Jejak Satelit Rusia Diduga Mengarah ke Serangan di Arab Saudi

AP melaporkan pola aktivitas satelit Rusia sebelum-serangan terhadap fasilitas minyak dan militer Saudi. AURORAH klaim kecocokan 100 persen.

Septian Deny
Oleh Septian Deny- Reporter
Jejak Satelit Rusia Diduga Mengarah ke Serangan di Arab Saudi
Petugas pemadam kebakaran memeriksa kerusakan bangunan akibat puing-puing drone yang jatuh di Provinsi Taif, Arab Saudi bagian barat, Kamis (17/9/2026). Otoritas Arab Saudi mengatakan drone tersebut diluncurkan oleh kelompok Houthi Yaman dan berhasil dicegat. (Dok. Saudi Press Agency via AP)

Satelit mata-mata Rusia diduga membantu Iran dan kelompok sekutunya membidik infrastruktur minyak serta fasilitas militer Arab Saudi. Aktivitas satelit terpantau meningkat di atas target strategis beberapa hari sebelum dan sesudah rangkaian serangan tersebut, menurut The Associated Press.

Salah satu serangan terjadi bulan lalu ketika milisi yang didukung Iran menghantam stasiun pompa di jalur pipa minyak utama Saudi. Beberapa hari kemudian, serangan lain menyasar pangkalan udara militer dan merusak sebuah jet tempur Italia yang berada di dalam hanggar, dikutip dari APNews.

Perusahaan intelijen geospasial swasta AURORAH Geosignal Intelligence menganalisis 40 serangan rudal dan drone terhadap Arab Saudi oleh Houthi di Yaman dan milisi di Irak yang didukung Iran pada periode 1 Juli hingga 19 Oktober. Dalam seluruh serangan tersebut, perusahaan menemukan pola satelit pemerintah dan militer Rusia yang mengorbit di atas wilayah sasaran selama beberapa hari sebelum dan sesudah serangan.

"Apa yang kami temukan adalah kecocokan 100 persen antara aktivitas satelit dan serangan," kata pendiri AURORAH yang berbasis di Jenewa, Nawaf Obaid.

Temuan ini memperkuat dugaan bahwa Rusia membantu Iran dan sekutunya di kawasan mengumpulkan informasi untuk menargetkan infrastruktur minyak dan militer Saudi. Serangan-serangan tersebut disebut turut mendorong kenaikan harga energi global.

Tiga pejabat, termasuk seorang pejabat Saudi, seorang tokoh senior Houthi, dan seorang analis intelijen swasta, mengatakan kepada AP bahwa Houthi dan sekutu Iran lainnya telah memperoleh manfaat dari intelijen Rusia serta kemampuan China. Menurut laporan AP, para penasihat Iran di lapangan menganalisis informasi tersebut dan meneruskannya kepada kelompok-kelompok sekutu.

Wakil Menteri Luar Negeri Saudi untuk Diplomasi Publik, Rayed Krimly, mengatakan kepada wartawan pekan lalu bahwa Iran dan Houthi menerima informasi intelijen dari "unsur-unsur di Rusia dan China, bahkan terkadang dari unsur komersial".

"Kami secara rutin membahas masalah ini dengan China dan Rusia, dan kami akan terus melakukannya," ujarnya.

Pejabat Rusia belum memberikan tanggapan langsung ketika dimintai komentar mengenai tuduhan tersebut, termasuk temuan AURORAH. Rusia dan Iran telah lama menjalin kerja sama militer, termasuk dalam transfer teknologi drone. Meski tidak terlibat langsung dalam perang-perang di kawasan, pejabat Amerika Serikat dan Eropa menyatakan Moskow telah berbagi informasi intelijen dengan Teheran.

Serangan ke Jalur Pipa Timur–Barat dan Pangkalan Taif

Pada pagi 10 September, sejumlah serangan drone dari Irak menghantam tiga stasiun pompa penting di sepanjang Jalur Pipa Timur–Barat Arab Saudi, mengganggu aliran minyak saat itu juga.

Jalur pipa sepanjang 1.200 kilometer atau sekitar 746 mil ini menjadi alternatif vital menyalurkan minyak mentah ke pasar, terlebih di tengah serangan Iran terhadap pelayaran di Selat Hormuz.

Stasiun-stasiun pompa tersebut diperlukan untuk mendorong minyak melewati dataran tinggi Najd. Elevasi jalur meningkat hingga lebih dari 1.100 meter sebelum kembali menurun ke pesisir Laut Merah.

Obaid, peneliti di Departemen Studi Perang King's College yang pernah menjadi penasihat sejumlah pejabat Saudi pada 2004–2016, menyebut lokasi itu dipilih sebagai sasaran oleh milisi dari Irak.

"Di sinilah milisi dari Irak memutuskan untuk menyerang," katanya.

Menurut Obaid, AURORAH mulai mengamati 11 satelit Rusia seri Cosmos 2600 yang terkonsentrasi di tiga bagian jalur pipa sejak Juli. Frekuensi lintasan meningkat beberapa pekan menjelang serangan dan pada jam-jam di sekitar waktu serangan, menandakan pengintaian sebelum dan sesudah operasi.

Sepekan berselang, Pangkalan Udara King Fahd di Taif dihantam proyektil yang ditembakkan Houthi. Serangan tersebut merusak hanggar dan mengenai sebuah jet tempur Eurofighter Typhoon milik Angkatan Udara Italia, menurut Kementerian Pertahanan Italia.

