Ousmane Dembele: Dari Dicap Gagal di Barcelona ke Mesin Gol PSG di Final Liga Champions
Ousmane Dembélé memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya sebagai pemain kelas dunia dalam final Liga Champions 2025.
Tim asal Paris, PSG, akan berjuang keras untuk mewujudkan impian meraih trofi Liga Champions. Setelah lebih dari tiga dekade, baru kali ini tim Prancis bersiap untuk meraih gelar juara, mengikuti jejak Marseille. Kunci keberhasilan PSG terletak pada kemampuan mereka untuk mengalahkan Inter Milan dalam laga final Liga Champions 2024/2025 yang akan berlangsung di Allianz Arena, Munich, pada Minggu (1/6/2025) dini hari WIB. Salah satu aset berharga PSG adalah Ousmane Dembele, yang dulunya sering dipandang sebelah mata.
Setelah lama mendapatkan kritik karena ketidakstabilan dalam penyelesaian akhir, Ousmane Dembele kini telah bertransformasi menjadi pencetak gol handal di musim ini. Ia berhasil mencetak 33 gol dalam 45 pertandingan, angka yang melampaui total golnya dalam lima musim sebelumnya. Sangat mengesankan, bukan? Di usianya yang ke-28, pemain yang dijuluki 'intan kasar' dalam dunia sepak bola Prancis ini tengah menunjukkan performa terbaiknya. Oleh karena itu, Inter Milan harus sangat berhati-hati agar tidak terjerat dalam permainan mematikan Dembele.
Perubahan Besar
Metamorfosis Dembele sejalan dengan perubahan besar yang dilakukan oleh Pelatih PSG, Luis Enrique. Enrique berhasil mengubah klub yang dimiliki Qatar ini dari sekadar kumpulan bintang sepak bola yang tidak terorganisir menjadi sebuah tim yang solid dan tangguh.
Kepergian Kylian Mbappé, yang merupakan sisa terakhir dari era 'galactico' PSG, ternyata menjadi berkah terselubung bagi Dembele. Situasi ini menempatkannya sebagai kekuatan utama PSG dalam serangan, mengingat ia memiliki kemampuan luar biasa dengan kedua kakinya yang sama-sama akurat dalam mengumpan dan kuat saat menembak ke gawang lawan.
Menurut France24, transformasi luar biasa Dembele menjadi pencetak gol yang sangat efektif membuka babak baru dalam kariernya yang sebelumnya penuh teka-teki. Berasal dari akademi muda terkenal Stade Rennais, penyerang asal Prancis ini muncul di dunia sepak bola sepuluh tahun lalu sebagai sosok muda yang menjanjikan. Saat itu, ia datang dengan senyuman lebar, kecepatan yang mengesankan, dan sikap santai di lapangan, tetapi tetap 'beringas' saat bermain.
Hingga saat ini, Dembele tetap menjadi pahlawan bagi klub masa kecilnya, Evreux FC. Ia telah membantu klub tersebut keluar dari masalah keuangan pada tahun 2023 dengan memberikan cek sebesar 100.000 euro, yang setara dengan lebih dari Rp 1,7 miliar.
Promosi yang Berkembang
Pada usia 18 tahun, winger berbakat ini dipromosikan ke tim senior Rennes dan segera menarik perhatian di Ligue 1 Prancis dengan torehan 12 gol dan lima assist. Dengan pencapaian ini, dia menjadi pencetak gol terbanyak di kalangan pemain di bawah 20 tahun di lima liga utama Eropa, yang membuat klub-klub besar mulai mengincarnya.
Beberapa hari menjelang ulang tahunnya yang ke-19, Dembl resmi menandatangani kontrak selama lima tahun dengan Borussia Dortmund di Jerman. Untuk mendapatkan pemain muda yang baru menjalani satu musim di level profesional ini, Dortmund harus mengeluarkan dana sebesar 15 juta euro. Pembelian ini terbukti menjadi salah satu yang terbaik dalam sejarah sepak bola.
Timnas Telah Melakukan Debut
Kepindahan Dembl ke Bundesliga bersamaan dengan debutnya di timnas Prancis. Salah satu momen yang kurang mengesankan adalah pertandingan persahabatan melawan Italia, di mana ia hanya memiliki peran kecil dalam kualifikasi Piala Dunia. Namun, di Jerman, penyerang muda ini dengan cepat menjadi favorit di kalangan penggemar "Yellow Wall" Dortmund, mencatatkan 10 gol dan 21 assist dalam musim pertamanya. Dembele juga berhasil mencetak gol di final Piala Jerman melawan Frankfurt, yang menjadi momen bersejarah karena ia mengangkat trofi pertamanya.
