Bangun Ekosistem Olahraga, Menpora Erick Thohir Buka Program TOT Pelatih Atlet Disabilitas di Karanganyar
Pembukaan Kick Off bagi pelatih atlet disabilitas tersebut sebagai langkah strategis untuk membangun ekosistem olahraga disabilitas yang kokoh.
Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir membuka program sertifikasi dan Training of Trainer (TOT) Penggerak Olahraga Disabilitas BERDAYA di Indonesia Paralympic Training Center (IPTC) Desa Delingan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Senin (11/5).
Pembukaan Kick Off bagi pelatih atlet disabilitas tersebut sebagai langkah strategis untuk membangun ekosistem olahraga disabilitas yang kokoh. Turut hadir dalam acara tersebut, Jaksa Agung Muda Intelijen Prof. Dr. Reda Manthovani, Ketua National Paralympic Committee Indonesia, Senny Marbun. Bupati Karanganyar Rober Christanto dan Wali Kota Solo, Respati Ardi beserta tamu undangan lainnya.
Program yang lahir dari kolaborasi Kemenpora, National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, dan para pakar disabilitas ini dirancang untuk mempercepat kehadiran tenaga pelatih berkualitas. Tujuannya untuk menjaring dan membina potensi atlet disabilitas hingga ke pelosok negeri.
Pelatihan intensif tersebut akan berlangsung selama tiga hari, Selasa (12/5) sampai Kamis (14/5), diikuti 200 peserta dari 29 wilayah di Indonesia.
Erick Thohir mengatakan, kehadiran pelatih yang mumpuni merupakan kunci utama mewujudkan olahraga yang inklusif. Tanpa pendampingan yang memahami kekhususan kepelatihan disabilitas, sulit melahirkan atlet berprestasi.
"Kehadiran figur pelatih yang mumpuni merupakan kunci utama. Tidak mungkin pembangunan atlet dari daerah tanpa dikawal figur-figur yang mengerti bagaimana melahirkan atlet. Hari ini kita coba mensertifikasi agar mereka kembali ke daerah menjadi kualifikasi, diterima untuk menjadi pakar kepelatihan," ungkap Erick Thohir.
11 Persen Penyandang Disabilitas Punya Kegemaran Olahraga
Mantan Menteri BUMN menambahkan, dari 22,9 juta penyandang disabilitas di Indonesia, sekitar 11 persen di antaranya memiliki kegemaran berolahraga. Dengan jumlah lebih dari dua juta orang, rasio pelatih yang memadai menjadi kebutuhan mendesak agar bakat-bakat itu tidak terabaikan.
"Makin banyak pelatih makin bagus. Kita berharap jangan ganti menteri ganti program. Program ini harus terus ada karena kita pakai hati, apalagi Bapak Presiden dalam Astacitanya sangat peduli dengan disabilitas," katanya.
Tak hanya fokus pada kepelatihan, kegiatan ini turut memperkenalkan sistem basis data bertajuk Jaga Inklusi Juara. Prof. Reda Manthovani yang juga menjabat Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia untuk Paralimpiade 2024 Paris menyampaikan, sistem ini memungkinkan pemantauan perkembangan atlet secara real-time dari daerah melalui aplikasi yang terhubung langsung ke NPC pusat.
Dampingi Atlet Masuk Purna Tugas
"Sistem ini disiapkan untuk mendampingi atlet yang memasuki masa purna tugas. Ada sekitar 500 atlet tengah dipersiapkan masa pensiunnya agar tetap produktif, baik dengan diarahkan menjadi pelatih melalui TOT maupun menekuni bidang lainnya," katanya.
Ketua Umum NPC Indonesia, Senny Marbun, menambahkan, pihaknya mengapresiasi atas terobosan ini. Ia menilai langkah Kemenpora di bawah kepemimpinan Erick Thohir telah meletakkan fondasi yang kuat bagi masa depan olahraga disabilitas di tanah air.
"Ini salah satu karya Kemenpora yang luar biasa. Baru kali ini ada karya seperti ini, ada fundamental yang dikerjakan beliau di olahraga," pungkas dia.