Bentrokan Pakistan Afghanistan: Sembilan Orang Tewas, Ketegangan Perbatasan Meningkat
Ketegangan di perbatasan meningkat akibat Bentrokan Pakistan Afghanistan yang menewaskan sembilan orang. Islamabad menuduh Kabul menargetkan warga sipil, sementara Kabul membantah dan menuduh balik Pakistan.
Ketegangan di perbatasan antara Pakistan dan Afghanistan kembali memanas setelah serangkaian bentrokan terbaru. Insiden ini dilaporkan menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai lima belas lainnya. Pakistan menuduh pasukan perbatasan Afghanistan sebagai pemicu kekerasan ini.
Menteri Informasi Islamabad, Attaullah Tarar, mengungkapkan korban tewas termasuk perempuan dan anak-anak. Insiden ini terjadi di distrik suku Bajaur, wilayah barat laut Pakistan. Tarar menyebut tindakan tersebut sebagai penargetan warga sipil tanpa provokasi dan bersifat kriminal.
Bentrokan Pakistan Afghanistan ini menandai peningkatan eskalasi setelah sebelumnya sempat mereda. Kedua belah pihak saling melontarkan tuduhan mengenai pihak yang bertanggung jawab. Klaim dari kedua negara belum dapat diverifikasi secara independen.
Tuduhan Pakistan atas Penargetan Warga Sipil
Pakistan secara tegas menuduh pasukan perbatasan Afghanistan menargetkan warga sipil dalam bentrokan terbaru. Menurut Attaullah Tarar, insiden pada Kamis menyebabkan sembilan orang tewas dan dua belas lainnya terluka. Korban jiwa termasuk perempuan dan anak-anak yang tidak bersalah, seperti yang diungkapkan Tarar di platform media sosial X pada Jumat (1/5).
Tarar juga melaporkan adanya serangan drone quadcopter pada Jumat yang melukai tiga warga sipil. Serangan ini terjadi saat mereka sedang bermain kriket di distrik suku Bajaur. Pakistan mengaitkan serangan ini dengan militan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) yang mereka sebut Fitna Al Khwarij.
Islamabad meyakini TTP didukung oleh Kabul, sebuah tuduhan yang telah berulang kali dibantah oleh Afghanistan. Penargetan warga sipil ini dianggap sebagai pelanggaran berat dan bersifat kriminal. Pakistan menyerukan pertanggungjawaban atas insiden tersebut yang menurutnya dilakukan tanpa provokasi.
Bantahan dan Tuduhan Balik dari Afghanistan
Kabul belum memberikan reaksi langsung terhadap tuduhan Pakistan mengenai bentrokan perbatasan terbaru. Namun, Afghanistan sebelumnya telah membantah keras tuduhan mendukung TTP. Bantahan ini menunjukkan kompleksitas hubungan kedua negara yang sering diwarnai saling tuding.
Pada awal pekan ini, Afghanistan justru menuduh Pakistan melakukan serangan rudal di provinsi Kunar, timur laut Afghanistan. Serangan tersebut diduga menewaskan sedikitnya empat warga sipil dan melukai tujuh puluh orang, termasuk tiga puluh pelajar. Permukiman warga serta Universitas Sayed Jamaluddin Afghani turut menjadi sasaran serangan udara tersebut.
Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menolak tuduhan Kabul sebagai tidak berdasar. Tarar menegaskan bahwa Pakistan hanya menargetkan tempat persembunyian teroris dan infrastruktur pendukungnya. Ia juga menyatakan bahwa Pakistan sangat berhati-hati untuk menghindari korban sipil dalam setiap operasinya.
Sejarah Ketegangan dan Upaya Mediasi
Bentrokan Pakistan Afghanistan bukanlah hal baru dalam hubungan kedua negara yang tegang. Pada Maret lalu, keduanya mengalami beberapa bentrokan perbatasan terburuk yang menewaskan ratusan warga sipil dan militan di kedua sisi perbatasan. Insiden tersebut sempat memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.
Ketegangan pada Maret sempat mereda setelah Kabul dan Islamabad mencapai gencatan senjata. Gencatan senjata ini disepakati pada malam Hari Raya Idul Fitri, salah satu hari besar umat Muslim, pada 18 Maret. Mediasi dari Turki, Arab Saudi, dan Qatar berperan penting dalam mencapai kesepakatan tersebut.
Setelah gencatan senjata, pejabat dari Pakistan dan Afghanistan mengadakan pembicaraan lebih lanjut. Pembicaraan ini berlangsung selama sepekan yang dimediasi oleh Beijing di kota Urumqi, wilayah barat laut China. Pertemuan tersebut bertujuan untuk mencari solusi jangka panjang bagi masalah perbatasan.
Beijing menyatakan bahwa kedua negara sepakat untuk membahas rencana komprehensif. Rencana ini bertujuan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang memengaruhi hubungan bilateral mereka. Namun, bentrokan terbaru menunjukkan bahwa upaya penyelesaian masih menghadapi tantangan serius dan ketegangan dapat kembali muncul kapan saja.
Sumber: AntaraNews