Namun, 'Dembouz', julukan yang diberikan di Prancis, sudah mulai memikirkan langkah selanjutnya yang lebih ambisius. Ketika Barcelona menunjukkan ketertarikan untuk merekrutnya, Dembele berusaha keras untuk memaksa transfer tersebut, bahkan sampai bolos latihan. Tindakan ini menunjukkan betapa besarnya keinginannya untuk bergabung dengan klub raksasa Spanyol tersebut dan mengukir prestasi lebih besar di level yang lebih tinggi.
Pengalaman Tidak Menyenangkan
Sikap 'manja' yang ditunjukkan oleh pemain ini meninggalkan dampak negatif di klub Jerman, yang pada akhirnya memutuskan untuk menjualnya dengan harga mencapai 150 juta euro. Ini merupakan nilai yang sepuluh kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah yang mereka bayarkan setahun sebelumnya.
Transfer yang penuh dengan kontroversi ini membuat Dembl tiba di Barcelona dengan status sebagai pembelian termahal kedua dalam sejarah sepak bola. Ia harus menghadapi tantangan besar untuk mengisi posisi Neymar, yang pindah ke PSG. Selama enam tahun berkarier di klub Catalan, Dembl lebih dikenal karena berbagai cedera yang berkepanjangan. Selain itu, media Spanyol juga sering mengeluhkan gaya hidupnya yang dianggap tidak baik.
Tentram
Berbeda dengan banyak temannya, "Dembouz" tidak memiliki ketertarikan pada alkohol, merokok, atau berpesta. Sebaliknya, ia lebih menyukai makanan cepat saji dan menghabiskan waktu bermain video game hingga larut malam. Kebiasaan ini dianggap serius oleh klubnya, sehingga mereka mengirimkan koki pribadi untuk membantunya menjaga pola makan yang lebih sehat. "Saya tidak seperti yang orang katakan. Saya hanya makan kebab saat di rumah di Evreux," ungkap Dembele.
Selain itu, ia juga berjuang untuk menghapus citra sebagai pemain yang ceroboh dan kurang disiplin. Hal ini semakin diperburuk dengan laporan tentang kebiasaannya yang sering terlambat, yang menjadi perhatian Luis Enrique saat ia berada di PSG.
Masa-masa Dembele di La Liga ditandai dengan bakat yang mencolok, namun sering kali dibayangi oleh inkonsistensi dan penyelesaian yang kurang memuaskan. Para penggemar Barcelona tentu tidak akan melupakan momen ketika ia menyia-nyiakan peluang emas melawan Liverpool di Camp Nou pada tahun 2019. Kegagalan tersebut memiliki konsekuensi yang fatal, karena Barcelona harus menghadapi 'Remontada' di Anfield seminggu setelahnya.
Penuh Liku-liku
Karier internasional Ousmane Dembélé juga menunjukkan perjalanan yang penuh liku-liku bersama klub Barcelona. Pada tahun 2018, ia hanya menjadi pemain cadangan saat timnas Prancis meraih gelar juara Piala Dunia, sementara Kylian Mbappé, yang lebih muda satu tahun darinya, mencuri perhatian sebagai bintang dunia. Namun, empat tahun kemudian, ia berkontribusi besar dalam usaha mempertahankan gelar Les Bleus di Qatar, meskipun harus ditarik keluar sebelum babak pertama final setelah melakukan pelanggaran yang berujung pada penalti. Beberapa bulan setelahnya, Dembélé kembali ke Ligue 1 dengan menandatangani kontrak selama lima tahun dengan PSG, menggantikan posisi Neymar yang hengkang.
Musim pertamanya di PSG memang tidak terlalu cemerlang, dengan hanya mencetak lima gol. Namun, dedikasi dan kerja kerasnya di lapangan berhasil merebut hati para penggemar. Sementara itu, Mbappé dan para pemain Galacticos lainnya sudah pergi, Dembélé kini menjadi fokus serangan di bawah asuhan Luis Enrique. "Saya bisa bermain di mana saja: nomor 10, winger, false nine. Kebebasan ini memungkinkan saya mengekspresikan diri sepenuhnya," ungkapnya, seperti yang dilansir oleh Marca.
Bahagia karena ...
Dembele merasa bahagia karena Luis Enrique memberinya kebebasan di lapangan, terutama dalam merancang dan melaksanakan serangan. Saat ini, Dembele hanya membutuhkan satu pertandingan lagi untuk mencapai pencapaian terbesar dalam kariernya di level klub, yaitu meraih gelar Liga Champions.
Satu hal yang patut diperhatikan adalah penampilannya di final Piala Prancis yang berlangsung pekan lalu. Sekali lagi, ia melewatkan beberapa peluang emas, yang mengingatkan publik akan reputasi Dembele yang dikenal 'boros' di depan gawang lawan. Para pendukung PSG yang mendambakan kesuksesan di Eropa akan menantikan pada Minggu (1/6/2025) dini hari WIB, untuk mengetahui apakah teka-teki mengenai Dembele benar-benar akan terpecahkan.
Sumber : Marca, France24