Sri Mulyani Sebut Daya Beli Masyarakat Masih Positif, Ekonomi Tumbuh 5 Persen Tahun 2025

Pertumbuhan itu juga didorong oleh stimulus ekonomi, implementasi program strategis, dukungan bagi sektor prioritas, serta bantalan untuk sektor yang rentan.

Tira Santia
Oleh Tira Santia - Reporter
Sri Mulyani Sebut Daya Beli Masyarakat Masih Positif, Ekonomi Tumbuh 5 Persen Tahun 2025
Sri Mulyani Sebut Daya Beli Masyarakat Masih Positif, Ekonomi Tumbuh 5 Persen Tahun 2025 (Merdeka.com)

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2025 tetap terjaga untuk menjadi landasan bagi ekonomi di tahun 2025 tumbuh di sekitar 5 persen.

Menteri Keuangan sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Sri Mulyani Indrawati, dalam konferensi pers KSSK, di Gedung LPS mengatakan, hal itu tercermin dari konsumsi dan daya beli yang masih positif serta aktivitas dunia usaha yang resilien. Kemudian didukung oleh peran APBN dalam menjalankan fungsi alokasi, distribusi, dan stabilisasi.

Pertumbuhan itu juga didorong oleh stimulus ekonomi, implementasi program strategis, dukungan bagi sektor prioritas, serta bantalan untuk sektor yang rentan terus diberikan pemerintah. Selain itu, ekspor tetap kuat dengan mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD15,38 miliar ytd per Mei 2025.

Dari sisi moneter, BI menurunkan suku bunga, melonggarkan likuiditas, dan meningkatkan insentif likuiditas makroprudensial untuk mendorong kredit/pembiayaan ke sektor-sektor prioritas.

"Ke depan, respons bauran kebijakan ekonomi nasional akan terus ditingkatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk aktif menjajaki potensi kerja sama, baik bilateral maupun multilateral," ujarnya.

Sri Mulyani mengatakan, keberhasilan negosiasi penurunan tarif resiprokal AS untuk Indonesia menjadi 19 persen diperkirakan akan menopang kinerja sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur.

Di sisi lain, implementasi tarif impor 0 persen atas produk asal AS diperkirakan mendorong harga produk migas dan pangan domestik lebih rendah.

Selain itu, perkembangan risiko rambatan perlu terus dicermati, termasuk kinerja sektor manufaktur yang masih menunjukkan  kontraksi di sepanjang triwulan II 2025.

"Ke depan, peran swasta sebagai motor pertumbuhan juga akan terus didorong melalui percepatan deregulasi, termasuk peran Danantara dipastikan berjalan optimal," ujarnya.

Adapun Menkeu menyampaikan Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) pada triwulan II-2025 tetap terjaga di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Ketidakpastian global terutama dipengaruhi oleh dinamika negosiasi tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan eskalasi ketegangan geopolitik.

Dengan telah tercapainya kesepakatan negosiasi tarif resiprokal AS dengan sejumlah negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai tetap diperlukan penguatan kewaspadaan serta respons kebijakan yang efektif.

Rekomendasi