Tahukah Anda? Industri Keramik Swasembada RI Siap Dukung Pembangunan 3 Juta Rumah
Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menyatakan industri keramik swasembada mampu memenuhi kebutuhan domestik dan siap mendukung program 3 juta rumah, namun butuh dukungan pemerintah.
Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mengumumkan bahwa industri keramik nasional telah mencapai swasembada. Dengan kapasitas produksi mencapai 62 juta meter persegi, sektor ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik tetapi juga siap menjadi tulang punggung dalam menyukseskan program pembangunan 3 juta unit rumah yang dicanangkan pemerintah.
Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto, di Jakarta pada hari Selasa. Menurutnya, kemampuan swasembada ini menandakan bahwa Indonesia tidak lagi bergantung pada produk impor untuk keramik. Kesiapan industri ini menjadi modal penting untuk mendukung inisiatif strategis pemerintah di sektor perumahan.
Meskipun demikian, Asaki menekankan bahwa keberlanjutan daya saing industri keramik sangat bergantung pada dukungan konkret dari pemerintah. Dua isu utama yang menjadi perhatian adalah kelancaran pasokan gas bumi dan perlindungan dari gempuran produk impor yang masif di pasar domestik.
Dukungan Industri Keramik untuk Program 3 Juta Rumah
Industri keramik Indonesia telah membuktikan kemampuannya dalam memenuhi permintaan pasar lokal. Dengan total produksi yang signifikan, Asaki mengklaim bahwa sektor ini siap berkontribusi penuh pada program pemerintah.
"Artinya, kita mampu melakukan substitusi untuk produk impor, dan yang paling terpenting, dengan tambahan kapasitas baru, kita siap menyukseskan program pembangunan 3 juta unit rumah yang menjadi program unggulan Presiden Prabowo," kata Ketua Umum Asaki Edy Suyanto.
Kapasitas produksi sebesar 62 juta meter persegi ini menjadi indikator kuat bahwa industri keramik tidak akan kesulitan dalam menyediakan bahan baku esensial untuk pembangunan perumahan. Keberadaan pasokan domestik yang melimpah juga diharapkan dapat menjaga stabilitas harga material bangunan.
Peningkatan utilisasi industri keramik menjadi 71 persen pada semester I 2025, naik dari 60 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya, menunjukkan geliat positif. Kenaikan ini berbanding lurus dengan pertumbuhan produksi sekitar 16,5 persen.
Tantangan Pasokan Gas dan Serbuan Impor Keramik
Di balik capaian swasembada, industri keramik menghadapi sejumlah tantangan serius yang dapat menghambat pertumbuhan. Salah satu kendala utama adalah pasokan gas bumi yang belum optimal, khususnya di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur.
Asaki menyoroti bahwa suplai gas untuk industri keramik dalam program harga gas bumi tertentu (HGBT) masih belum mencapai target. Akibatnya, banyak pelaku industri terpaksa membeli gas dengan harga yang lebih tinggi melalui skema tambahan biaya distribusi (agit), yang secara signifikan meningkatkan ongkos produksi.
"Suplai gas kami minta di posisi 85 persen. Meskipun kami tahu, untuk mencapai 100 persen itu memang membutuhkan effort lebih," terang Edy Suyanto. Permintaan ini menunjukkan betapa krusialnya pasokan gas yang stabil dan terjangkau bagi daya saing industri.
Selain masalah gas, industri keramik juga dihadapkan pada persaingan ketat dari produk impor, terutama dari India. Kondisi ini diperparah oleh dampak perang tarif global yang menyebabkan produk keramik impor membanjiri pasar Indonesia, dengan peningkatan impor dari India mencapai 130 persen pada lima bulan pertama tahun 2025.
Usulan DMO Gas dan Kinerja Industri Terkini
Untuk mengatasi tantangan pasokan gas dan menjaga stabilitas harga energi, Asaki mengusulkan penerapan kebijakan domestic market obligation (DMO) untuk sektor gas bumi. Kebijakan ini diharapkan dapat meniru keberhasilan DMO pada komoditas batu bara.
Menurut asosiasi, DMO gas bumi akan membantu menjaga stabilitas pasokan dan harga energi bagi industri dalam negeri. Langkah ini dianggap vital untuk mempertahankan daya saing produk keramik Indonesia di tengah gempuran impor dan biaya produksi yang tinggi.
Meskipun utilisasi industri keramik naik menjadi 71 persen pada semester I 2025, capaian ini masih di bawah target Asaki yang sebesar 75 persen. Faktor utama yang menyebabkan target tidak tercapai adalah masalah suplai gas yang tidak sesuai ketentuan, harga gas yang tidak stabil, serta lonjakan produk impor keramik dari India.
Pemerintah diharapkan dapat memberikan perhatian serius terhadap usulan dan keluhan Asaki. Dengan dukungan yang tepat, industri keramik nasional dapat terus tumbuh, menciptakan lapangan kerja, dan berkontribusi lebih besar pada perekonomian serta program pembangunan nasional.
Sumber: AntaraNews