga produsen, terutama untuk skala produksi rumahan. Aparat kepolisian telah mengeluarkan larangan pembuatan dan penyalaan petasan, didukung fatwa ulama yang menyatakan hukumnya haram, namun tradisi ini sulit ditinggalkan.
Bahaya Petasan dan Kembang Api di Hari Raya
Tradisi menyalakan petasan dan kembang api, meskipun kerap dianggap sebagai hiburan, menyimpan potensi bahaya serius yang mengancam keselamatan. Suara gelegar yang dihasilkan tidak hanya mengagetkan dan mengganggu ketenangan, tetapi juga dapat menyebabkan trauma bagi sebagian orang.
Beberapa kasus pembuatan petasan rumahan telah mengakibatkan ledakan keras yang menghancurkan sejumlah rumah dan melukai produsen beserta masyarakat sekitar. Tidak jarang insiden semacam ini bahkan merenggut nyawa, menunjukkan betapa berbahayanya aktivitas tersebut.
Selain risiko fisik dan kerusakan material, secara ekonomi, permainan petasan sejatinya sama dengan membakar uang. Kebiasaan ini merupakan perbuatan sia-sia dan merugikan, tidak sejalan dengan nilai-nilai agama, terutama dalam momen Idul Fitri yang merupakan simbol kemenangan melawan hawa nafsu.
Kesadaran Masyarakat dan Peran Pemerintah di Bondowoso
Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, pada Lebaran 2026 ini, menjadi salah satu contoh daerah yang relatif lebih sepi dari suara petasan, khususnya di wilayah perkotaan. Meskipun di beberapa lokasi masih terdengar suara bahan peledak itu, intensitasnya sudah tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.
Masyarakat Bondowoso mengaku lebih nyaman menghadapi kenyataan Lebaran tanpa petasan, karena tidak terganggu dengan suara gelegar yang mengagetkan. Kaum perempuan, khususnya, berharap di masa mendatang tidak ada lagi suara petasan dalam suasana Lebaran.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso, melalui Bupati KH Abdul Hamid Wahid, secara konsisten mengingatkan masyarakat untuk tidak menyalakan, apalagi memproduksi, petasan. Beliau menekankan bahwa aspek mudarat atau kerusakannya jauh lebih besar daripada manfaatnya.
Bupati Hamid bersyukur dan mengapresiasi kesadaran masyarakat di wilayahnya yang mulai berkurang dalam bermain petasan. Hal ini tidak hanya menunjukkan kesadaran akan baik buruknya suatu perbuatan, tetapi juga menjadi indikasi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Menuju Lebaran yang Lebih Damai dan Aman
Meninggalkan kebiasaan menyalakan petasan dan kembang api pada momen Lebaran harus terus digalakkan dan merasuki kesadaran masyarakat secara lebih luas. Jika hal ini terwujud, Lebaran akan menampilkan suasana yang damai, seiring dengan kembalinya jiwa umat Islam ke keadaan fitri atau suci.
Gema takbir yang intinya mengagungkan nama Allah tidak lagi dikotori oleh suara petasan dan kembang api. Para orang tua tidak lagi dihantui oleh ketakutan akan keselamatan anak-anak mereka dari ancaman ledakan petasan.
Secara ekonomi, hukum mengenai ketersediaan dan kebutuhan juga berlaku dalam peredaran petasan serta kembang api. Jika masyarakat berhenti menyalakan petasan, maka produsen pada akhirnya akan menghentikan usahanya, sehingga Lebaran kita tidak lagi dihebohkan dengan kasus ledakan.
Sumber: AntaraNews