Butuh Rp1.297 Triliun, Giant Sea Wall Mulai Dilirik Investor China dan Korea
Proyek senilai Rp1.297 triliun ini direncanakan membentang sepanjang 500 kilometer.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan sejumlah investor asing telah menunjukkan ketertarikan untuk terlibat dalam pembangunan Giant Sea Wall (Tanggul Laut Raksasa). Meski belum ada investor utama yang resmi menangani proyek ini, beberapa pihak sudah menyampaikan penawaran secara informal.
"Beberapa (investor) secara informal sudah (menyatakan penawaran). Ada dari Tiongkok, kemudian teman-teman dari Korea kemarin forum Indonesia-Korea sudah menyampaikan ketertarikan," kata Prasetyo di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (17/6).
Proyek senilai Rp1.297 triliun ini direncanakan membentang sepanjang 500 kilometer dari Banten hingga Gresik, dengan tujuan mengatasi banjir rob dan penurunan tanah (subsidence) di Pantura Jawa.
"Setiap tahun terjadi subsidence, turun permukaan tanah kita. Kalau terjadi pasang, warga di pantai utara Jakarta hidup dalam kondisi memprihatinkan," tegasnya.
Butuh Waktu 20 Tahun
Proyek yang masuk rencana Bappenas sejak 1995 ini masih dalam tahap koordinasi lintas kementerian dan pemda, termasuk DKI Jakarta, Banten, dan Jabar.
Prasetyo optimistis pembangunan bisa dimulai tahun ini. "Secepatnya. Kalau bisa, tahun ini sudah bisa," ujarnya seperti dilansir dari Antara.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyebut proyek ini membutuhkan dana $80 miliar (Rp1.297 triliun) dan waktu 20 tahun untuk penyelesaian.
Untuk segmen Teluk Jakarta, pembangunan diperkirakan memakan waktu 8-10 tahun dengan anggaran USD8-10 miliar dari APBD DKI.
Meski baru akan selesai dalam beberapa dekade, Prabowo menegaskan proyek ini vital dan harus segera dimulai. "(Proyek) ini sesuatu mega proyek. Saya tidak tahu Presiden mana yang akan menyelesaikan, tapi kita harus mulai," tutupnya.