Cerita di Balik Julukan Eddie Nalapraya Bapak Pencak Silat Dunia
Eddie dianggap berjasa membawa pencak silat ke panggung dunia.
Mantan Wakil Gubernur Jakarta Mayjen TNI (Purn) Eddie Mardjoeki Nalapraya meninggal dunia pada Selasa (13/5). Dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.
Eddie Nalapraya bukan hanya dikenal seorang perwira tinggi militer dan birokrat. Tetapi juga tokoh sentral yang menjadikan pencak silat sebagai warisan budaya dunia.
Eddie Nalapraya dijuluki Bapak Pencak Silat Dunia. Julukan itu bukan tanpa alasan. Eddie dianggap berjasa membawa pencak silat ke panggung dunia.
Awal Kecintaan Eddie pada Pencak Silat
Kecintaan Eddie terhadap pencak silat berawal dari pengalamannya sebagai pejuang kemerdekaan. Pada usia 16 tahun, dia bergabung dengan Detasemen Garuda Putih saat Agresi Militer Belanda I.
Dalam perjuangannya, dia terinspirasi oleh kemampuan para pejuang yang menggunakan pencak silat dalam melawan penjajah. Sejak saat itu, Eddie mulai menekuni dan bersahabat dengan kalangan pesilat.
Pada Desember 1978, Eddie diminta memimpin Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) cabang Jakarta. Meskipun awalnya ragu, dia menerima amanah tersebut dan berkomitmen menjadikan IPSI sebagai tolok ukur nasional dalam standar teknis dan keunggulan organisasi.
Tantangan besar dihadapinya, termasuk keterbatasan dana, rendahnya minat publik dibandingkan seni bela diri asing, dan ketidakharmonisan antarperguruan silat.
Eddie mengatasi hal ini dengan mendorong dialog antarpendekar, mengadakan kejuaraan rutin, dan mempromosikan pencak silat sebagai alat pembentukan karakter dan pembangunan bangsa.
Pencak Silat Diakui Dunia
Salah satu pencapaian monumental Eddie adalah pendirian Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (PERSILAT) pada Maret 1980. Bersama perwakilan dari Singapura, Malaysia, dan Brunei, dia mendirikan PERSILAT di Jakarta dan menjadi Ketua Presidium pertamanya.
Langkah ini menandai awal perjalanan global pencak silat, yang kemudian menyebar ke Eropa, Amerika, dan Australia. Di bawah kepemimpinannya, PERSILAT dan IPSI bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan kedutaan besar asing untuk mendirikan komisi pencak silat di berbagai negara, termasuk Australia, Filipina, Thailand, Swiss, Belanda, Belgia, Prancis, Jerman, Amerika Serikat, dan Suriname.
Perjuangan Eddie dalam mempopulerkan pencak silat mencapai puncaknya ketika seni bela diri ini diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 12 Desember 2019.
Sebagai Pembina Tim Pencak Silat Road to UNESCO dan Olympic (2014–2019), Eddie memainkan peran penting dalam proses ini. Pengakuan tersebut menegaskan pencak silat sebagai identitas dan pemersatu bangsa Indonesia, serta mengandung nilai-nilai persahabatan dan saling menghormati.
Dapat Penghargaan
Julukan Bapak Pencak Silat Dunia yang disematkan kepada Mayjen TNI (Purn) Eddie Nalapraya merupakan bentuk penghormatan atas dedikasi dan kontribusinya yang luar biasa dalam mengembangkan dan mempromosikan pencak silat di tingkat nasional maupun internasional.
Pengakuan ini datang dari berbagai pihak, termasuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat. Pada 6 September 2022, Ketua Umum KONI Pusat, Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, secara resmi memberikan penghargaan "KONI Lifetime Achievement Award in Sports" kepada Eddie Nalapraya.
Dalam kesempatan tersebut, Marciano menyampaikan apresiasinya atas kerja keras Eddie dalam memasyarakatkan pencak silat ke seluruh dunia, menyebutnya sebagai inspirasi bagi semua.
Selain itu, julukan tersebut juga tercermin dalam berbagai pemberitaan media nasional yang mengakui peran Eddie dalam mendirikan Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (PERSILAT) pada Maret 1980.
Sebagai Ketua Presidium pertama, dia berhasil membawa pencak silat ke panggung internasional, termasuk memperjuangkan pengakuan pencak silat sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO pada 12 Desember 2019.