Indonesia Perkuat Hilirisasi Logam Tanah Jarang untuk Menopang Teknologi Masa Depan
Kelompok mineral yang menjadi fondasi utama perangkat elektronik, teknologi energi bersih, kendaraan listrik.
BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID ikut merayakan HUT 78 RI yang jatuh pada Kamis 17 Agustus 2023. (dok MIND ID)
(@ 2023 merdeka.com)Indonesia semakin memantapkan langkah strategisnya untuk memasuki peta besar kompetisi teknologi global melalui penguatan hilirisasi mineral kritis, termasuk logam tanah jarang atau rare earth elements (REE).
Kelompok mineral yang menjadi fondasi utama perangkat elektronik, teknologi energi bersih, kendaraan listrik, hingga sistem pertahanan modern ini kini diposisikan pemerintah sebagai komoditas masa depan dengan nilai geopolitik tinggi.
Komoditas
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto, menegaskan REE telah menjadi faktor penentu dalam dinamika hubungan internasional. Nilai strategisnya bahkan telah melampaui fungsi sebagai komoditas industri.
"Tanah jarang sekarang bukan sekadar komoditas. Ini sudah menjadi leverage tawar-menawar dunia. Meredanya konflik Amerika Serikat–China ternyata setelah China melakukan relaksasi terhadap tanah jarang," ujarnya dalam acara Bisnis Indonesia Forum, awal November 2025.
Potensi Besar
Indonesia memiliki potensi cadangan REE yang besar. Pada 2024, tercatat cadangan mencapai 136 juta ton bijih dengan sumber daya logam sebesar 119.000 ton. Namun, potensi itu belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena Indonesia belum mampu memisahkan unsur REE dari mineral ikutan pengolahan timah.
Pakar energi dan pertambangan UGM, Fahmy Radhi, menilai hambatan terbesar Indonesia terletak pada teknologi pemurnian dan kebutuhan investasi yang besar.
"Salah satu langkah jangka pendek yang bisa ditempuh adalah bekerja sama dengan investor atau pemilik teknologi. Namun, perlu dipastikan ada persyaratan transfer pengetahuan dan teknologi, sehingga nantinya Indonesia mampu mengembangkan sendiri,” ujarnya.
Percepatan Hilirisasi
Pemerintah merespons kebutuhan ini dengan menerbitkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 18 Tahun 2025 yang menetapkan BUMN sebagai pelaksana resmi pengusahaan mineral radioaktif dan logam tanah jarang. Kebijakan tersebut mencakup inventarisasi wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) untuk mempercepat tata kelola dan eksplorasi.
Langkah itu sejalan dengan pembentukan Badan Industri Mineral (BIM) pada Agustus 2025 melalui Keppres Nomor 77P Tahun 2025. BIM diberi mandat untuk mengelola dan mengembangkan ekosistem mineral kritis, termasuk REE, sebagai komponen strategis bagi kebutuhan industri nasional.
Sebagai kepanjangan tangan negara, MIND ID mengambil peran penting untuk memperkuat hilirisasi REE agar pengolahan mineral bernilai tinggi dilakukan di dalam negeri.
Riset REE hingga 2027
PT Timah Tbk. (TINS), anggota holding MIND ID, saat ini memfokuskan riset pada keberadaan logam tanah jarang dalam mineral ikutan timah. Penelitian ini menjadi dasar sebelum perusahaan masuk ke tahap produksi komersial.
Riset dilakukan melalui fasilitas pilot plant hingga 2027. Setelah seluruh kualifikasi teknis terpenuhi, TINS menargetkan masuk ke tahap komersialisasi dan industrialisasi pada 2028. Upaya ini diharapkan tidak hanya memperkuat portofolio bisnis perusahaan, tetapi juga menjadikan Bangka Belitung sebagai pusat pengembangan REE nasional.
Masa Depan Teknologi Indonesia
Pengembangan hilirisasi logam tanah jarang menjadi penentu arah Indonesia dalam kompetisi teknologi global. Dengan penyediaan sumber daya, dukungan regulasi, dan penguatan riset industri, Indonesia berpeluang meningkatkan nilai tambah nasional sekaligus memposisikan diri sebagai pemain strategis dalam rantai pasok teknologi masa depan.
Upaya membangun kemampuan teknologi domestic mulai dari pemisahan REE hingga industrialisasi menjadi misi jangka panjang agar Indonesia tidak sekadar menjadi pemasok bahan mentah, tetapi menjadi negara yang menguasai teknologi kunci masa depan.