Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung demonstrasi Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kabupaten Gorontalo pada Rabu (24/6), dalam rangkaian Pekan Nasional (PENAS) KTNA XVII. Kunjungan ini menunjukkan komitmen pemerintah terhadap peningkatan produktivitas pertanian nasional. PM-AAS merupakan pendekatan budi daya inovatif yang dikembangkan Kementerian Pertanian untuk mencapai swasembada pangan.
Sistem PM-AAS diklaim mampu mendorong hasil panen padi hingga lebih dari 10 ton, bahkan mencapai 12,4 ton per hektare pada sejumlah uji lapangan. Angka ini jauh melampaui produktivitas rata-rata nasional yang berkisar lima hingga enam ton gabah per hektare. Peningkatan signifikan ini diharapkan dapat menjaga ketahanan pangan nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor beras.
Inovasi ini menjadi instrumen penting dalam strategi pemerintah untuk terus meningkatkan produksi beras nasional yang telah menunjukkan surplus dalam dua tahun terakhir. Presiden Prabowo menekankan pentingnya sosialisasi dan penerapan PM-AAS secara luas kepada petani di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah mewujudkan swasembada di setiap tingkatan wilayah, dari desa hingga provinsi.
Advertisement
Advertisement
Inovasi PM-AAS untuk Produktivitas Berlipat
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa PM-AAS bukanlah teknologi impor, melainkan hasil riset dan pengujian lapangan selama hampir dua tahun. Sistem ini menggabungkan pengalaman budi daya lokal dengan praktik pertanian modern dari berbagai negara. Fondasi utamanya tetap menggunakan sistem jajar legowo yang telah dikenal petani Indonesia secara turun temurun.
Kementerian Pertanian mengadopsi teknik budi daya dari Arkansas, Amerika Serikat, serta pendekatan pertanian presisi yang berkembang di China. Kombinasi ini melahirkan tiga prinsip utama PM-AAS. Prinsip-prinsip tersebut meliputi optimasi fotosintesis melalui pengaturan jarak tanam pola 4:1 dan 6:1, peningkatan populasi tanaman bertahap, serta efisiensi penggunaan benih, pupuk, dan air.
Di lapangan, PM-AAS diwujudkan melalui metode tanam benih langsung dengan populasi tanaman yang lebih padat, namun tetap menjaga sirkulasi udara dan cahaya matahari. Kepadatan tanaman dapat meningkat dua hingga tiga kali lipat dibandingkan pola konvensional. Dosis pemupukan juga disesuaikan hingga sekitar satu setengah kali rekomendasi standar untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman.
Advertisement
Pendekatan ini menunjukkan bahwa peningkatan hasil panen tidak hanya bergantung pada penambahan luas lahan. Produktivitas dapat didorong melalui rekayasa sistem budi daya yang lebih efisien, selama tetap mempertimbangkan karakteristik tanaman dan kondisi lingkungan setempat.
Advertisement
Strategi Ketahanan Pangan Nasional dan Visi Lumbung Pangan
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi beras Indonesia sepanjang 2025 mencapai 34,69 juta ton atau meningkat lebih dari empat juta ton dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan sekitar 13 persen ini merupakan salah satu peningkatan terbesar dalam satu dekade terakhir dan telah melampaui kebutuhan konsumsi nasional yang berada pada kisaran 30 hingga 31 juta ton per tahun.
Menteri Pertanian bahkan menyebut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar keempat di dunia dengan produksi sekitar 38 juta ton. Capaian ini merupakan hasil kombinasi berbagai kebijakan pemerintah. Kebijakan tersebut mencakup penggunaan benih unggul, rehabilitasi jaringan irigasi, mekanisasi pertanian, optimalisasi lahan rawa, hingga perluasan areal tanam.
PM-AAS dipandang sebagai tahapan berikutnya dalam strategi peningkatan produktivitas nasional setelah produksi menunjukkan surplus. Pemerintah kini berfokus pada bagaimana menghasilkan lebih banyak gabah dari lahan yang sama tanpa terus bergantung pada pembukaan areal baru. Kunjungan Presiden Prabowo ke Gorontalo menegaskan visi untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan.
Advertisement
Presiden Prabowo secara tegas menginginkan teknologi PM-AAS diperkenalkan kepada petani di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah agar setiap desa, kecamatan, kabupaten, dan provinsi dapat mencapai swasembada pangan. Bahkan, diharapkan beberapa provinsi dapat memproduksi untuk ekspor ke daerah lain.
Advertisement
Tantangan dan Adaptasi PM-AAS di Berbagai Wilayah
Untuk menguji efektivitas PM-AAS, Kementerian Pertanian menugaskan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) sebagai pelaksana utama pengembangannya. Sebanyak 15 BRMP tingkat provinsi kini menjalankan berbagai demplot di sejumlah daerah. Contohnya, Banten menjadi provinsi ketiga dengan target areal 100 hektare, sementara Kalimantan Selatan mengembangkan di Tabalong (60 hektare) dan Barito Kuala (50 hektare).
Demplot-demplot ini berfungsi sebagai laboratorium lapangan untuk melihat adaptasi teknologi PM-AAS pada kondisi agroekosistem yang berbeda. Tantangan terbesar PM-AAS berada di luar petak demonstrasi. Keberhasilan di lahan percontohan harus mampu direplikasi secara konsisten di jutaan hektare sawah Indonesia.
Indonesia memiliki sekitar 7,4 juta hektare lahan sawah dengan karakteristik yang sangat beragam, mulai dari irigasi teknis di Pulau Jawa hingga lahan rawa pasang surut di Sumatera dan Kalimantan. Sistem budi daya yang berhasil di satu wilayah belum tentu memberikan hasil serupa di wilayah lain tanpa penyesuaian.
Advertisement
Meskipun demikian, PM-AAS sejak awal dirancang sebagai sistem yang adaptif terhadap beragamnya faktor geografis Indonesia. Prinsip-prinsip utamanya dapat diterapkan secara fleksibel sesuai kondisi masing-masing daerah. Hal ini memastikan PM-AAS tidak menjadi paket teknologi yang seragam, melainkan dapat disesuaikan untuk mencapai transformasi pertanian nasional yang lebih luas.
Sumber: AntaraNews