Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman terhadap Iran. Trump mengancam akan memberikan serangan 20 kali lipat jika Iran tetap menutup Selat Hormuz sehingga mengganggu distribusi minyak.
Bukannya takut, Iran langsung merespons. Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran Ali Larijani mengeluarkan peringatan keras, membalas ancaman Trump. Melalui akun X dalam bahasa Persia dan Arab.
"Rakyat Iran yang mencintai Asyura tidak takut akan ancaman kosong Anda; karena mereka yang lebih hebat dari Anda pun gagal menghapusnya. Jadi waspadalah jangan sampai Anda menjadi orang-orang yang lenyap," tulis Larijani dikutip middleeasteye.net, Rabu (11/3).
Larijani menambahkan Selat Hormuz bakal menjadi selat perdamaian dan kemakmuran. "Selat Hormuz akan menjadi Selat perdamaian dan kemakmuran bagi semua atau akan menjadi Selat kekalahan dan penderitaan bagi para penghasut perang."
Ancaman Trump
Sebelumnya, Trump mengunggah di Truth Social pada Senin malam, mengancam akan menyerang Iran dengan keras jika terus menutup Selat Hormuz. "Mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat DUA PULUH KALI LEBIH KERAS daripada yang telah mereka alami sejauh ini," tulisnya.
Trump mengatakan AS akan menyerang target yang akan "membuat hampir mustahil bagi Iran untuk dibangun kembali sebagai sebuah negara". "Kematian, api, dan amarah akan menimpa mereka – tetapi saya berharap, dan berdoa, agar itu tidak terjadi!" katanya, menambahkan bahwa itu akan menjadi hadiah bagi China dan negara-negara yang bergantung pada selat tersebut.
Advertisement
Selat Hormuz Titik Vital Jalur Perdagangan Minyak
Selat Hormuz merupakan saluran maritim sempit, sekitar 33 km pada titik tersempitnya, antara semenanjung Musandam di Oman dan Iran. Selat ini digambarkan sebagai titik hambatan minyak paling signifikan di dunia, dengan sekitar seperlima dari produksi minyak global melewatinya, dan sepertiga dari gas alam cair (LNG) global.
Sekitar 20 juta barel minyak melewati selat tersebut setiap hari, di mana sekitar 14 juta barel adalah minyak mentah dan enam juta barel adalah produk minyak bumi. Sebagian besar Asia menerima gas dan minyak dari negara-negara kaya hidrokarbon di Teluk melalui selat tersebut.
Advertisement
Negara Asia Pengimpor Minyak
Korea Selatan menerima sekitar 70 persen minyak mentahnya dari Timur Tengah, sementara Jepang mengimpor sekitar 90 persen dari wilayah tersebut, dan India sekitar 50 persen.
Indeks pasar Asia anjlok pada hari Senin, sebagian besar didorong oleh penutupan jalur air tersebut.
Larijani menegaskan kembali pada hari Senin bahwa selat tersebut akan terus ditutup oleh Iran jika AS dan Israel melanjutkan serangan mereka terhadap negara tersebut.
Advertisement
Prancis Pesimis Selat Hormuz Bakal Dibuka
Menanggapi unggahan berita di X tentang Prancis yang mengirimkan dua fregat ke Laut Merah untuk membuka kembali jalur air tersebut, kepala keamanan mengatakan: "Kemungkinan besar keamanan tidak akan tercapai di Selat Hormuz di tengah kobaran api yang dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel di wilayah tersebut."
"Terutama jika itu adalah rencana pihak-pihak yang tidak jauh dari mendukung perang ini dan berkontribusi dalam memicu konflik tersebut," tambahnya.