Hemat Rp300 Juta Setahun! Kemensos Libatkan Masyarakat Natuna Sukseskan Program Atensi, Jadi Pilot Project Nasional
Kementerian Sosial (Kemensos) menggandeng masyarakat Natuna untuk mengoptimalkan Program Atensi Kemensos melalui sistem monitoring berbasis komunitas. Inovasi ini berpotensi menghemat anggaran negara secara signifikan.
Kementerian Sosial (Kemensos) mengambil langkah inovatif dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Langkah ini bertujuan untuk mengoptimalkan pelaksanaan program Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi) di wilayah tersebut. Melalui pendekatan berbasis komunitas, Kemensos berupaya memastikan bantuan sosial tersalurkan secara efektif dan tepat sasaran bagi Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS).
Inisiatif ini diumumkan oleh Kepala Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi Kemensos, Wahyu Dewanto, saat berada di Natuna pada Ahad. Perekrutan masyarakat lokal sebagai "aktor" menjadi tulang punggung metode monitoring dan evaluasi (monev) program Atensi. Para aktor ini akan menjadi perpanjangan tangan Kemensos di lapangan, memastikan program berjalan sesuai kebutuhan riil masyarakat.
Pelatihan bagi para aktor telah dimulai pada Ahad pagi dan akan berlanjut hingga Senin (22/9), membekali mereka dengan pengetahuan teknis. Mereka juga akan diajarkan penggunaan aplikasi khusus untuk pelaporan data dan hasil monev langsung kepada Kemensos. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas penyaluran bantuan sosial di Natuna.
Peran Penting Masyarakat dalam Monitoring Program Atensi
Kemensos secara proaktif merekrut individu dari masyarakat Natuna untuk menjadi "aktor" dalam program Atensi. Para aktor ini memiliki peran krusial sebagai garda terdepan dalam sistem monitoring dan evaluasi berbasis komunitas. Mereka bertugas memantau perkembangan program serta mengevaluasi efektivitas bantuan yang telah disalurkan kepada penerima manfaat.
Selain pemantauan, aktor juga bertanggung jawab untuk mendata kebutuhan konkret para penerima manfaat di lapangan. Informasi ini sangat vital untuk memastikan bahwa bantuan yang diberikan sesuai dengan kondisi dan keperluan aktual. Dengan demikian, program Atensi dapat memberikan dampak yang lebih signifikan dan relevan bagi PPKS.
Sebelum terjun ke lapangan, para aktor menerima pelatihan intensif mengenai metode monev berbasis komunitas. Pelatihan ini juga mencakup pengenalan dan penggunaan aplikasi khusus yang dirancang untuk mempermudah proses pelaporan data. Meskipun besaran uang transportasi masih dalam diskusi, komitmen Kemensos untuk memberdayakan masyarakat lokal terlihat jelas dalam inisiatif ini.
Cakupan dan Anggaran Program Atensi di Natuna
Program Atensi di Natuna telah menunjukkan cakupan yang luas dengan jumlah penerima manfaat yang terus bertambah. Sepanjang tahun 2024, program ini telah menjangkau 251 penerima manfaat dengan total alokasi anggaran sekitar Rp574 juta. Angka ini mencerminkan komitmen Kemensos dalam mendukung kesejahteraan sosial di wilayah tersebut.
Untuk tahun 2025, proyeksi jumlah penerima manfaat program Atensi di Natuna meningkat signifikan menjadi 382 orang. Meskipun jumlah penerima meningkat, alokasi anggaran sedikit disesuaikan menjadi Rp520 juta. Penyesuaian ini mungkin mengindikasikan efisiensi dalam penyaluran atau perubahan prioritas bantuan.
Bantuan yang disalurkan melalui program Atensi sangat beragam, dirancang untuk memenuhi berbagai kebutuhan PPKS. Jenis bantuan meliputi:
Penting untuk dicatat bahwa data penerima manfaat pada tahun 2024 mengacu pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Sementara itu, untuk tahun 2025, Kemensos akan menggunakan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional, khususnya desil satu hingga empat, untuk menjamin ketepatan sasaran bantuan.
Natuna sebagai Pilot Project Nasional
Kabupaten Natuna tidak dipilih secara sembarangan sebagai lokasi implementasi sistem monitoring dan evaluasi berbasis komunitas ini. Menurut Wahyu Dewanto, Natuna dijadikan pilot project karena mewakili wilayah perbatasan dan terluar Indonesia. Selain Natuna, Bekasi juga dipilih sebagai pilot project untuk mewakili wilayah perkotaan, menciptakan perbandingan yang komprehensif.
Keberhasilan metode ini di Natuna dan Bekasi akan menjadi tolok ukur penting bagi Kemensos. Jika terbukti efektif, metode monev berbasis komunitas ini akan diadopsi secara nasional di seluruh wilayah Indonesia. Potensi efisiensi yang ditawarkan oleh pendekatan ini sangat besar, terutama dalam menekan biaya operasional.
Sebelumnya, proses asesmen dan monitoring program Atensi dilakukan dengan mendatangkan tim dari pusat, yang menelan biaya operasional yang sangat besar. Wahyu Dewanto mengungkapkan, "Dalam setahun, biaya asesmen dan monev bisa mencapai Rp300 juta." Dengan adanya para aktor dari masyarakat lokal, biaya tersebut dapat ditekan secara signifikan, menghemat anggaran negara.
Inovasi ini tidak hanya berpotensi menghemat anggaran, tetapi juga memperkuat partisipasi masyarakat dalam program pemerintah. Dengan memberdayakan warga lokal, Kemensos berharap dapat menciptakan sistem yang lebih responsif, akuntabel, dan berkelanjutan dalam penyaluran bantuan sosial di seluruh Indonesia.
Sumber: AntaraNews