Dari Motor Pertama, Mimpi Itu Bermula
Tapi bagi warga Makassar ini, itulah awal dari perjalanan panjang mewujudkan banyak hal yang sebelumnya hanya bisa dibayangkan.
Suryady Sinaga masih ingat jelas momen itu. Hari di mana ia membawa pulang sepeda motor Honda Revo pertamanya. Bukan kendaraan mewah, bukan pula keputusan besar. Tapi bagi warga Makassar ini, itulah awal dari perjalanan panjang mewujudkan banyak hal yang sebelumnya hanya bisa dibayangkan.
“Waktu itu saya pilih FIFGROUP karena prosesnya cepat. Nggak pakai ribet,” ujarnya. Dari situ, langkah demi langkah ia ambil. Satu motor, lalu kamera untuk mengejar hobi fotografi. Laptop untuk bekerja. Piano untuk anak tercinta. Semua dicicil, bukan hanya dalam arti keuangan, tapi juga dalam arti waktu, usaha, dan cinta.
Cerita seperti Suryady juga hadir di Bukittinggi, dari seorang penjual bakso keliling bernama Aditya Warnik. Awalnya, ia mendorong gerobak baksonya dari satu sudut kota ke sudut lain. Jarak terbatas, tenaga terkuras. Lalu pada 2011, ia membeli motor Honda Vario lewat pembiayaan.
“Saya modifikasi motornya jadi gerobak keliling. Jadi bisa jualan lebih jauh,” tuturnya. Itu mungkin tampak sepele, tapi bagi Aditya, artinya besar: penghasilan bertambah, pelanggan lebih banyak, dan perlahan-lahan ia bisa membangun usaha yang stabil.
Kini Aditya tak hanya punya gerai bakso sendiri, tapi juga memproduksi bahan bakunya sendiri. Ia sudah 16 kali menggunakan pembiayaan, dan kisah hidupnya membuatnya dinobatkan sebagai juara pertama dalam ajang Apresiasi Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia 2024, kategori “Maju Berkat Pembiayaan”.
Pembiayaan bukan sekadar transaksi
Di balik angka-angka pembiayaan dan laporan keuangan yang seringkali jadi sorotan, ada wajah-wajah seperti Suryady dan Aditya. Orang-orang biasa yang tak menunggu kaya untuk bermimpi, tapi berani memulai meski dengan langkah kecil. Pembiayaan bukan sekadar transaksi bagi mereka. Itu adalah jembatan—dari harapan menuju kenyataan.
Dan mereka bukan satu-satunya. Di berbagai pelosok Indonesia, ribuan cerita serupa terus berjalan. Dari ibu rumah tangga yang ingin punya kulkas untuk menyimpan ASI, sampai pemuda desa yang membeli laptop untuk belajar desain. Ada yang membiayai motor, ada yang cicil barang elektronik, ada yang mulai usaha kecil-kecilan. Semua dengan harapan yang sama: hidup yang lebih baik.
FIFGROUP, dalam hal ini, hadir bukan hanya sebagai lembaga keuangan. Tapi sebagai saksi sunyi perjalanan hidup banyak orang. Selama 36 tahun, mereka ikut menyimak—kadang dari jauh, kadang dari dekat—bagaimana impian itu tumbuh dan menemukan jalannya.
“Kami belajar dari pelanggan kami,” ujar Benny Setiawan, Corporate Planning & Communication Division Head FIFGROUP. “Pembiayaan itu soal kepercayaan. Soal masa depan.”
Kini, di tengah tantangan industri yang makin kompetitif, dan perubahan perilaku konsumen yang makin cepat, nilai-nilai seperti kedekatan, kepercayaan, dan kebermanfaatan justru jadi makin relevan.
Karena pada akhirnya, keberhasilan tak selalu diukur dari saldo rekening. Tapi dari seberapa banyak mimpi yang ikut hidup karena seseorang cukup berani mengambil langkah pertama.