Pemimpin oposisi Israel, Avigdor Lieberman, menyerukan agar perang melawan Iran tetap dilanjutkan, bahkan jika Amerika Serikat memutuskan mundur dari konflik.
Pernyataan tersebut disampaikan Lieberman menyusul komentar Presiden AS Donald Trump yang menyebut adanya “pembicaraan konstruktif” dengan Teheran.
“Jika Amerika Serikat keluar dari perang, kita harus tetap melanjutkannya. Dari sudut pandang kami, menggulingkan rezim adalah hal yang penting,” kata Lieberman, yang juga memimpin partai Yisrael Beytenu, seperti dikutip harian Yedioth Ahronoth via Middle East Monitor, Selasa (24/3/2026).
Ia juga melontarkan kritik keras terhadap pemerintah Israel. Dia menilai pemerintah terlalu fokus pada isu legislatif domestik, sementara ancaman keamanan masih terus berlangsung.
“Saat warga di wilayah utara terus mendengar sirene peringatan setiap beberapa menit, parlemen justru membahas perluasan kewenangan pengadilan rabinik. Ini benar-benar tidak masuk akal,” ujarnya.
Advertisement
Trump Tunda Serangan 5 Hari
Di sisi lain, Trump mengumumkan telah memerintahkan penundaan selama lima hari terhadap rencana serangan ke fasilitas pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran.
Keputusan itu diambil setelah berlangsungnya pembicaraan yang disebut “sangat baik dan produktif” antara kedua pihak dalam dua hari terakhir.
“Saya senang melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif mengenai penyelesaian konflik di Timur Tengah,” tulis Trump melalui platform media sosial Truth Social.
Trump menambahkan, berdasarkan perkembangan pembicaraan tersebut, ia menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk menunda seluruh rencana serangan selama lima hari.
Penundaan ini akan bergantung pada hasil negosiasi yang masih berlangsung.
Ketegangan di kawasan sendiri terus meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari.
Hingga kini, konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke Israel, serta ke Jordan, Iraq, dan sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi fasilitas militer Amerika Serikat.
Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan aktivitas penerbangan.