Anak SD di Semarang Diculik, Korban Alami Syok dan UPTD Lakukan Pendampingan
Usai mengetahui korban mengalami trauma, kemudian dilakukan pendampingan dari Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD).
Anak dibawah umur kelas 3 SD di Kota Semarang, yang menjadi korban penculikan dan pelecehan seksual oleh pemuda berinisial F (22) saat ini mengalami gangguan psikis. Bahkan tidak mau bicara dengan orang lain.
"Korban masih trauma, tidak mau ngomong dengan saya, dan dengan orang tuanya, juga sedikit kali ngomong," kata kuasa hukum korban, Zainal Abidin, Minggu (11/10).
Usai mengetahui korban mengalami trauma, kemudian dilakukan pendampingan dari Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Semarang, bocah SD tersebut sudah mulai sedikit terbuka.
“Setelah ada pendampingan psikolog dari UPTD PPA Pemkot Semarang, sudah dua kali pendampingan. Korban sudah sedikit mulai terbuka, tapi belum bisa menggali secara utuh,” ujarnya.
Pasca kejadian pada Selasa (7/10) lalu, pihak sekolah mengizinkan korban tidak masuk sekolah selama satu pekan atau sampai proses pemulihan psikisnya selesai.
"Ini belum sekolah, diberi waktu untuk menenangkan diri satu minggu oleh pihak sekolahan,” jelasnya.
Pihak kuasa hukum meminta Dinas Pendidikan Kota Semarang untuk membuat surat edaran kepada sekolah TK, SD, dan SMP, yang mengimbau guru untuk mengantarkan anak sampai ke pintu gerbang keluar sampai dijemput orang tua masing-masing.
“Saya berharap Dinas Pendidikan Kota Semarang menyampaikan pesan atau edaran kepada sekolah TK, SD, SMP, supaya guru-guru mengantarkan anak sampa ke pintu gerbang keluar sampai anak itu dijemput, supaya tidak ada korban lain,” ujarnya.
Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar (SD) Dinas Pendidikan Kota Semarang, Aji Nur Setiawan menanggapi kejadian ini, ia mengimbau seluruh sekolah dan orangtua untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap keamanan anak, terutama saat jam pulang sekolah.
"Kami minta orang tua memastikan anak bisa antar jemput keluarga atau kerabat dekat. Kalau tidak memungkinkan, sebaiknya anak pulang bersama teman, jangan sendirian,” kata Aji.
Ia juga meminta pihak sekolah memperkuat pengawasan di lingkungan sekolah, terutama di jam pulang. Upaya pencegahan dini harapannya dapat menghindarkan kejadian serupa terulang kembali
Kejadian ini bermula ketika F mendatangi anak-anak saat pulang sekolah. Pelaku mengaku sebagai mahasiswa dan meminta korban menemaninya untuk membuat tugas biologi dengan membuat video asusila bersama anak-anak SD.
Pada waktu itu, korban diajak keliling ke beberapa lokasi memakai motor, mulai daerah SMKN Jateng, ke Jalan Hasanuddin, Arteri Tanah Mas, Banjir Kanal. Kemudian berhenti dan berpura-pura mengecek bensin sambil membuka handphone di Jalan Kokrosono.
Pelaku yang kesehariannya sebagai tukang potong rambut itu lalu memperlihatkan video asusila terhadap korban sebelumnya. Lantas, korban pun disuruh memijat area vital pelaku dan dijanjikan imbalan uang Rp12.000.
Berikutnya korban dibawa keliling mencari rumah kosong di wilayah Semarang Utara untuk melakukan aksinya. Saat itu korban belum mendapatkan pelecehan, tapi sudah diincar pelaku dengan membawanya ke tempat yang sepi.
Beruntung, pada pukul 18.00 malam, pihak keluarga korban berhasil menemukan pelaku di sekitar SMKN 10 Semarang. Setelah itu, pelaku diamankan di pos keamanan Bendungan Gerak sambil menunggu petugas Polsek Semarang Utara datang.
Pelaku yang sudah menculik dan memaksa korban untuk melakukan perbuatan tak senonoh itu sudah ditahan di Mapolrestabes Semarang.