Inovasi Tim UI RunSight Harumkan Nama Indonesia di Samsung Solve for Tomorrow Global
Tim Labmino dari Universitas Indonesia (UI) berhasil mengharumkan nama bangsa dengan inovasi kacamata pintar berbasis AI, RunSight, terpilih sebagai Global Ambassador dalam ajang Samsung Solve for Tomorrow.
Tim Labmino dari Universitas Indonesia (UI) sukses menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Mereka terpilih sebagai salah satu dari 10 Global Ambassador dalam ajang Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2025/2026. Keberhasilan ini diraih berkat inovasi kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama RunSight.
RunSight dirancang khusus untuk mendukung penyandang disabilitas visual agar dapat berlari secara mandiri dan aman. Kacamata ini memanfaatkan sensor canggih dan pemrosesan AI untuk menganalisis lingkungan sekitar secara waktu nyata (real time), memberikan panduan jalur, serta memperingatkan pengguna terhadap rintangan yang ada.
Prestasi Tim Labmino ini menjadi sejarah baru bagi Indonesia, menandai pertama kalinya delegasi dari Tanah Air berhasil menembus jajaran Global Ambassador SFT. Indonesia juga menjadi salah satu dari hanya dua negara di kawasan Asia Tenggara dan Oseania (SEAO) yang meraih predikat prestisius ini pada periode 2025/2026.
Kacamata Pintar RunSight: Solusi Inovatif untuk Disabilitas Visual
Inovasi RunSight dari Tim Labmino UI bukan sekadar teknologi canggih, melainkan sebuah solusi nyata yang berorientasi pada pengguna. Kacamata pintar ini memungkinkan penyandang disabilitas visual untuk beraktivitas fisik seperti berlari dengan lebih percaya diri dan aman. Desainnya juga mempertimbangkan aspek kenyamanan dan efisiensi energi, menjadikannya perangkat yang praktis untuk penggunaan sehari-hari.
Pemanfaatan kecerdasan buatan dalam RunSight menjadi kunci utama kemampuannya. Sensor-sensor yang terintegrasi bekerja secara sinergis dengan algoritma AI untuk mendeteksi dan memproses informasi visual dari lingkungan. Hasilnya, pengguna mendapatkan panduan audio atau haptik yang intuitif, membantu mereka menavigasi jalur dan menghindari potensi bahaya secara efektif.
Keberhasilan Tim Labmino dalam mengembangkan RunSight menunjukkan potensi besar inovasi teknologi di Indonesia. Karya ini membuktikan bahwa dengan dukungan yang tepat, talenta muda Indonesia mampu menciptakan solusi yang tidak hanya kompetitif di tingkat global, tetapi juga memberikan dampak sosial yang signifikan bagi masyarakat, khususnya kelompok rentan.
Dukungan Pemerintah dan Perjalanan Menuju Kancah Global
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyambut baik pencapaian membanggakan Tim Labmino UI ini. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Khairul Munadi, menyatakan kebanggaannya atas inovasi generasi muda Indonesia yang mampu bersaing di tingkat global. Menurutnya, prestasi ini adalah bukti nyata bahwa dukungan kampus terhadap eksperimen dan kolaborasi lintas disiplin dapat melahirkan dampak positif bagi masyarakat.
Perjalanan Tim Labmino UI menuju Milan, Italia, pada Februari 2026, dimulai dari seleksi nasional Samsung Solve for Tomorrow pada tahun 2025. Setelah melewati tahap semifinal dan final nasional, mereka berhasil lolos ke seleksi regional Asia Tenggara dan Oseania, hingga akhirnya terpilih dalam seleksi Global. Rangkaian acara di Milan meliputi seremoni penunjukan duta, pameran solusi inovatif, dan kegiatan jejaring internasional yang mempertemukan talenta, investor, serta mitra potensial.
Pemerintah berkomitmen untuk terus mendorong kemitraan antara kampus dan industri, serta hilirisasi inovasi. Khairul Munadi menegaskan bahwa tujuan utama adalah agar solusi seperti RunSight dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat. Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdiktisaintek, Benny Bandanadjadja, menambahkan bahwa kehadiran Tim Labmino di ajang global membuka peluang kolaborasi riset, proyek percontohan, dan akses ke jaringan industri yang lebih luas.
Inspirasi bagi Pendidikan Tinggi dan Inklusivitas
Dari sisi akademik, keberhasilan Tim Labmino menjadi contoh konkret implementasi kurikulum yang memadukan kompetensi teknis seperti AI, hardware, dan IoT. Pendekatan desain berorientasi pengguna (user-centered design) juga menjadi elemen penting dalam pengembangan RunSight. Hal ini menunjukkan pentingnya pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman dan masyarakat.
Kemdiktisaintek berharap pencapaian ini akan memicu lebih banyak inisiatif serupa di perguruan tinggi lain di seluruh Indonesia. Mahasiswa didorong untuk berinovasi tidak hanya demi penghargaan, melainkan untuk menjawab persoalan masyarakat dengan solusi yang dapat direplikasi dan diakses. Tujuannya adalah untuk memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan warga.
Benny Bandanadjadja menekankan bahwa inovasi seperti RunSight tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis mahasiswa, tetapi juga kepedulian mereka terhadap isu inklusivitas dan akses bagi penyandang disabilitas. Capaian ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak mahasiswa di berbagai perguruan tinggi untuk menciptakan inovasi yang berdampak sosial.
Sumber: AntaraNews