Militer Italia menempatkan asetnya di Arab Saudi selama bertahun-tahun sebagai bagian operasi koalisi pimpinan AS di Irak dan Suriah.

Pada dua insiden itu, AURORAH mencatat peningkatan 50 persen jumlah satelit Rusia yang mengorbit di atas sasaran dalam rentang 72 jam sebelum dan sesudah serangan dibandingkan dengan kondisi pada Juli.

Obaid menekankan serangan di Taif mengenai pesawat Italia, bukan pesawat Saudi yang ditempatkan di pangkalan yang sama. Menurut dia, hal ini mengindikasikan dukungan intelijen yang sangat spesifik yang tidak dimiliki Houthi dan Iran.

Houthi sebelumnya telah memperingatkan negara-negara asing agar tidak membantu Arab Saudi.

Jejak Satelit Rusia Muncul dalam Pola Pengintaian

AURORAH menggunakan informasi sumber terbuka dan sumber intelijen lainnya untuk mengidentifikasi 72 satelit pengintaian Rusia dari lebih dari 11.000 objek antariksa yang mengorbit Bumi. Perusahaan kemudian melacak lintasan serta manuver satelit dan membandingkannya dengan aktivitas militer di darat.

Obaid menegaskan pihaknya tidak mencegat komunikasi yang membuktikan secara langsung adanya transfer informasi intelijen kepada Iran atau sekutunya. Namun, AURORAH mengidentifikasi pola posisi satelit dan aktivitas pengintaian Rusia di sekitar sasaran strategis menjelang serangan.

Menurut Obaid, pola tersebut menunjukkan adanya pengumpulan informasi yang diduga kemudian diteruskan untuk membantu Houthi dan milisi Irak menentukan target.

Pola serupa juga teridentifikasi terkait serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah selama perang AS–Iran yang dimulai pada Februari.

"Transformasi mendasar dalam keseimbangan militer kawasan adalah sistem intelijen di balik senjata kini menjadi sama pentingnya dengan senjata itu sendiri," kata Obaid.

Adam Marsh, wakil presiden solusi teknologi di Leolabs, perusahaan intelijen orbit berbasis di California, menilai penumpukan satelit seperti yang teramati merupakan pola yang lazim muncul dalam kegiatan pengumpulan intelijen.

Menurut Marsh, Rusia dapat membantah bahwa satelitnya digunakan untuk tujuan tersebut. Namun, ia menyoroti tidak adanya badan pengatur yang berwenang menghentikan aktivitas semacam itu.

"Bagaimana Anda bisa menghentikan siapa pun?" ujarnya.

Dukungan Intelijen Satelit dalam Perang Yaman

Seorang pejabat yang mendapat pengarahan mengenai penyelidikan serangan terbaru di Arab Saudi menyebut informasi intelijen menunjukkan satelit Rusia telah membantu Houthi dan milisi Irak menyerang sejumlah sasaran sensitif, termasuk stasiun pompa di Jalur Pipa Timur–Barat.

Pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonim karena tidak memiliki wewenang memberikan keterangan kepada jurnalis.

Menurut pejabat itu, satelit Rusia juga membantu serangan Iran pada Maret terhadap Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi, yang menyebabkan sebuah pesawat pengintai AS rusak parah. Satelit tersebut juga disebut membantu serangan terhadap unit CIA di dalam kompleks Kedutaan Besar AS di Riyadh.

Penyelidikan turut menemukan rudal dan drone yang digunakan Houthi memiliki komponen buatan Rusia dan China.

Dukungan intelijen satelit Rusia juga disebut membantu Houthi meraih kemajuan signifikan dalam pertempuran melawan kelompok-kelompok yang didukung Arab Saudi dalam perang saudara Yaman, menurut Obaid dan seorang pemimpin Houthi.

AURORAH mengidentifikasi konfigurasi satelit di atas sejumlah target yang berkaitan dengan serangan Houthi pada 15 Oktober terhadap istana kepresidenan di Aden, serta pusat komando di dekatnya yang digunakan koalisi pimpinan Saudi.

Perusahaan itu juga mencatat pola serupa pada serangan terhadap pusat perekrutan pemerintah di Provinsi Shabwa yang menewaskan 75 orang yang baru direkrut.

Seorang pemimpin senior Houthi mengatakan kepada AP bahwa penasihat Iran di lapangan di Yaman memberikan data kepada kelompok pemberontak berdasarkan informasi intelijen satelit Rusia untuk membantu penentuan sasaran. Ia berbicara secara anonim untuk menjelaskan peran rahasia para penasihat.

Mzahem Alsaloum, analis keamanan yang memantau kelompok-kelompok yang didukung Iran selama hampir satu dekade dan kini mengelola perusahaan intelijen swasta, mengatakan para penasihat itu menggunakan informasi satelit mata-mata Rusia untuk menyusun daftar target dan memberikan informasi operasional kepada pihak Iran.

Pemimpin Houthi tersebut juga menyebut Iran menyediakan peralatan yang lebih canggih, termasuk sistem untuk mengendalikan drone dan membantu rudal menghindari pertahanan udara.

Menurut dia, peralatan itu dikembangkan Iran, dibeli secara komersial, atau disediakan oleh Rusia dan China. Namun, ia tidak mengetahui apakah kedua negara tersebut menyadari bahwa peralatan itu digunakan dalam perang di Yaman.

Rekomendasi